1. Sebuah Awal

39.1K 3.4K 394
                                        




Sebuah ponsel terus bergetar, sang pemilik ponsel yang sedang mencuci muka di kamar mandi tergesa-gesa membasuh wajahnya ketika ia sadar bahwa ponsel itu sudah bergetar lebih dari lima kali sejak lima menit lalu ia di kamar mandi.

Setelah cukup bersih, gadis itu, Athaya berlari ke nakas di samping tempat tidurnya, kemudian meraih ponselnya. ia mengumpat dalam hati melihat nama kekasihnya, ia menghela nafas sebentar sebelum menempelkan benda pipih dengan logo apel itu di daun telinganya.

"KAMU KEMANA AJA SIH?!" Athaya langsung menjauhan handphonenya, teriakan itu cukup membuatnya kaget.

Athaya menghela napas sebelum menjawab, "Tadi aku ke kamar mandi, cuci muka, sikat gigi dan lain-lain."

Terdengar dengusan, "Alasan aja kamu, kenapa gak kamu bawa handphonenya? Kenapa gak kamu angkat dulu, hah?!"

"Ya ribet kan kalo kaya gitu? Kalo hpnya jatuh gimana?"

"Kamu berani ngejawab sekarang?!"

"Gak gitu, Ken." Athaya menghela nafas lagi, ia benar-benar mati kutu. Ibarat dijawab salah, tidak dijawab juga salah.

"Biasaya kamu inget bawa handphone kamu, kenapa sekarang engga, sengaja kamu?!"

"Kamu bisa larang aku ini itu, tapi kamu gak bisa larang aku lupa ken, itu diluar kuasa aku juga."

"Kamu berani ngelawan sekarang? Siapa? Siapa orang yang bikin kamu kaya gini hah?!"

Athaya ingin sekali berteriak dan berkata itu adalah laki-laki setan satu ini, ia juga manusia adakala ia lelah menghadapi sikap kekanakan manusia satu ini, oh bukan manusia lebih tepatnya setan satu ini.

Athaya mematikan sambungan telephonenya, biarkan saja laki-laki itu marah dan menghukumnya besok, kali ini ia ingin ketenangan sebentar.

Athaya lalu merebahkan diri di kasurnya, menatap langit-langit kamar, sungguh ia menyayangi Kennan tapi kenapa semakin lama laki-laki itu semakin mengeratkan borgol di kedua kakinya?

Besok pasti akan menjadi hari yang menyiksa bagi dirinya.

-▪︎¤▪︎-

"ATHAYA GANTI ROK KAMU!"

"ASTAGA KENNAN! AKU GAK PUNYA ROK LAGI SELAIN INI!"

Plak!

Athaya menyentuh pipi kirinya yang baru saja ditampar oleh Kennan, ia menatap laki-laki itu dengan penuh kecewa. Kennan membelak, kemudian dengan cepat ia memeluk Athaya.

"I am sorry Athaya, aku gak akan kasar kalo kamu nurut." Kennan membelai punggung Athaya,"Maafin aku, please..."

Athaya memberontak, tetapi Kennan masih memeluknya dengan erat. Selalu begini, Kennan akan membuat dirinya seperti pelaku dan membuatnya merasa bersalah. Lihat saja beberapa saat kemudian Kennan melepaskan pelukannya dan berlutut.

"Maafin aku, sayang...."

"Kennan bangun!" Seru Athaya, meski kini mereka ada di depan rumah Athaya yang sepi, tetap saja Athaya was-was jika ada yang melihat, apa yang akan orang pikirkan coba?

AthayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang