❗TANDAI TYPO❗
•
•
•
بسم الله الرحمن الرحيم
🌧️
"Kenzie."
"K–Kenzie?" tanya Jihan sembari mengernyit.
"Hooh, dia penasaran sama Kenzie, ya udah gue ceritain," balas Devan.
Jihan mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda paham. "Btw sekarang Kenzie sama Shifa gimana, ya?"
"Entah, udah lama banget kita nggak denger kabar dari dia," timpal Gevan.
"Mungkin nggak jauh beda sama kita," balas Galang.
"Kalian ta—"
BRAK
Araya yang akan bertanya pun mengurungkan niatnya, ketika pintu didobrak secara kasar oleh seseorang, dan orang itu adalah ... Ziva.
Arka langsung masuk, dan menahan Ziva yang akan menghampiri ayahnya. "Gue bilang pergi, ya, pergi! Batu banget si!" bentak Arka di depan wajah Ziva.
"Kamu nggak ada sopan santunnya banget sih sama yang lebih tua?!" balas Ziva tak kalah kencang.
Suasana di ruangan Shaka menjadi ricuh, Devan mencoba untuk menenangkan Shaka, agar anak itu tidak ikut campur. Teman-teman Galang dan Jihan malah hanya berdiri, tak melakukan apapun, sampai Arsha, Metta, Chandra, dan Aira datang.
Arsha memegang bahu Arka, berusaha untuk meredam emosi Arka, lalu kemudian ia beralih menatap Ziva. "Lo ngapain di sini?" tanya Arsha berusaha untuk tenang.
"Ada yang harus gue omongin sama ayah kalian!"
"Ya kalo ada yang harus diomongin, ya di waktu yang tepat! Jangan di waktu yang kagak gini!"
"Tenang, Arka," pinta Galang. Akhirnya ia ikut berbicara. Lelaki itu menghampiri mereka yang sedang berdebat.
"Ada apa, Ziva?" tanyanya dengan tatapan datar.
"Aku hamil," kata Ziva yang membuat orang-orang di ruangan itu membelalak tak percaya, sedangkan Galang malah santai.
"Oh. Terus?" Galang menatap Ziva sembari menaikkan sebelah alisnya.
Devan masih setia di samping Shaka, ia memberikan keponakannya itu segelas air untuk minum, agar lebih enak memperhatikan perdebatan ini.
"Kamu ayah dari anak di dalem perut aku, Galang!"
Gelas di lengan Shaka merosot ke bawah, menyentuh lantai, lalu menjadi pecah dalam beberapa kepingan. "OMONGAN LO DIJAGA, YA, JALANG!" murka Shaka. Ia mengepalkan tangannya, dan menatap perempuan itu dengan tajam.
Devan tau, diantara keempat anak Galang, hanya Shaka yang paling tidak bisa mengontrol emosinya. Dirinya membawa Shaka ke dalam pelukan, mencoba memberitahu Shaka, bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin.
Arsha melepaskan Arka, dan kemudian ia langsung menampar pipi Ziva selama dua kali, di pipi kanan dan pipi kiri.
"Arsha!" teriak Zara, Viana, dan Araya secara bersamaan. Mereka tak percaya saja jika Arsha akan bertindak sejauh ini.
"Lo kalo ngomong dijaga! Ayah gue nggak mungkin ngelakuin hal bejat kayak gitu!"
"Tapi kalo emang itu kenyataannya gimana?" tanya Ziva balik. Pernyataannya seolah meremehkan Arsha.
Arsha melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap perempuan ular di hadapannya ini dengan menaikkan sebelah alisnya. "Ada bukti?"
"Ada."
Jihan memutar kedua bola matanya malas. Ia mengambil tasnya, kemudian keluar dari ruangan ini. Perempuan itu berlari, ketika Galang malah mengejarnya.
"Jihan!" Galang berlari mengejar Jihan yang keluar dari ruangan, lelaki itu tak peduli pada Arsha dan Ziva yang sedang berdebat, dipikirannya saat ini hanyalah Jihan, Jihan, dan Jihan.
"Jihan, tunggu!" Galang menarik sebelah lengan Jihan, hingga Jihan yang tak siap langsung berbalik dan bertubrukan dengan dada Galang secara kasar.
"Lepas," kata Jihan dengan pelan.
Bukannya melepaskan, Galang malah memeluk tubuh Jihan dengan erat. Dia menaruh dagunya pada kepala Jihan. "Yang dia bilang itu nggak bener, Jihan. Kamu jangan langsung percaya sama Ziva," jelas Galang.
"Mau bener apa enggak, aku nggak peduli."
Mata Jihan tiba-tiba memanas, ia merasa bahwa pelupuk matanya sudah penuh dengan kristal bening. Mungkin beberapa detik lagi kristal bening itu akan terjatuh membasahi pipinya.
"Aku nggak ada apa-apa sama Ziva, kamu percaya sama aku, oke?" Tangan Galang terulur untuk mengusap kepala Jihan yang tertutup oleh kerudung pasmina warna Milo dengan lembut.
Jihan segera mendorong dada Galang, kemudian ia menatap mata Galang dengan tatapan sendu. "Aku bilang aku nggak peduli!" katanya di dalam mulut.
Galang memegang kedua bahu Jihan, ia membalas tatapan Jihan. "Stop, Jihan! Stop bilang begitu."
"Aku nggak pernah tidur berdua sama Ziva. Aku sama dia tuh murni karena pekerjaan, bukan untuk hal lain."
"Tapi kata dia, kamu ay—"
"Bisa aja dia tidur sama laki-laki lain, terus dia bilangnya itu anak aku," ungkap suami Jihan.
"Stop mikir begitu. Dengan kamu mikir begitu, sama aja kamu nyakitin perasaan kamu sendiri, Jihan." Galang masih setia menatap mata indah milik Jihan. Tangannya terangkat untuk mengusap air mata perempuannya yang entah kapan terjatuh.
"Stop, oke? Aku nggak bakal ngelakuin hal kayak gitu."
"Kenapa?" tanya Jihan dengan lirih.
"Karena satu-satunya wanita yang aku cinta itu kamu. Aku nggak mungkin nyakitin perasaan kamu."
***
Sedari tadi Arka dan Arsha mengikuti Jihan dan Galang. Mereka mendengar percakapan itu, dengan gesit Arsha mengambil ponselnya, lalu ia menelepon seseorang.
"Halo, Om Revan," panggil Arsha ketika teleponnya sudah terhubung.
"Iya kenapa, Sha?"
"Om masih jadi direktur di perusahaan ayah?"
"Masih, kok. Kenapa, Arsha?"
"Om, aku mau minta tolong, boleh?"
"Kalo Om bisa bakal Om bantu, Sha. Kamu bilang aja," balasnya di seberang sana.
Arsha melipat lengannya di depan dada. Ia melihat ke arah abangnya sebentar, setelah Arka mengangguk, barulah Arsha berbicara kembali.
"Tolong pecat salah satu pegawai dengan nama lengkap Ziva Fauziah."
"Ini perintah ayah kamu? Kalo bukan perintah ayah kamu, Om nggak mau asal pecat pegawai."
"B–bukan suruhan ayah, tapi, ada suatu masalah keluarga yang mengharuskan Om pecat Ziva dari kantor," jelas Arsha. Memang benar, kan?
"Oh, iya deh, nanti Om pecat Ziva dari kantor," kata Revan.
"Makasih, ya, Om. Btw tolong cariin lagi sekretaris buat ayah, kalo bisa, sekretarisnya yang cowok aja."
"Iya, nanti Om cariin," balas Revan lagi. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya bersama Arsha.
Arsha kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian ia menatap Arka sembari tersenyum miring.
"Gimana?" tanya Arka penasaran.
"Selesai."
→TBC←
Publish: 04 Oktober 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka, Arsha, dan Arshaka [END]
Teen Fiction#Arsenio S2 ❗Sequel GALANG: Perfect Husband❗ *** Ini tentang kedua anak kembar yang sifatnya cuek. Namanya Arka dan Arsha. Shaka selalu membuat orang kesal karena tingkah lakunya. Bisa dibilang, hobi Shaka itu mengganggu orang lain. Sebenarnya mudah...
![Arka, Arsha, dan Arshaka [END]](https://img.wattpad.com/cover/272293114-64-k105750.jpg)