Mentari mulai menapakan wujudnya. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua umat di dunia. Namun, banyak juga yang protes mengapa jika hari ini tiba, akan terasa jauh lebih cepat. Yaps, sekarang adalah Hari Minggu. Hari dimana semua dapat bersantai.
Terlihat seorang gadis sedang membuka tirai di kamarnya. Menurut gadis berwajah seperti barbie itu, tak ada sejarahnya hari libur untuk bangun siang.
Sebagai anak perempuan tertua di rumah ia memiliki tanggung jawab serta kewajiban yang besar.
Kaki jenjangnya mengarahkannya pada dapur. Ia tampak berpikir menu sarapan apa yang dapat ia buat.
Biasanya jam segini adik perempuan satu-satunya akan menghampirinya dan membantunya membuat sarapan. Namun sekarang tidak. Adiknya sedang berada di rumah temannya yang sedang sakit.
"Bikin nasi goreng seafood bisa nih, mumpung ada udang sama cumi."
Tak memakan waktu lama, dia selesai memasaknya.
"Non Yerin, kan ada Bibi, Non. Non Yerin bisa minta tolong pada Bibi saja untuk memasaknya."
Yerin dikagetkan dengan suara perempuan paruh baya yang sudah puluhan tahun bekerja di keluarganya.
Yerin tersenyum simpul, "sekalian kok Bi. Tugas Bibi kan juga tidak hanya satu, Bi dan Yerin tau itu sangat melelahkan. Jadi Yerin tidak mau Bibi kelelahan."
"Itu sudah kewajiban dan tanggung jawab, Non."
"Tapi menurut Yerin, selagi pekerjaan itu bisa Yerin handle sendiri, itu kewajiban dan tanggung jawab Yerin."
"Non, Bibi jadi tidak enak, kalau Nyonya Soraya dan Tuan Jefrian tau pasti-"
Yerin memegang lengan wanita paruh baya yang sudah Yerin anggap seperti neneknya sendiri.
Yerin menggeleng dan tersenyum, lalu berkata, "Tidak, Bi. Bi Ijah tidak akan dipecat. Justru mama dan papa akan bangga pada Yerin. Bibi ingat kan, dulu mama dan papa selalu Yerin mendidik Yerin supaya tidak bergantung dengan Bi Ijah atau yang lain."
"Nah karena masakan juga sudah matang, maka sekarang Bi Ijah harus makan bersama kami."
"Tidak, Non. Saya makan setelah Non Yerin juga Den Hoseok dan Den Jaehyun."
Yerin nampak tak suka mendengar penuturan Bi Ijah. "Kenapa, Bi?"
"Saya disini hanya pembantu, Non. Sudah sepantasnya pembantu seperti saya ini, makan setelah majikan selesai."
"Walau kata orang Bibi adalah pembantu, pelayan, atau apapun itu, namun bagi Yerin, Bi Ijah adalah nenek Yerin. Yerin sudah menganggap Bi Ijah seperti keluarga sendiri. Belasan bahkan puluhan tahun Bi Ijah bekerja. Jangan berbicara seperti itu di depan Yerin, Bi. Yerin tidak suka. Bukan hanya Yerin saja, namun Eunha, Jaehyun, Kak Hoseok, mama, papa, dan semuanya juga tidak akan suka mendengarnya."
Bi Ijah tersenyum haru mendengar penuturan nonanya yang satu ini. Baru kali ini rasanya ia begitu dihormati. Keluarga ini memang memiliki attitude yang sangat patut untuk diacungi jempol.
"Baik, Non. Kalau begitu Bibi membangunkan De-"
"Tidak, Bibi duduk saja biar Yerin yang membangunkan Kak Hoseok dan Jaehyun," Yerin menuntun Bi Ijah agar duduk dengan tenang di kursi makan.
Kaki jenjang Yerin membawanya ke kamar Hoseok dan Jaehyun yang berseberangan. Yerin hendak mengetuk namun pintu sudah terbuka dan menapilkan Hoseok yang sudah rapi.
"Kak, ayo makan, aku sudah memasaknya."
Hoseok mengacak rambut sang adik gemas. "Ya, baiklah."
"Kau duluan saja, Kak. Aku akan membangunkan Jaehyun terlebih dahulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]
FanfictionAwalnya mereka bersatu sebagai Ivy, karena ada perselisihan mereka berpisah sebagai Devil Boy's dan Angel Girl's. Meski terlihat saling benci, sebenarnya ada rindu yang dalam di hati mereka masing-masing. Start : 24 Agustus 2021 End : 29 Juni 2022...
![Devil Boy's vs Angel Girl's | 97L [END]](https://img.wattpad.com/cover/282294016-64-k704504.jpg)