Chapter 21: Two of Us

3.7K 367 304
                                        

Sepulang dari Bali, sekolah terlihat tak begitu ramai. Aku percaya itu karena banyak yang merasa terlalu lelah. Kami sampai di Bogor pada tengah malam, malah bisa dibilang pagi. Kembali ke gedung sekolah di hari Sabtu dengan kantuk yang luar biasa bukanlah sebuah pilihan yang menyenangkan, tetapi aku tetap masuk untuk jaga-jaga jika ada pengumuman atau suatu hal penting. Lagipula jadwal di hari Sabtu hanyalah ekstrakulikuler.

Ekstrakulikulerku adalah Bina Olah Suara. Pembimbingnya bukanlah Bu Bertha, tetapi Pak Muchtar yang sebenarnya tak mengajar di sekolahku. Semua anggotanya perempuan, entah kenapa jarang sekali lelaki yang mengikuti Bina Olah Suara ini. Mungkin mereka lebih memilih olahraga dan beladiri atau sesuatu seperti pencinta alam.

Aku pun sebenarnya memilih ekskul ini karena aku tak tahu lagi apa yang bisa kupilih. Aku tak begitu menyukai kegiatan yang menguras banyak tenaga dan aku suka bernyanyi meski tak memiliki suara yang merdu bak penyanyi. Jadi kurasa tak ada salahnya memilih ekskul ini. Walaupun aku sering kali minder ketika harus tampil di depan banyak orang. Maksudku, bayangkan saja tampil setelah orang-orang bersuara indah seperti Jelita, kak Gita dan yang lainnya. Tetapi tentu saja, kak Gita sudah tidak mengikuti kegiatan ekskul karena sudah kelas dua belas.

Seluruh anggota berkumpul di depan panggung pada ruang seni suara di lantai tiga pada gedung yang terpisah dari gedung yang terdiri ruang kelas. Pak Muchtar memberikan instruksi kegiatan ekskul hari ini yang ternyata sama seperti pertemuan yang lalu, yaitu bernyanyi duet. Aku harus jujur, aku sedikit kesal jika latihan duet mulai dirutinkan. Masalahnya karena suaraku yang tak begitu bagus, aku selalu menjadi pilihan terakhir.

"Skyler, kamu nyanyi sendirian aja kalo nggak dapet pasangan." saran pak Muchtar.

"Iya pak, aku sendirian aja." anggukku, menerima sarannya.

"Lagu apa nih?"

"Apa dong pak? Kehabisan lagu nih, nggak kepikiran."

"Lagu barat, ya? Lagu itu aja tuh kemarin baru bapak masukkin ke keyboard. Siapa, tuh? Shiren... Eh bukan..." pak Muchtar menyentuh dahinya. Ia kebingungan dan berusaha mengingat nama penyanyi yang ia maksud. Sementara aku mengerutkan kening karena tak kunjung terpikirkan namanya.

"Siapa pak? Shiren? Shiren Sungkar? Indonesia itu mah." elakku.

"Ih! Lain Shiren Sungkar, Sky. Atuh Shiren Sungkar mah bapak juga tau itu Indonesia. Itu tuh yang cowok. Let's go apa tuh judul lagunya. Let's go... Let's go house."

"Ya ampun, pak!" aku menghela saat akhirnya menyadari yang dimaksud pak Muchtar. "Lego House? Ed Sheeran?"

"Iya itu, mau nggak?"

"Boleh pak, boleh."

"Yaudah buruan naik ke panggung." tangan pak Muchtar mulai mengutak-atik beberapa tombol keyboard sambil memerintahkanku untuk ke panggung.

Aku naik ke panggung tanpa banyak bicara lagi, dengan mengambil microphone yang tergeletak di sebuah meja di dekat panggung ruangan yang tak terlalu besar itu. Musik lah yang memberikanku aba-aba untuk mulai bernyanyi. Karena menyukai lagunya, aku menjadi tak peduli jika aku tak mendapat pasangan duet. Tetapi kefokusanku hilang seketika saat menyadari kehadiran seorang lelaki yang bersandar di pinggiran pintu ruangan kesenian. Ia tersenyum, memperhatikanku bernyanyi. Sungguh menghilangkan konsentrasi.

"Harry, masuk, masuk!" suruh pak Muchtar sambil mengarahkan tangannya ke dalam, ia terlihat yakin betul bahwa Harry mengerti ucapannya.

"Masuk?" tanya Harry yang berbicara mengikuti kata yang diucap pak Muchtar tanpa kehilangan aksen British-nya. "Come in?"

The NewComerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang