DBvsAG - 8

209 16 0
                                        

Eunha duduk termenung di balkon kamarnya. Dengan menggunakan setelah lilac saja tidak mengurangi kadar kecantikannya. Sejak tadi langit masih meneteskan airnya deras. Banyak pikiran yang menghantuinya. Tentang kejadian saat di sekolah hari ini, awal masalah, hingga hancurnya Ivy seperti sekarang ini.

'Bisakah gua balikkin Ivy seperti dulu sebelum waktu gua habis?'

Ia merasa ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Tanpa bertanya atau menoleh saja dia sudah tahu siapa orang ini. Sosok itu meletakan dagunya di pundak Eunha.

"Adik kakak kok melamun sih? Kesambet lho ntar."

Eunha menjawab dengan tersenyum tipis dan menggeleng. Memang pada dasarnya, seorang Eunha Alea tidak begitu suka menceritakan hari juga masalahnya. Jika Eunha bercerita itu berarti sudah sangat berat.

"Mikirin apa sih? Inget, jangan terlalu banyak pikiran nanti kau sakit."

"Iya Kak."

Hoseok Juandra mendengus kasar melihat adiknya yang satu ini. Terkadang ia berpikir, sebenarnya Eunha ini menganggapnya kakak atau tidak. Memang bukan hal umum jika Eunha tak suka menceritakan masalahnya. Tapi setidaknya sedikit saja, dengan dirinya.

Hoseok mengubah posisinya menjadi duduk disebelah sang adik. Eunha hanya menatapnya sekilas lalu mengalihkan pandangannya.

"Hey, ada aku disini."

Eunha menolehkan kepalanya dan hanya menjawab dengan menaikan bahu dan alis.

"Iya, aku melihat Kakak."

"Sopanlah sedikit. Aku ini kakak mu."

"Memang ada yang bilang kau adikku?"

Hoseok Juandra memilih diam daripada menanggapi sang adik. Tidak akan selesai. Ia mengikuti apa yang sang adik lakukan. Melihat ke depan. Menikmati suara juga jatuhnya air.

"Tadi di sekolah, Rose masuk BK. Apalagi alasannya jika bukan membelaku. Aku tidak tau pasti kejadiannya seperti apa, karena tadi Jungkook membawaku ke taman. Tapi dari yang ku dengar, Rose membelaku karena mereka terus mengataiku. Karena Rose terus membuat keributan, akhirnya Bu Ara memanggil mereka ke ruang BK. Bu Ara bilang, Rose, Jaehyun, Eunwoo, dan Bambam, mereka diskors selama seminggu," ucap Eunha setelah beberapa saat. Inilah karakteristik dirinya. Tak suka bercerita apabila diminta, namun dia akan bercerita sendiri. Dari kehendak dirinya ia mau bercerita. Bukan kehendak orang lain.

Hoseok dengan seksama mendengarkannya. Akhirnya trik nya berhasil. Sudah hafal dia bagaimana Eunha.

"Jaehyun mengataimu lagi?"

"Ya begitulah Kak. Mungkin saja dia sedang kesal denganku."

"Kau terlalu berpikiran positif."

"Kak, kita itu sebagai manusia harus terus berpikiran positif dengan siapapun. Bisa jadi yang kita lihat itu tidak seperti kenyataannya."

"Tapi terlalu juga tidak baik."

Jika tadi Hoseok yang memilih diam, maka sekarang Eunha. Baginya debat dengan kakaknya hanya membuang waktu. Hoseok mengerti apa yang dipikirkan adiknya. Ia mengelus lembut rambut belakang Eunha. Tersenyum dan menatapnya lembut.

"Eunha maafkan aku. Aku tau apa yang kau pikirkan. Kau hanya tak mau jika aku melabrak Jaehyun seperti dulu lagi. Tapi asal kau tau Eunha, aku sangat menyayangimu. Mungkin melebihi rasa sayang mama dan papa kepadamu. Kau itu adikku yang paling kecil. Aku tak mau kau banyak pikiran yang nantinya akan membuatnya kambuh."

Tes.

Bendungan itu meledak seketika. Airnya menetes tanpa disuruh. Awalnya satu lama kelamaan bertambah hingga berpuluh puluh atau bahkan beratus ratus. Isakan mulai terdengar dari bibir cerynya. Sontak saja Hoseok mendekap sang adik dan menenangkannya. Dalam hati ia meruntukki dirinya. Jika bukan karena ku, pasti Eunha tak akan menangis, batinnya.

Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang