SANDYAKALA AMERTA : 06. DEAL

88 14 3
                                        

“Kejujuran memang menyakitkan, tetapi kebohongan lebih mematikan.”

***

Nayla masih diam menatap kosong ke depan, mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat untuk di makan. Sedari tadi, perempuan itu terus melamun, entah apa yang sedang di pikirkannya. Arka yang melihat pun merasa cemas, selama ia kenal, tidak pernah ia melihat Nayla seperti ini.

Pasti, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran cewek itu. Tetapi, Arka tidak tau itu apa. Arka tidak akan memaksa, jika Nayla tidak ingin menceritakan padanya. Ia akan menunggu Nayla sendiri yang akan menceritakan padanya.

“Nay,” panggil Arka, mengibaskan tangannya di depan wajah Nayla, tetapi perempuan itu masih menatap kosong ke depan. Seperti benar dugaannya, perempuan itu sedang melamun.

Arka menghembuskan nafas pelan, kemudian ia menyentuh pelan tangan Nayla. Perempuan itu terkesiap, saat menyadari tatapan Arka padanya, kemudian Nayla menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya “Apa?” Tetapi, Arka menggeleng sebagai jawaban.

“Kenapa gak di makan? Lo, mau yang lain? Biar gue pesenin.” Arka berdiri hendak meninggalkan Nayla, dan membawa makanan baru, yang mungkin akan di sukai Nayla. Pikir Arka mungkin, Nayla tidak menyukai makanannya, itu sebabnya perempuan itu terus mengaduk tanpa minat.

Tetapi, Arka mengurungkan niatnya, saat Nayla tidak mengizinkannya pergi. Perempuan itu, mengatakan jika ia hanya sedang memikirkan sesuatu. Meskipun begitu, Nayla tidak memberitahukan dia sedang memikirkan apa. Baiklah, sepertinya Nayla masih belum sepenuhnya percaya pada dirinya.

Sejujurnya, sangat sulit bagi Nayla untuk mempercayai orang baru, salah satunya Arka. Meskipun cowok itu selalu baik selama ini, tetapi tidak menutupi kemungkinan, Arka akan menghianatinya suatu saat nanti. Mungkin, bagi sebagian orang, Nayla lebay. Tetapi, di balik itu, Nayla hanya takut jika apa yang pernah ia alami akan terulang kembali.

Rasa takut itu terlalu besar, hingga membuat Nayla enggan untuk mengenal orang baru. Bagi Nayla, mereka semua sama. Baik di depan, tetapi menusuk saat di belakangnya. Layaknya berwajah dua, Nayla benci itu. Nayla benci penghianatan dan kebohongan. Bagi Nayla....

Lebih baik ia menerima kejujuran meskipun pahit setidaknya ia tidak akan berharap apapun. Daripada harus menelan kebohongan, yang setiap saat bisa saja menghancurkannya saat kebenaran itu terungkap.

“Nayla,” panggil Arka, Nayla menoleh menatap Arka. Laki-laki itu membasahi bibirnya, ragu untuk mengatakan sesuatu. “Gue tau, lo gak bisa percaya sama gue. Gue ngerti itu Nay, gue gak akan maksa lo,” ucap Arka tersenyum.

Hati Nayla terenyuh mendengar, ucapan Arka barusan, tanpa sengaja ia menyakiti Arka. Nayla tau itu, tetapi ia juga tidak bisa memaksa perasaannya, karena rasa takut itu selalu menghantuinya. Rasanya, seperti terperosok dalam jurang kegelapan.

“Makasih, dan maaf Arka. Gue gak bermaksud, buat nyakitin lo. Tapi, gue harap lo ngerti keadaan gue. Gue hargai semua ketulusan lo, gue gak bisa janjiin apapun, karena gak ada yang tau ke depannya akan seperti apa. Tapi, gue anggap lo sebagai teman gue.”

Senyum lebar Arka terpampang nyata. Barusan, Nayla menerimanya sebagai teman kan? Dirinya tidak salah dengar kan? Katakan saja Arka lebay, ia tidak peduli. Dengan spontan Arka menangkup kedua pipi Nayla, membuat bibirnya menjadi manyun.

“Makasih, Nay. Gue akan berusaha buat lo percaya sama gue.” Arka mengatakannya dengan tulus, berbeda dengan Nayla yang sedang kesal karena kelakukan Arka barusan. Mereka menjadi pusat perhatian.

Dengan cepat, ia memukul tangan Arka, agar melepaskan tangannya dari pipi Nayla. Sudah ia bilang, Arka itu bisa membuat Nayla kesal setengah mati hingga darahnya seketika mendidih. Arka terkekeh, kemudian melepaskan tangannya.

Sandyakala Amerta (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang