❗TANDAI TYPO❗
•
•
•
بسم الله الرحمن الرحيم
🌧️
Pagi-pagi sekali Sasya sudah mengelilingi rumah mewah dengan cat warna putih ini. Shaka yang sedang duduk di kursi makan pun inisiatif bertanya, "Lu nyari apaan, Cil?"
Sasya menarik kursi samping Shaka, perempuan yang berusia sepuluh tahun itu menelungkupkan kepalanya di meja makan. "Ikan cupang yang Abang kasih ilang." Raut wajah gadis kecil itu menjadi sedih.
Shaka mengelus kepala Sasya yang tertutup oleh hijab warna hitam itu dengan lembut. "Sabar, ya. Nanti kita beli lagi aja gimana?" Shaka beranjak, dia ingin mengambil keripik singkong di rak, rak-nya berada di sebelah Jihan yang sedang memasak.
Shaka berhenti tepat di belakang Jihan, ketika netra coklatnya melihat sesuatu yang tampak mencolok.
"Ngapain?" tanya Galang ketika melihat gelagat Shaka yang mencurigakan.
Bagaimana tidak? Anak itu menatap Galang sembari tersenyum menggoda.
"Sasya, ikan cupang-nya pindah ke leher Bunda," ujar Shaka.
Sasya langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum semangat, jauh berbeda dengan Galang yang langsung menutup leher Jihan menggunakan rambut.
"A–apaan?" Bunda mereka seperti orang linglung yang tak tahu apa-apa.
Arka dan Arsha hanya diam. Dalam hati mereka menahan tawanya.
"Ikan cupang-nya mana, Bang?!" tanya Sasya bersemangat.
Galang segera menyentuh bahu Sasya, dan mengalihkan perhatiannya. "Nggak ada, Sayang. Kemaren Ayah liat ikan cupang-nya diambil kucing."
"Tapi kata Bang Shaka, ikan cupang-nya ada di leher Bun—"
Galang langsung menutup mulut Sasya menggunakan jari telunjuknya. "Enggak ada, Bang Shaka bohong," ujar Galang melirik Shaka dengan tajam.
***
"Bang, liat ini, deh." Sasya menunjukkan slime buatannya kepada Shaka yang sedang bermain PlayStation.
Lelaki itu melirik sekilas, kemudian dia melanjutkan permainannya.
Sasya merasa ucapannya tak diindahkan oleh Shaka. Dia melempar slime yang masih terbungkus oleh wadah itu ke lantai dengan kasar.
"Iiih, Abang, mah!" Sasya menekuk bibirnya ke bawah. Dia bersiap akan menangis, tapi, dengan cepat, Shaka menarik Sasya. Lelaki itu mengabaikan PlayStation-nya, dan fokus kepada adik kecilnya.
"Kenapa, hmm?" Shaka mengurung tubuh mungil Sasya menggunakan kakinya. Dia memeluk Sasya dari belakang dengan erat.
"Abangnya cuekin Sasya. Males ah sama Abang."
Shaka menaruh dagunya di pundak Sasya, kemudian berujar, "Jangan, dong. Sasya jangan marah sama Abang."
"Abangnya bikin kesel!" ujar Sasya setengah berteriak. Dia berbalik dan langsung memeluk tubuh tegap Shaka. Gadis kecil itu menangis di pelukan Shaka.
Lelaki yang mengenakan kolor warna merah itu mengelus kepala Sasya dengan lembut. "Hey? Udah, ya? Jangan nangis dong." Shaka berusaha berbicara lembut kepada Sasya.
"Enggak mauuu!" balas Sasya. Suaranya tenggelam oleh suara isak tangis.
"Maafin Abang, ya? Sasya mau apa? Nanti Abang beliin. Asal berhenti dulu nangisnya." Shaka tak berhenti untuk mengelus kepala Sasya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka, Arsha, dan Arshaka [END]
Teen Fiction#Arsenio S2 ❗Sequel GALANG: Perfect Husband❗ *** Ini tentang kedua anak kembar yang sifatnya cuek. Namanya Arka dan Arsha. Shaka selalu membuat orang kesal karena tingkah lakunya. Bisa dibilang, hobi Shaka itu mengganggu orang lain. Sebenarnya mudah...
![Arka, Arsha, dan Arshaka [END]](https://img.wattpad.com/cover/272293114-64-k105750.jpg)