DBvsAG - 31

100 12 16
                                        

"Berkumpul semuanya, agenda kita sekarang ke kebun teh dan ke peternakan, dilanjutkan dengan ke salah satu air terjun. Kalian akan dipandu oleh Bu Ara, Mam Meyra, Mam Aryn, Pak Cakra, dan saya. Karena jaraknya dekat, jadi kita jalan kaki saja. Sekalian olahraga. Apa ada yang ingin ditanyakan?"

"Tidak, Pak." Jawab para murid serempak.

"Baik jika tidak ada, mari kita berangkatt!" dipandu oleh Pak Surya yang berada di depan dan diikuti oleh para murid juga para guru lainnya.

Setelah perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai di kebun teh.

"Alhamdulillah sampai juga. Pak Surya, katanya cuma deket, Pak. Tapi ini jauh banget," keluh Dokyeom. Pak Surya menoleh.

"Kalian itu lho, cuma segini udah ngeluh. Dulu saya berangkat sekolah setiap harinya menaiki gunung dan melewati lembah. Terus menyusuri terowongan yang hanya bisa dilalui oleh semut dan tidak ada jalan lain, terpaksa harus bisa. Habis itu juga lewat jembatan yang udah hampir rusak. Untung saja tak kenapa-napa. Belum lagi jika hujan jalanan becek, ditambah jalan yang licin karena air hujan. Bayangkan dari SD-SMP-SMA saya melalui itu semua. Setiap harinya, jika panas kepanasan dan jika hujan kehujanan." Cerita Pak Surya panjang lebar. Sayangnya tak ada satupun yang percaya.

"Lho, Pak Surya dulu kan kita tetanggaan dan satu sekolah terus dan memang iya ya, Pak? Bukannya sekolah kita hanya belakang rumah saja dan ada jalan yang berbanding terbalik dengan yang bapak ceritakan tadi," ucap Mam Meyra polos.

Semua yang mendengarnya susah payah menahan tawa. Benar kan, itu semua hanya bohong.

"Mam, saya ini sedang mengajarkan anak-anak ini supaya banyak bersyukur kehidupan sekarang sudah enak. Tidak seperti kita dulu," ngeles Pak Surya semakin membuat semuanya menahan tawa.

"Lho tapi kan kita juga enak, Pak. Makan pagi sudah disiapkan dari sekolah, uang sangu selalu utuh, berangkat dan pulang sekolah sudah ada yang menjemput," lanjut Mam Meyra membuat tawa mereka pecah.

"Sudah, sudah, waktu terbuang banyak ini. Sekarang saatnya kita memasuki kebun teh. Jangan lupa kalian catat apa yang akan dijelaskan oleh salah satu petugas disini," Pak Surya mengalihkan pembicaraan.

Malu ketauan boongnya.

"Mengerti?" tanya Pak Surya.

"Mengerti, Pak," jawab semuanya dengan tawa yang masih tersisa.

"Kalau begitu silahkan masuk dan-Dokyeom! Kenapa anda melihat saya seperti itu?"

"Membayangkan apa yang Bapak ceritakan," gelak tawa terdengar kembali. Pak Surya hanya bisa bersabar sambil memikirkan cara untuk balas dendam dengan ulangan matematika mendadak besok.

"Sudah, sudah, sekarang segera masuk dan mengerjakan apa yang saya sampaikan tadi!"

***

Usai dari kebun teh, mereka melanjutkan ke peternakan. Lumayan lama juga di kebun teh, terhitung dua jam. Namun itu semua tak merugikan, malaham menguntungkan. Selain mendapat ilmu, mereka juga mendapat teh gratis.

Jarak antara kebun teh dengan peternakan tidak begitu jauh, terhitung hanya sekitar 1,5 km.

"DOKYEOM ADA KEMBARAN LU!" seru Mingyu heboh begitu melihat seekor kuda poni yang sedang nyengir.

Dokyeom mendekatinya dan mengambil gambar dengan kuda poni itu. Dia mau menguploadnya di instagram setelah ini.

"Ren, tolong fotoin gua sama Lisa disini, bisa?" tanya Yuju pada Rendra yang asyik mengambil gambarnya sendiri.

"Iya bisa dong," Yuju menyerahkan ponselnya pada Rendra.

"Semuanya harap perhatikan. Sekarang kita berada di peternakan kuda, tugas kalian mengamati kuda-kuda tersebut dan mencatat apa yang disampaikan oleh salah satu petugas. Apa ada pertanyaan?" jelas Mam Aryn yang dijawab dengan gelengan.

Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang