Chapter 12: All I Ask of You

2.9K 415 104
                                        

Sosok lelaki empunya handphone itu telah kembali. Ia menempatkan dirinya di kursi yang semula ia duduki. Aku sengaja tak berbicara apa-apa, mengira ia akan segera menanyakan keberadaan handphone-nya. Tetapi ia tak menggubris mengenai hal itu.

"Why aren't you eating?" ia melempar pertanyaan kepadaku ketika matanya mendapatkanku yang diam di bawah meja, tak menyentuh peralatan makan.

"I want to ask something to you."

"About what?"

Aku segera memberikan handphone miliknya yang sedari tadi ada di tanganku. Tentu saja layar nya sudah mati. Jadi aku memintanya untuk melihat pesan masuknya. Tetapi keningnya segera mengerut, "Can you explain about it?"

"It must have been sent to the wrong number."

"No, this message is obviously sent for you. There's no such thing as coincidence for the bruise you got and the one who sent the message about beating you up in the same day."

"I told you, I fell." ia masih bersikukuh dengan alasannya.

"Fell because someone beat you up?" aku pun masih bersikukuh untuk membuatnya memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi.

"What do you want to do if the message is really sent for me? You can do nothing about it."

"Then it is real! Who did it?"

"None of your business."

"Okay, I think I will just go inform school about this. They can just drop that someone out as they find out." aku memancingnya dengan sebuah ancaman secara tidak langsung untuk membuatnya memberitahukan hal itu. Padahal, aku tak mungkin melaporkannya kepada sekolah. Aku bukan tipe orang pengadu.

"You can't do that!" ia berseru dengan matanya yang melebar "You'll put someone in a great danger."

Seruannya bagai sebuah bel yang memberikan tanda yang jelas. Ia tak seharusnya panik jika tak benar-benar ada orang yang memukulinya. Ia salah dalam hal itu, "Then I'm right, you lied. I can't believe you lied about it. I thought you would come clean."

"I know, I lied to you." ia akhirnya mengakuinya meski terdengar jelas dari nada bicaranya bahwa ia keberatan "I'm sorry. But I don't want to make it such a big deal because it's passed. It's useless if I tell. He said not to tell anybody, then I'm trying not to do so. There are just so many better things to do than telling about what's clearly passed."

Aku mungkin terlalu memaksakannya untuk memberitahuku sementara aku tak memikirkan mengenai dirinya. Padahal bisa saja ia tidak memberitahu karena trauma atau suatu hal lain yang membuatnya tidak nyaman. Aku sendiri sering melakukan itu. Aku sungguh telah berlaku jahat kepadanya.

"Sorry. I'm being too selfish. I was just hoping you would tell the truth about it but it seems like I'm pushing it too hard."

"It's all fine, Skyler."

"I just want you to know that I care about you just as you care about me. I want to help you just like you helped me." aku segera menimpalinya. Aku ingin ia tahu bahwa ketika aku memaksanya tadi, aku hanya ingin agar ia terhindar dari segala kemungkinan yang bisa membahayakan dirinya.

Ia memberikan sebuah senyuman, tangannya menyentuh punggung tanganku dan menggenggamnya. Aku bungkam, terdiam dalam posisiku. Hanya jantung yang bergerak, berdetak kencang. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi kepadaku, juga alasan jantungku berdetak begitu cepat.

"I like how you show your careness." ia menatapku untuk beberapa saat. Semuanya semakin terasa janggal. Aku tak tahu bagaimana membuat perasaan janggal itu hilang. Aku pun hanya diam hingga ia memanggil namaku, "Skyler, I..."

The NewComerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang