Mentari berganti tugas dengan bulan. Gadis berpipi chubby sedang duduk di ayunan gantung yang terdapat di depan vila. Pandangannya mengarah ke depan. Jujur dia pusing dengan apa yang terjadi hari ini.
"Sendirian aja lu," seseorang mengagetkan Eunha yang duduk termenung. Dirinya menoleh dan merasakan orang itu duduk disampingnya.
"Lu gak papa sama gua?"
"Kenapa? Lu takut ya?" ledek lelaki di sebelahnya. Eunha berdecak kesal mendengarnya.
"Bukan gitu, Jungkook Alendra. Tapi di perjanjian-"
"Lu ketuanya, gua juga ketuanya. Ketua bebas!" tegas Jungkook memotong ucapan Eunha cepat. Eunha menghembuskan napasnya kasar.
"Gua heran sama lu, Kook. Katanya lu benci pakek banget sama gua, tapi sekarang," Eunha memperhatikan Jungkook yang duduk di sebelahnya. Pria itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membuat senyuman manis nan tulus.
"Kalau gak gini yang ada gua gak bisa berduaan sama lu lagi," lirih Jungkook yang masih terdengar jelas oleh Eunha.
"Hah? Maksud lu?" tanya Eunha memastikan.
Jungkook menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "gak bukan apa-apa." Duh, salting kan dia.
Eunha hanya mengangguk-angguk. Walaupun dia mendengar secara jelas apa yang mantannya itu katakan.
"Mina gimana?" tanya Jungkook memecah keheningan.
"Mina baru tidur habis makan malam tadi," jawab Eunha seadanya.
Sesampainya di vila tadi, Mina diurus oleh Mam Aryn juga Mam Meyra. Pak Cakra, Pak Surya, dan Bu Ara menceramahi yang lainnya. "Baru juga hari pertama udah ada aja," kalimat itu yang Pak Cakra ucap berkali-kali saat menceramahi. Hampir dua jam mereka diam mendengar ceramah.
"Lu kok belum tidur?" Eunha terkekeh mendengar pertanyaan Jungkook.
Ini mengingatkannya pada masa pdkt mereka dulu.
"Lu kok ketawa sih?"
"Gak, ini masih jam tujuh, Kook. Gua biasa tidur jam sepuluhan."
Jungkook mangut-mangut paham.
"Nha, gua mau cerita boleh?" Eunha menoleh ke arah Jungkook. "Iya boleh dong, gua siap dengerin lu." Jungkook tersenyum sesaat merasa kehangatan Eunha.
"Semenjak nenek meninggal gua ngrasa kesepian. Lu tau sendiri kan nyokap bokap gua orang nya gila kerja. Gua ngrasa sendirian, Nha. Terlebih gua anak tunggal. Gua ngrasa gua kehilangan arah, Nha. Mungkin gua emang punya Dokyeom, Mingyu, dan semuanya. Cuman gua ngrasa gak enak kalau ngrepotin mereka semua. Lu sendiri tau kan gimana kedekatan gua sama Nenek Hellena, hampir setiap harinya waktu gua habisin sama nenek." Jungkook menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Matanya terasa berkaca. Jika dia kedip atau mengucapkan satu kata saja, maka air matanya akan luruh.
Entah keberanian darimana Eunha tiba-tiba merangkulnya. Jungkook menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya dan menoleh ke Eunha. Dapat dia rasakan perempuan disebelahnya mengelus punggung tangan dirinya menggunakan tangannya yang satu.
Elusan dari sang mantan membuat kristal beningnya menetes begitu saja. Dia hendak menutupi wajahnya kembali, namun Eunha menahannya. Jungkook mengarah Eunha yang menggelengkan kepala sembari tersenyum. Seolah mengartikan, gak perlu malu sama gua.
Eunha merasakan badan pria disebelahnya bergetar hebat. Eunha menepuk-nepuk lengannya pelan seolah menguatkan. Hanya merangkul ya, bukan memeluk. Eunha tak bicara apapun.
"Lu mau gua kasih saran atau cuma mau didengerin aja?" tanya Eunha lembut, begitu tangis Jungkook mulai mereda.
"Gua cuma mau didengerin, tapi kalau lu mau kasih saran, gua bakal terima." Jawab Jungkook pelan. Sangat pelan. Untungnya masih terdengar oleh Eunha Alea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]
FanfictionAwalnya mereka bersatu sebagai Ivy, karena ada perselisihan mereka berpisah sebagai Devil Boy's dan Angel Girl's. Meski terlihat saling benci, sebenarnya ada rindu yang dalam di hati mereka masing-masing. Start : 24 Agustus 2021 End : 29 Juni 2022...
![Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]](https://img.wattpad.com/cover/282294016-64-k704504.jpg)