***
Nayla duduk di meja belajarnya, sedari tadi yang ia lakukan hanyalah menatap kertas putih yang di penuhi dengan coretan-coretan. Setelah tadi siang, ia pulang dari danau, ia sama sekali tidak bisa tenang. Perasaan Nayla berkecamuk, takut, khawatir bercampur menjadi satu.
Namun, tidak ada yang bisa Nayla lakukan selain diam. Nayla ingin mengadu tetapi ia tidak tau, harus mengadu kemana dan kepada siapa. Sedari tadi, Nayla mencoba menghubungi Arka, tetapi sampai sekarang cowok itu tidak bisa di hubungi. Bagaimana kalau Arka melakukan hal yang nekat?
Nayla menggeleng pelan, tidak, Arka tidak mungkin akan melakukan hal konyol itu. Nayla yakin, Arka masih cukup waras untuk melakukan hal-hal yang konyol. Nayla memilih untuk ke balkon, melihat pemandangan malam, mungkin akan sedikit membuatnya tenang. Berkali-kali Nayla menghembuskan nafas guna membuat dirinya tenang.
Di sisi lain, seorang laki-laki sedang berbaring di kasur, matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Ingatannya jauh menerawang saat Nayla memintanya untuk berjanji agar tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya. Saat itu, Arka melihat ada rasa khawatir dan cemas di mata perempuan itu.
Apakah benar, Nayla mengkhawatirkannya? Atau hanya perasaannya saja. Tidak, Nayla tidak mungkin mengkhawatirkannya, mungkin itu hanya perasaannya saja. Jika boleh jujur, Arka merasa sangat sakit, saat Nayla memintanya untuk menyerah. Apakah dirinya tidak punya tempat sedikitpun di hati perempuan itu?
Arka menjambak rambutnya kasar. “Arggggh, gue gak bisa, Nayla.” Satu bulir air mata mengalir di pipi Arka. Kenyataannya, Arka sangat mencintai Nayla. Bagaimana cara membuat Nayla mengerti, jika Arka tidak bisa melupakan perempuan itu, bahkan sedikitpun tidak bisa.
Arka harus bagaimana? Menuruti permintaan Nayla, atau mengikuti kata hatinya, yang terus menyuruhnya untuk berjuang. Perlahan Arka bangkit, kemudian mengambil kunci mobil dan juga jaketnya. Arka hanya ingin menenangkan dirinya sejenak. Selanjutnya cowok itu menuruni tangga dengan terburu-buru.
Arka melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mengabaikan teriakan orang-orang yang menyuruhnya untuk berhati-hati. Persetan dengan itu semua, Arka hanya ingin menyalurkan semua emosinya. Setelah beberapa saat, akhirnya Arka sampai di tempat tujuan.
Laki-laki itu melangkah menuju sebuah pohon, kemudian melepaskan jaketnya. Setelahnya, ia memukul pohon itu dengan brutal, berkali-kali. Bahkan berpuluh-puluh kali. Hingga tanpa sadar tangannya mengeluarkan darah. Arka tidak peduli itu, ia hanya ingin menyalurkan semua rasa sakitnya. Selanjutnya Arka meluruh terduduk di bawah pohon.
***
“Nayla.” Nayla masih diam menunggu perkataan Arka, “Kalau gue pergi, apa lo bakal, seneng?” Nayla menoleh menatap Arka yang masih memejamkan matanya, apa laki-laki ini sedang mengigau?
“Maksud lo, apa Arka? Jangan aneh-aneh,” sambar Nayla cepat, laki-laki itu tidak menjawab, kemudian ia menarik kepalanya dari bahu Nayla. Arka melangkah menuju sisi gedung, kemudian ia berbalik menatap Nayla dengan tersenyum hangat.
“Arka, lo mau ngapain? Jangan aneh-aneh,” tanpa sadar Nayla meninggikan suaranya. Laki-laki itu tidak menjawab, Arka merentangkan kedua tangannya, kemudian tersenyum hangat menatap Nayla.
“Gue, pamit. Nayla.” Setelah mengatakan itu, Arka melangkah mundur, sehingga laki-laki itu terjatuh.
“Gak, Arka!” Secepat kilat Nayla menangkap tangan Arka “Lo gila, hah!” bentak Nayla dengan air mata yang bercucuran. “Pegang tangan gue, Arka!” teriak Nayla dengan air mata yang mengalir deras. Laki-laki itu tersenyum menatap Nayla.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Amerta (Selesai)
Novela JuvenilJangan lupa follow sebelum baca || A story teenfiction by @sriwahyyuni9 #RadenwijayaSeries4 Nayla Andara. Perempuan yang dikenal friendly dan juga ramah. Sayangnya, karena luka dimasalalu, membuat Nayla tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk...
