Chapter 38: Come Home

2.3K 285 219
                                        

Hari silih berganti, telepon tak kunjung berdering. Bahkan, angin pun seolah tak pernah membawakan sehembus pun kabar tentangnya. Paras indahnya, suara merdunya, kata-kata yang keluar dari mulutnya. Semuanya hanya dapat kubayangkan bersama apa yang tersisa. Hari silih berganti dan aku masih terus menanti kedatangannya.

Setiap pergantian hari membawa perubahan kepadaku. Termasuk pula Garry. Aku sempat berbicara kepadanya mengenai laporan ciuman itu, ia tak mengelak. Mungkin aku membencinya karena melapor. Karena itu lah orang-orang menyudutkanku. Karena itu lah Harry pergi. Karena itu lah kami sekarang berada di belahan dunia yang berbeda. Tetapi pada kenyataannya, bagaimana pun aku marah kepadanya, aku tetap salah. Aku harus menerima apa yang telah terjadi itu.

Pergantian hari menghantarkanku kepada pergantian kelas. Bahkan pergantian kelas pun sudah akan menghampiri. Bulan November, hari pertama. Kurang lebih satu bulan hingga ujian semester tiba. Namun, sebelum menghadapi bulan ujian itu, para osis menjalankan salah satu program kerjanya, pentas seni.

Untuk informasi, pentas seni di sekolah ku tak pernah mengundang penyanyi tersohor untuk menjadi hiburan. Pentas seni tujuannya untuk mengembangkan seni dan kreatifitas murid, kata guru pembimbing osis. Meski tak mengundang penyanyi tersohor pada pensi, sekolah memiliki event lain yang dikhususkan untuk mengundang orang-orang di bidang entertainment. Jadi hal itu tak pernah menjadi masalah.

"Skyler, please dong lo gantiin Jelita buat tampil di pensi ini, sekali aja." mohon Cyntia sambil menggerak-gerakan tanganku. Pandangannya lalu terarah kepada perempuan yang namanya ia sebut tadi. "Suara dia beneran abis, kasian. Ini kan pensi terakhir, Sky."

"T-tapi gue belum latihan. Nanti kalo sumbang malu-maluin kelas." elak ku tanpa kata tidak. Aku bisa bernyanyi, semua orang bisa bernyanyi. Hanya saja aku tak cukup percaya diri untuk bernyanyi di depan banyak orang sendirian. Ekskul Bina Olah Suara pun tak menjaminnya. Aku biasanya hanya ikut tampil di dalam paduan suaranya jika ada acara, bukan solo.

"Eh anjir! Skyler, buruan! Nanti kelas kita di dis nih dari pensi!" protes Calvin dengan nada yang meninggi, terlihat panik.

"Najis nih parah banget buat kelas atuh lu teh kapan lagi." ujar Evan yang raut wajahnya menampakkan kekesalan. Ku sempatkan untuk melihat raut wajah murid di kelas lainnya, ternyata tak beda jauh. Mereka kesal dan aku tak tahu harus bagaimana.

"Gila lo, jahat banget Sky." geleng Melati.

"Skyler nggak solid lo najis." tuduh Yogi.

"Ih ng-nggak gitu!" bantahku yang mulai merasa terpojokan. Tentu saja aku ingin melakukan suatu hal untuk kelasku. Namun, aku benar-benar tak yakin. "Sama siapa gitu kek nyanyinya. Jangan sendirian."

"Skyler kan ikutan Bina Olah Suara, pasti bisa lah." ujar Gareth yang nada bicaranya lebih terkesan seperti memberi semangat dengan lembut.

"Kelas XII IPA 3! Dihitung mundur 10 detik, kalau nggak ada yang maju juga bakal di dis langsung ya." peringat perempuan satu angkatan ku -Febri- yang berbicara lewat microphone di atas panggung. "Sepuluh... Sembilan... Delapan..."

"Skyler, maju, bego!" suruh Evan.

"Enam... Lima"

"Nyanyi lagu apa?!" tanyaku agak berteriak karena panik.

"Empat..."

"Apa aja! Buru anjir! Kampret!" umpat Yogi, gemas.

"Tiga... Dua... Sa.."

Aku pun bergerak cepat ke dekat panggung. Lalu ku angkat tanganku, "A-ada, aku, aku perwakilannya."

"Oh, ada nih Skyler." kata Febri sambil membantuku naik panggung.

The NewComerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang