***
“Nayla, kamu, mau tau sesuatu gak?” tanya Arka menatap Nayla. Perempuan itupun menarik kepalanya dari Arka dan menatap cowok itu.
“Apa?” tanya Nayla lagi, menunggu Arka melanjutkan perkataannya. Arka masih diam, laki-laki itu menatap langit yang kian gelap.
“Dulu, pas awal kenal kamu aku gak pernah nyangka kalau aku bakal sesayang ini sama kamu, Nay.” Arka menatap Nayla, cowok itu tersenyum hangat. Sedangkan Nayla masih bingung menanggapi. Ini Arka lagi gombal, atau lagi curhat? Pikir Nayla, ngawur.
“Skenario Tuhan, gak ada yang tau, Arka,” jeda sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, “Siapa sangka, kalau aku bakal suka sama kamu. Dulu, aku pikir kamu cuma orang yang sekedar singgah. Tapi, kenyataannya kita ketemu lagi setelah setahun.” Ingatan Nayla, menerawang jauh pada saat satu tahun lalu. Saat dirinya dan Arka bertemu, untuk pertama kalinya.
“Nay, lo mau ikut gue gak? Gue gak ada temen nih.” Suara melengking itu keluar dari ponsel Nayla, membuat perempuan itu mengusap telinganya, pengang.
“Kemana emang?” tanya Nayla, perempuan itu sedikit kesusahan, karena ponselnya ia tempelkan ke telinga menggunakan bahu, tangan perempuan itu sedang mengetik sesuatu di laptop dengan lincahnya.
“Ada deh. Pokoknya lo ikut ya? Satu jam lagi gue ke rumah lo. Bye Nay.”
Sambungan telepon itu di putuskan begitu saja, oleh Adel. Dasar teman tidak ada akhlak, meskipun Nayla menggerutu, perempuan itu tetap memenuhi permintaan sahabatnya. Saat dirinya selesai mengetik, Nayla meregangkan otot-otot tangannya sebentar, setelah dirasa cukup, kemudian Nayla melangkah ke kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian, Nayla sudah siap dengan pakaian rapinya. Perempuan itu mengenakan hodie pink kebesaran, di padukan dengan celana jeans hitam. Rambutnya yang panjang, ia cepol sehingga terlihat lucu, perempuan itu memolesi bibirnya dengan liptint agar tidak terlihat pucat.
“Nayla! Bukain pintu, gue udah di depan nih.”
Satu notifikasi dari Adel, membuat Nayla dengan cepat melangkah ke bawah, perempuan itu mengambil tasnya untuk memasukkan ponsel.
“Lama banget lo Nay. Capek berdiri nih gue!” Adel menggerutu sambil sesekali mengipasi wajahnya dengan tangan, saat Nayla sudah berdiri di depannya, perempuan itu menyengir kuda, tidak enak.
“Sorry deh. Gue kan, gak tau lo ada di bawah. Lagian, ini fungsinya bel buat apa Del, kok gak lo tekan sih.” Nayla menunjuk bel yang ada di sampingnya dengan dagu, belum sempat Adel menjawab sebuah deheman menghentikan mereka.
“Ekhem. Jadi berangkat gak nih?” Pertanyaan itu meluncur dari Wildan, pacar Adel. Nayla mengerutkan dahinya saat menyadari hanya ada satu motor. Tidak mungkin kan, mereka bonceng tiga?
“Bentar-bentar. Ini kok, cuman ada satu motor. Kalau kalian boncengan. Terus gue gimana?” Nayla menatap Adel dan Wildan bergantian, meminta jawaban. Tetapi, Adel hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Wildan sudah memasang wajah tidak enak. Lagian, ini semua adalah rencana Adel. Wildan hanya ikut saja.
“Lo, sama gue.” Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Nayla menatap bingung orang yang baru saja turun dari motor, laki-laki itu kemudian melangkah mendekati mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Amerta (Selesai)
Teen FictionJangan lupa follow sebelum baca || A story teenfiction by @sriwahyyuni9 #RadenwijayaSeries4 Nayla Andara. Perempuan yang dikenal friendly dan juga ramah. Sayangnya, karena luka dimasalalu, membuat Nayla tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk...
