Chapter 37: Take Flight

2.2K 291 223
                                        

Now Playing: Photograph - Ed Sheeran

.

Langit masih gelap, matahari masih belum menampakan dirinya. Bandara Soekarno-Hatta di pagi buta bisa terbilang ramai. Dingin nya suhu pagi membuat ku berkali-kali menggosokan kedua tanganku dan memasukan nya ke kantong secara bergantian. Pakaian tipis milik Anne yang ku kenakan membuat suhu dingin semakin terasa.

Menunggu barang-barang milik Harry dan Anne ditata di atas troli, tiba-tiba telah terlingkar lengan lelaki itu di sekitar pinggang ku. Harry melakukannya dari belakang. Aku membalik, membuat lengannya terlepas dari tubuhku. Namun, langsung menggenggam kedua tangannya segera setelahnya.

Kedua indera penglihatan ku bergerak mengamati sosok lelaki tinggi di hadapanku. Dari ujung kaki hingga ujung rambut. Semuanya terlihat sempurna di mataku. Aku sangat menyayangkan kenyataan bahwa kesempurnaan itu tak bisa ku nikmati lebih lama lagi.

"So, you're going?" tanyaku pelan, mengamati wajah pucatnya.

"I have no choice." Harry merengut, mengeluarkan hembusan nafas.

"Why does it have to be this soon?" gumamku pelan.

"I have the same question too, Skyler." sahut Harry yang ternyata mendengar gumam ku. Salah satu tangannya berpindah ke pipiku. Beberapa detik kemudian mulai terasa gesekan halus dari tangannya di pipiku. Aku menatap matanya, mata yang menerawang. "It feels like yesterday. It feels like yesterday we were in front of the class, introducing to each other."

Dalam sekejap, ingatanku membawa memori lama antara aku dan sosok di hadapanku ini. Saat pertama bertemu, ia datang bersama seberkas cahaya sinar mentari pagi yang membuat rambut coklat dan mata hijaunya lebih terang, menjelaskan bagaimana pucatnya kulitnya, juga menciptakan siluet daripadanya. Ia rupawan. Namun, walau ia rupawan dan matahari telah berusaha keras menghantarkan panasnya, semua itu tak mengubah dinginnya hatiku saat itu.

"It feels like yesterday, I cried my heart out, wishing you could just walk out of my life." sambungku sambil mengingat segala kejadiannya, betapa konyolnya keinginan itu terdengar.

"It feels like yesterday, seeing you cry and feeling nothing but wanting to comfort you."

Segala hal yang telah ia lakukan. Mendapatkan wajah yang membiru karena harus menerima pukulan yang entah bagaimana itu terjadi. Berpanas-panasan di lapangan saat upacara. Bahkan, ia rela meminta kepala sekolah untuk tak melibatkan aku dalam sanksi kasus kami. Ia telah membiarkan dirinya berada dalam sebuah kesengsaraan hanya untuk menyembunyikan hal itu.

Entah apakah marah atau haru yang mendominasi. Aku membencinya untuk menyembunyikan semua itu. Aku membencinya karena telah membuat dirinya sendiri jatuh ke dalam bahaya. Namun, jika ia membiarkan semuanya begitu saja, aku pasti tak akan tahu apa yang harus ku lakukan untuk menghadapi kemungkinan buruk yang ada.

"It feels like yesterday when my heart beat faster, giving up my first kiss to you." jantungku seolah bekerja sama bersama otak ku. Otak mengingatkannya kepada bagaimana ia bekerja dengan cepat saat itu dan ia melakukannya lagi sekarang. Aku memejamkan mataku sembari menarik nafas, "It feels like yesterday when you came to change my mind, to change everything."

"It all feels like yesterday." tutupnya. Satu tangan yang tadi mengelus pipiku kini kembali menggaman tanganku. Genggamannya menguat dan aku tak ingin ia melepaskannya. Setelah detik bisu, Harry pun buka mulut. "Skyler I'm so sorry."

Sebuah maaf yang terluncur dari bibirnya membuat kening ku mengerut seketika, "What's a sorry for?"

"I've caused too many problems. I should've not bothered to come and make your simple life ruined. It's been such drama, I know you can't stand it yourself."

The NewComerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang