Chapter 27

1.6K 218 9
                                        

Harap follow akun instagram saya terlebih dahulu🙏
@amelia_fitriyanii
@wattpad_amlftryn

<3

❗TANDAI TYPO❗



بسم الله الرحمن الرحيم

🌧️

Sore ini, Angkasa berniat untuk menemui seseorang di suatu tempat. Ia telah membuat janji dengan orang itu, dia membuat janji untuk datang ke sini sekitar pukul setengah empat sore, tapi Angkasa telah menunggu sekitar lima menit di sini, orang yang ada janji dengan dia belum juga datang.

Angkasa berdecak malas, ia melihat arlojinya. "Tuh orang ke mana, sih?! Ngaret banget!"

"Heyyo, Bro!"

Orang yang ditunggu datang juga, Angkasa langsung merubah wajahnya menjadi datar.

"Gue telat, ya? Sorry."

Angkasa berbalik, dan menatap wajah orang itu dengan datar sembari melipat tangannya di depan dada. "Tujuan lo kemaren apa?" tanya Angkasa berusaha masih santai, walau di dalam hati, ada rasa ingin meninju wajah orang itu dengan keras.

Orang yang diajak Angkasa berbicara malah menaikkan sebelah alisnya, seolah tak paham ke mana arah pembicaraan Angkasa. "Tujuan apa?"

Angkasa membuang ludah ke kanan, ia menatap orang itu dengan tajam. "Tujuan lo kemaren nyuruh orang buat lepas oksigen Shaka apa, Dirga?!" Suaranya naik satu oktaf.

Dirga, atau yang kerap kita sapa Rivaldo itu terkekeh dengan sinis. Ia membalikkan tubuhnya, dan membelakangi Angkasa. "Buat apalagi kalo bukan bikin dia mati?"

Angkasa maju satu langkah, lalu ia berbicara, "Lo punya dendam apa sih sama Shaka?"

Lelaki itu berbalik kembali, jadi kini Angkasa dan Dirga saling berhadapan. Keduanya saling bertatapan dengan tajam. "Gue nggak ada dendam apa-apa sama Shaka, tapi, karena dia adiknya pembunuh, masa gue diem aja?"

Angkasa mencengkeram kerah baju Dirga dengan erat. Ia tak terima jika Arsha yang ia anggap sebagai kakak, malah di cap sebagai pembunuh oleh oknum yang tidak tahu kejadian aslinya.

"Berhenti nyebut dia pembunuh, ya, anjing! Dia kakak gue, bukan pembunuh!"

"Jelas-jelas dia dorong Tamara sampe jatoh, Angkasa! Apa itu bukan pembunuh?!"

Angkasa melihat mata Dirga, di dalam mata itu, ia melihat sebuah kekecewaan yang sangat dalam. Dirga masih sahabatnya, lelaki itu masih menganggap Dirga sebagai sahabat, karena walau bagaimanapun, saat ia sedang sedih, dulu Dirga selalu ada di sampingnya, memberikan ia kekuatan, memberikan ia semangat, sangat tak rela hanya karena kesalahpahaman, ia dan Dirga menjadi renggang.

Dirga memanfaatkan Angkasa yang sedang lengah. Ia meninju rahang kanan Angkasa dengan keras, sehingga Angkasa yang sedang benar-benar lengah menjadi terkapar di tanah.

Lelaki itu bangkit, lalu menahan tangan Dirga yang akan kembali memberi bogeman pada wajah mulusnya.

"Berhenti kayak gini, Dirga! Kita bisa lurusin masalah ini!"

Dirga menjauhkan tangannya dari Angkasa. Dia menatap Angkasa sembari terkekeh sinis. "Apa yang mau dilurusin?"

"Masalah lo! Itu cuman kesalahpahaman, Dirga!"

"Apanya yang kesalahpahaman?!"

"Lo mau dorong Kak Arsha, tapi, Tamara dateng buat nyelametin Kak Arsha, dan lo salah sasaran! Lo malah dorong Tamara, bukan Kak Arsha!" ungkap Angkasa dengan dada yang naik turun.

Arka, Arsha, dan Arshaka [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang