'Cause if you think I'm such a happy person, no
You are wrong by saying my laughter is
Louder than yours, shut your freakin' mouth
No one knows what I feel and what I suffer
No they dont know, so keep your thoughts
And stop assuming that, someone is always fine'
Kebetulan sekarang guru sedang tidak mengajar. Katanya sih sedang ada rapat. Entah jam berapa rapat itu selesai.
Alunan lembut terdengar ke seluruh isi kelas. Eunha duduk di bangku sambil mendengarkan musik di ponselnya lewat earphone. Arah pandangnya tertuju kaca jendela yang basah. Terlebih saat ini langit sedang meneteskan airnya deras. Eunha memejamkan netra indahnya. Bibirnya masih terus mengalunkan nada. Bukan lagu yang tadi.
"Oh Tuhan tolonglah, bawa dia kembali bersamaku
Disini menjagaku selalu
Dengarlah doaku, yang tak pernah meminta bawa dia,
Kembali bersama walau hanya sesaat"
"Rindu aku sangat rindu kamu
Terasa saja kau masih ada di dekatku
Tak mudah aku melupakan dirimu
Di saat aku terbangun dari tidurku
Rindu aku sangat rindu kamu
Terasa saja kau masih ada di dekatku
Tak mudah aku melupakan dirimu
Di saat aku sendiri"
Meski terlihat tak peduli dengan Eunha, sebenarnya sejak tadi mata elang itu tak berhenti menatapnya. Hatinya berdesir nyeri. Rindu itu ada. Selalu ada. Namun apalah daya jika ego lebih kuat. Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menyalakan ponselnya. Membuka salah satu aplikasi. Jempolnya dengan sengaja mengetik sebuah kata.
"Sebesar apapun rindu lu ke gua, itu semua ngga akan mempan karena kesalahan lu."
Dengan cepat mengirim kata tersebut ke storynya. Namun sepertinya salah, justru ia mengirim pesan tersebut ke gadis yang sudah merusak kepercayaannya.
Ting!
Eunha merasa ada pesan masuk. Mematikan musik dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Sebesar apapun rindu lu ke gua, itu semua ngga akan mempan karena kesalahan lu."
Tolong! Seseorang tolong tampar Eunha sekarang juga. Apakah sekarang Eunha masih bermimpi? Apa Eunha masih ada di tempat tidurnya? Seperti nya tidak. Eunha bahkan sudah mencubit tangannya hingga kecil. Dan meminta Rose untuk menamparnya.
"Rose tampar gua Rose."
Rose yang sedang mencatat diary nya heran. Rose menatap Eunha dengan bingung.
"Maksud lu?"
"Tampar gua sekarang please. Tolong bilang ke gua ini bukan mimpi."
"Okay, kalau itu mau lu."
Plak.
Eunha terdiam dengan tamparan Rose. Rasanya sakit. Sangat sakit. Itu berarti dirinya tidak bermimpi. Ini nyata. Ketua Devil Boy's mengirimnya pesan. Ini nyata. Hal yang selama ini Eunha tunggu.
Rose merasa bersalah karena Eunha diam. Bukankah tadi gadis mungil itu menyuruhnya untuk menamparnya, Mengapa sekarang malah diam? Apa Rose terlalu keras menamparnya?
"Nha... Eunha??"
Rose melambaikan tangannya ke depan muka Eunha. Guna menyadarkan gadis mungil itu.
"EUNHA!"
Eunha terkejut dengan teriakan Rose. Sedetik kemudian ia memeluk Rose. Dapat Rose rasakan kalau Eunha tengah berbahagia kini.
"Nha, lu kenap-"
"Rose liat ini, Rose liat!"
Eunha menunjukan ponselnya ke Rose. Rose berdecak kesal. Ia pikir, Eunha ada something. Ternyata hanya karena itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]
FanfictionAwalnya mereka bersatu sebagai Ivy, karena ada perselisihan mereka berpisah sebagai Devil Boy's dan Angel Girl's. Meski terlihat saling benci, sebenarnya ada rindu yang dalam di hati mereka masing-masing. Start : 24 Agustus 2021 End : 29 Juni 2022...
![Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]](https://img.wattpad.com/cover/282294016-64-k704504.jpg)