***
Sesuai janji Arka padanya, dan di sinilah ia berada. Nayla mengetuk-ngetukan telunjuknya di pagar besi, sambil sesekali melihat ke arah luar. Perempuan itu kemudian mengeluarkan ponselnya, untuk menghilangkan kebosanan. Setengah jam sudah ia di sini, tetapi cowok itu belum datang juga. Mungkin Arka sedang, ada kelas tambahan pikirnya.
Dari arah kejauhan, Arka melihat Nayla yang sedang duduk di bangku dekat dengan parkiran. Dengan langkah cepat ia menghampiri perempuan itu. Harusnya mereka sudah pulang tiga puluh menit yang lalu. Tetapi, karena kelasnya ada ulangan dadakan terpaksalah ia pulang terlambat.
Tampaknya perempuan itu belum menyadari kehadirannya. Terlihat jelas dari kedua telinga Nayla yang di sumbat dengan earphone, sepertinya perempuan itu sedang mendengarkan musik. Sesekali, mulut kecilnya ikut bersenandung, mengikuti lirik lagu yang sedang ia dengarkan sekarang.
"We go that, power! Power!"
Kira-kira itulah lirik lagu yang bisa Arka tangkap, Arka tersenyum saat melihat Nayla yang seperti memperagakan gerakan dari lirik lagu tersebut. Arka hanya diam memperhatikan, tanpa niat untuk mengganganggu Nayla. Kapan lagi dia bisa melihat Nayla, yang seperti ini kan? Jadi, Arka tidak akan menyia-nyiakannya. Ternyata, Nayla juga hobi dance, ia tidak menduga itu, tetapi saat melihatnya langsung bisa Arka pastikan hal itu benar.
Setelah beberapa saat, Nayla telah menyelesaikan gerakan terakhir dari lagu yang ia putar. Saat berbalik, Nayla baru menyadari jika ada Arka di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tadi, Arka ngeliat gue gak sih? Pertanyaan itulah yang ada dalam benak Nayla sekarang. Jika benar, maka Nayla akan sangat malu.
"Lo udah lama di sini?" tanya Nayla mendekati Arka, terlihat dari wajahnya tampaknya perempuan itu lelah, lihat saja dahinya yang di penuhi dengan keringat. Sepertinya gerakan yang barusan di peragakannya, gerakan yang energik.
"Udah, dari lo dance tadi," jawab Arka kalem, memberikan Nayla sebotol air mineral yang tersimpan di dalam tasnya. Perempuan itupun mengambilnya dari tangan Arka.
"Thanks," perempuan itu kemudian duduk di bangku, di ikuti oleh Arka di belakangnya, Nayla meneguk minuman itu sedikit, setelahnya ia menoleh pada Arka, laki-laki itu sedang memainkan ponselnya.
"Kenapa gak lo panggil gue?" tanya Nayla, menatap Arka. Laki-laki itu menoleh padanya, dan memasukkan kembali ponselnya.
"Gak enak aja, lagian kayaknya lo juga fokus banget, sampai gak sadar ada gue," jelas Arka, kemudian cowok itu mengambil sapu tangan dan menyuruh Nayla, untuk mengeringkan keringatnya.
"Capek ya? Mau pulang sekarang?" tanya Arka, Nayla mengangguk sebagai jawaban, tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih.
Setelahnya, Arka mengeluarkan motornya dan berhenti di depan Nayla. Cowok itu memberikan satu helm pada Nayla, juga memberikan Nayla jaketnya. Karena rok Nayla yang pendek, mengganggu pandangan Arka. Nayla pun mengucapkan terimakasih, setelahnya mereka meninggalkan area sekolah yang mulai sepi.
Tampaknya mereka pulang di waktu yang tidak tepat. Lihatlah, sekarang langit terlihat gelap, mungkin sebentar lagi akan hujan. Sesuai dugaan Nayla, tak berapa lama mereka meninggalkan sekolah, hujan tiba-tiba mengguyur mereka. Sehingga mereka memilih berteduh, di depan sebuah ruko yang lumayan besar, mereka tidak hanya berdua tetapi juga ada anak sekolah lain untuk berteduh.
"Lo kedinginan, Nay?" tanya Arka saat melihat Nayla, yang berulang kali menggosok tangannya, tetapi perempuan itu menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Enggak, Ka, gue baik-baik aja." Lain di mulut lain di perasaan, begitulah pikir Arka, jelas-jelas perempuan itu sedang kedinginan terlihat dari tangannya yang gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Amerta (Selesai)
Novela JuvenilJangan lupa follow sebelum baca || A story teenfiction by @sriwahyyuni9 #RadenwijayaSeries4 Nayla Andara. Perempuan yang dikenal friendly dan juga ramah. Sayangnya, karena luka dimasalalu, membuat Nayla tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk...
