Gyanza mematung setelah membuka pintu rumahnya akibat gedoran yang tidak biasa dan bunyi bel yang menusuk telinganya.
Athaya menyela masuk dengan cepat, memanfaatkan keterkejutan Gyanza ia berhasil masuk. Gyanza terdiam sesaat sebelum berbalik dan menatap Athaya menyelidik."Ngapain lo kesini?!" sentak Gyanza menatap kesal Athaya yang masih memakai pakian penjara.
"Sejak kapan lo kenal gue?" tanya Athaya to the point,"Lo udah lama kenal gue kan? Lo bahkan tau nama gue waktu di mobil dulu."
Gyanza menatap nyalang Athaya,"Keluar!"
"Engga sebelum lo jelasin Gyanza!" sentak Athaya.
Gyanza membanting pintu besar itu dengan keras,"Keras kepala!"
"Munafik!" bentak Athaya,"Lo bohingin diri lo sendiri kan? Kalo lo peduli Gyanza! Lo peduli sama gue!"
"Cih, dalam mimpi lo!" Gyanza berjalan melewati Athaya dengan menabrak bahu gadis itu.
Athaya mengejar Gyanza ke ruang tamu laki-laki itu dan menyetak tangan Gyanza untuk menghadapnya,"Lo suka sama gue kan?"
"Dalam mimpi." ujar Gyanza malas.
Athaya mencengkram pergelangan Gyanza dengan erat,"Gue engga akan pergi dan berhenti ganggu lo sebelum lo bilang yang jujur sama gue?! Kenapa?! Kenapa lo nolongin gue! Jangan bikin gue berharap Gyanza! Jangan bikin gue bingung sama sikap lo! Lo kemarin-kemarin bertingkah seolah lo bisa bunuh gue, tapi kenapa sekarang lo nolongin gue dari penjara itu!!!" Athaya berteriak mengeluarkan seluruh isi hatinya. Menurutnya jika perasaan ini ditahan dengan rasa penasaran itu akan menyita banyak beban di otaknya. Lebih baik ia menyelesaikannya.
Jika Gyanza menyukainya maka mereka bisa bersama bukan? Jika tidak Athaya akan bertekat untuk berhenti menggangu hidup Gyanza.
Gyanza menatap Athaya dingin,"Balas budi gue."
"Sejak kapan lo jadi sangat bermoral?"
"Krimal bahkan tau cara balas budi."
"Sampai kapan lo bakal bohongin diri lo sendiri sih, Gy?! Gue aja capek sama perasaan ini." keluh Athaya.
"Maka hapus perasaan itu."
"Engga semudah itu!"
"Hapus! kaya lo hapus perasaan sama mantan lo!" Bentak Gyanza."Lupain 45 hari itu karena gue engga akan mati, tapi jangan pernah temuin gue lagi!"
"Kata seseorang yang bahkan berharap gue kasi salad setiap hari."
Gyanza menatap remeh Athaya,"Siapa yang berharap?!"
Athaya menunjuk ke sudut kanan di mana meja makan panjang dengan salah satu kursi yang terdorong dan segelas wine serta salad miliknya yang berada di dalam kotak. Salad yang beberapa hari lalu Athaya berikan.
Gyanza menatap salad itu lalu menyentak tangan Athaya,"Mau gue buang."
"Cih, munafik banget lo jadi orang!" cemoh Athata.
Gyanza melangkah mendekati meja makan. Membuang salad itu dengan kasar ke lantai bahkan membuang gelas wine ke sembarangan arah hingga bunyi pecahan gelas itu menusuk telinga ditengah keheningan keduanya.
Athaya menatap nyalang Gyanza yang berusaha menghindar dengan menaiki tangga. Athaya mengikutinya. Melangkah dengan cepat menaiki anak tangga.
"Don't be selfish!" sentak Athaya mencekal tangan Gyanza.
"I AM NOT! I DO THIS BECAUSE I CARE ABOUT YOU!" teriak Gyanza dengan lantang mengungkap isi hatinya. Terlalu lelah menghadapi kebodohan Athaya.
Athaya menatap Gyanza dengan sendu melihat wajah Gyanza yang tampak frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Athaya
Fiksi RemajaTEENFICTION - DARK - SWEET [FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Athaya Lilly Kalinara. Gadis kuat, tanguh, pemberani, baik hati, bijak dan dewasa sempat terkukung dalam suatu hubungan tidak sehat dengan seorang Kennan Abaranaka karena suatu alasan ia menjadi so...
