DBvsAG - 19

149 18 18
                                        

"Yuju, bawaan lu kaya bukan mau ke sekolah," celetuk Rose heran. Sekarang mereka sedang di kamar Rose. Sudah lengkap.

"Coba deh lu buka sedikit mata lu, ini bawaan penting semuaaa."

"Lu diusir sama Tante Naresya?"

Tak.

Yuju menjitak jidat Mina keras,  membuat sang empu meringis.

"Enak aja. Gua bawa gini tuh buat persiapan kalau nginep dadakan gini!" cetus Yuju bangga.

"Apa perlu gua keluarin semuanya biar lu pada liat?"

"Enggak enggak, Ju. Ngga usah.."

Tolakan Chaeyeon membuat Yuju menatapnya sedih.

"Yahh, padahal gua pengen lu liat ini semua. Kan biar ngga penasaran."

"...Iya udah deh kita liat," lihatlah sekarang raut Mina, Chaeyeon, Rose, Jihyo, Jiho dan yang lainnya menunjukan kepasrahan.

"Okeyyy," mata Yuju berbinar saat mengeluarkan satu persatu barangnya.

'Kamar gua tolongggg....'

"Nah udah semuaaa!!!!" Begitu selesai, Yuju dengan bangga menunjukan semuanya.

Dapat Chaeyeon lihat kini raut Rose sudah menunjukkan kepasrahan yang besar.

"Ju, lu serius bawa semua ini??" tanya Chaeyeon heran.

"Iyaps, kan tadi udah gua bilang."

"Gua kira lu cuma bercanda doang, Ju!"

"Yuju ngga pernah bercanda jika seperti ini, Naeyeon."

Semua menatap bawaan Yuju heran. Banyak sekali, pikir mereka. Untuk laptop, handphone, charge, powerbank, earphone mungkin itu biasa untuk dibawa. Namun ini Yuju membawa barang yang seharusnya ia tinggal di rumah.

"Yuju Juwitaaa lu ngapain bawa sabun, shampo, sama minyak kayu putihhh?"

"Roseane Katrine, seperti yang Yuju Juwita yang cantik nan baik hati ini bilang, untuk jaga-jaga barangkali ada nginep dadakan seperti ini. Terimakasih."

"Ya tapi ngga usah pake sabun, shampo segala.. Lu kan bisa minta ke tuan rumah."

"Bukan gitu, Jiho Rania, hanya saja Yuju Juwita tidak ingin merepotkan tuan rumah, kasihan nanti shampo dan sabunnya habis."

"Temen gua ada masalah idup apa sebenarnya," celetuk Jihyo khawatir.

"Banyak, saking banyaknya gua lupa," Yuju memperlihatkan senyuman yang menampilkan deretan gigi rapinya.

"Ju, kayanya gua juga mau deh ikutan kaya lu."

Lisa sedari tadi diam. Begitu berbicara mengejutkan seisi kamar. Yuju langsung bergeser mendekat Lisa yang menatapnya kagum.

"Nah baru temen gua nih!"

"Iya dong, Lalisa Ayra kan selalu setia sama Yuju Juwita."

Yuju memeluk Lisa Ayra erat dan dibalas tak kalah erat. Sementara yang lain hanya mampu memandangnya heran.

"Temen gua ada masalah hidup apa sih?"

"Rose temen lu kenapa?"

"Bukan temen gua enak aja. Itu temennya Naeyeon!"

"Ogahhh..."

"Kayanya kita salah harusnya kalau udah ada Yuju jangan ada Lisa, begitupun sebaliknya."

"You are right.."

"Apalah daya nasi sudah menjadi bubur."

"Buburnya udah gua makan."

"Haha garing lu, Rose. Ngga nyambung."

***

Meski jam sudah menunjukkan tengah malam, Eunha tetap setia menjaga Jungkook. Berusaha keras untuk tidak menutup netra indahnya. Panas Jungkook juga sudah sedikit berkurang.

Eunha berjalan mendekat Jungkook yang masih senantiasa memejamkan netra elangnya. Tangannya ia ulurkan untuk menangkup pipi kanan sang mantan.

Ibu jarinya dengan lembut mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

"Lu ngga tau kan, Kook, seberapa rindu gua sama lu. Cepet sembuh ya lu. Gua lebih suka lu yang selalu bully gua daripada lu yang sakit gini. Gua boleh ungkap semua yang gua rasain?"

Eunha tampak menjedanya sebentar. Dirinya menarik napasnya dalam-dalam. Menentralkan sesak di dadanya. Entah kenapa matanya tiba-tiba terasa panas.

"Lu inget kan awal kita ketemu? Pas itu kita masih kecil. Huh,, entah kenapa ya semenjak gua jadian sama lu gua ngrasa bahagia bangett. Bahkan rasa kebahagiaan itu engga gua temukan waktu gua jadian sama Eunwoo. Waktu putus sama Eunwoo pun, gua ngga ngrasa sedih, kecewa, atau patah hati. Justru kelegaan yang gua dapet. Kalau aja lu tau, nama seseorang yang berhasil mengunci hati gua cuma satu. Jungkook Alendra. Iya, cuma lu yang berhasil. Semenjak kita putus disitulah gua baru ngrasain apa itu, sedih, patah hati, sakit hati. Disitu gua tau kalau gua udah terlalu cinta sama lu."

"Seandainya aja lu tau gua disini lagi berusaha keras buat nglawan ni musuh. Gua juga berusaha keras buat balikin Ivy. Kook, gua takut, Kook gua takut. K-kalau aja gua udah pergi tapi gua belum berhasil membuat Ivy kembali. Gua takut. Hiks....Eunha kuat,  Eunha ngga boleh nangis. Gua ngga tau harus minta tolong ke siapa-hiks... Kalau aja lu tau umur gua engga lama lagi, hiks.... Apa lu mau bantu gua balikin Ivy?"

"Satu hal yang harus lu tau, Kook. Gua sayang, gua cinta banget sama lu. Rasa sayang dan cinta gua ke lu melebihi rasa sayang dan cinta gua ke keluarga sendiri. Gua rela kehilangan apa yang gua punya, asal itu jangan lu! Gua bodoh kan? Bener gua memang bodoh."

Meski Eunha tau Jungkook Alendra tak akan mendengarnya, namun ia tetap melanjutkan perkataannya. Memang ini tujuannya. Ia tak ingin Jungkook mengetahui apa yang dirinya rasakan selama ini.

"Jungkook Alendra, lu tau kebodohan terbesar gua? Kebodohan terbesar gua adalah gua masih naruh harapan sama seseorang yang bahkan udah engga anggap gua lagi. Yang bahkan dia udah benci banget sama gua, tapi gua masih aja naruh harapan. Bodoh kan gua? Ya! Gua ngrasa."

Eunha menghapus kasar kristal beningnya.

Cup.

Bibirnya mencium dahi panas Jungkook. Seandainya saja ini yang terakhir, setidaknya tak ada penyesalan apapun yang dirinya rasakan.

Tak ingin lama-lama, ia melepasnya segera. Ibu jarinya masih setia mengelus lembut pipi sang mantan.

Tanpa Eunha sadari, setetes air mata mengalir dari pelipis kiri Jungkook. Entah apa yang membuatnya yang menetes.

Eunha beranjak menuju sofa kembali. Posisinya ia ganti menjadi tiduran. Perlahan netranya menutup.













"Gua ijin tidur ya, ijin istirahat. Gua capek."




*
*
*
Tbc.

Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang