Chapter 19

1.5K 228 4
                                        

❗TANDAI TYPO❗



بسم الله الرحمن الرحيم

🌧️

Shaka dan Arsha baru saja turun dari mobil. Mereka ke sini diantar oleh Mang Diman sampai di lobi rumah sakit.

Shaka menyuruh Arsha untuk duduk. Sedangkan dia akan ke meja resepsionis. Sembari menunggu Shaka, Arsha memikirkan, penyakit apa yang disembunyikan oleh Shaka? Apakah penyakitnya parah?

Tak sampai dua menit, Shaka sudah kembali. Lelaki itu mengajak Arsha untuk duduk sembari menunggu giliran. Cukup banyak yang mengantre, rata-rata dari mereka juga didampingi, tidak seperti Shaka yang biasanya hanya sendiri. Tapi kali ini ada Arsha yang menemaninya.

"Ka? Lu sakit apa, sih?"

"Sssttt, diem, deh. Lu nanya mulu. Nanti juga tau," balas Shaka.

Arsha mendengkus sebal. Sepertinya akan lama menunggu giliran Shaka yang masuk. Jika Arsha hanya diam, dia pasti akan merasa bosan.

"Bosen?" tanya Shaka.

"Pake nanya, lagi. Udah pasti bosen, lah!"

"Jalan-jalan dulu mau, nggak?" tawar Shaka. Sebenarnya, Shaka juga sudah bosan jika setiap bulan dia harus ke sini, tapi, demi kesehatannya, dia rela melawan rasa bosan itu.

"Ke mana?"

"Ke taman, mau?"

"Giliran lo masih lama, kan?" tanya Arsha. Takut jika mereka keluar sebentar, giliran Shaka yang masuk, jadi tertinggal.

Shaka menatap nomor urutnya sebentar, kemudian kembali menatap kakak tercintanya. "Lumayan," jawab Shaka. "Udah, ayok!" Shaka menarik lengan Arsha. Mau tak mau, Arsha mengikuti ke mana Shaka melangkah.

Taman rumah sakit tak terlalu jauh letaknya. Jadi, cukup berjalan kurang lebih lima menit, mereka sudah sampai di taman rumah sakit. Shaka mengajak Arsha untuk duduk di kursi panjang. Di taman rumah sakit ini banyak orang sakit yang sedang berjalan-jalan.

Arsha sedikit bersyukur, karena dia masih diberikan tubuh yang sehat. Jadi, selagi tubuh dia masih sehat, dia harus menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Dia juga jadi teringat ucapan ayahnya kala itu. "Mau se-sibuk apapun kamu, jangan pernah ninggalin sholat. Yang kamu butuh itu Allah, bukan Allah yang butuh kamu."

"Kak?"

"Kak?!"

Arsha terperanjat. "A–apaan, sih?!"

"Lagian gua panggil nggak nyaut-nyaut. Jangan ngelamun, nanti ketempelan penunggu rumah sakit."

"I–iya, enggak, kok."

"Kak?" panggil Shaka.

"Hmm?"

"Mau eskrim, nggak?"

Ardha yang semula sedang melihat sekeliling pun langsung menolehkan kepalanya ke arah Shaka. "Di mana?"

"Tuh." Tangannya menunjuk ke mini market di seberang sana. "Mau?"

"Boleh, eskrim yang biasa, ya, Ka," pesan Arsha.

Lelaki yang mengenakan sepatu Converse warna putih itu langsung pergi dari hadapan Arsha untuk ke mini market di seberang sana.

Untuk menghilangkan kebosanan, Arsha membuka ponselnya. Beberapa notifikasi muncul, ketika perempuan itu menyalakan data-nya, salahsatunya dari Galang.

Arka, Arsha, dan Arshaka [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang