“Tidak ada yang kebetulan, semuanya adalah ketetapan.”
***
Hari ini merupakan hari pertama Nayla bersekolah di SMA Radenwijaya. Sekolah, favorit Nayla. Acara MPLS baru saja selesai, Perempuan itu hanya sendirian. Matanya sibuk kesana-kemari mencari Adel. Sahabat Nayla sejak kelas satu SMP. Nayla memutari lapangan untuk mencari Adel, namun tidak kunjung, bertemu. Pasalnya, Nayla dan Adel beda gugusan beginilah jadinya. Di sini tidak ada yang Nayla kenal selain Adel.
“Nayla.” Suara itu menghentikan langkah Nayla, perempuan itu menoleh ke samping saat ada seseorang yang memanggilnya.
“Kok, lo tau nama gue?” tanya Nayla, perempuan itu menaikkan alis, saat melihat lawan bicaranya yang tersenyum sumringah.
“Akhirnya gue ketemu sama lo lagi Nay. Lama ya, kita gak ketemu.” Laki-laki itu tersenyum, saat melihat Nayla yang masih diam, kemudian ia mengulurkan tangannya. “Gue Arka. Kita pernah ketemu satu tahun lalu, di rumah lo,” jelas Arka.
“Arka?” beo Nayla, namun perempuan itu tetap menerima uluran tangan Arka. Beberapa saat kemudian perempuan itu berseru heboh. “Astaga, sorry Ka. Gue baru inget, lo temennya Adel kan?” tanya Nayla bersemangat.
“Itu, lo inget.” Arka terkekeh, “lo sekolah disini juga?” tanya Arka, mereka melangkah bersama, menuju kantin untuk menghilangkan lelah.
Nayla mengangguk semangat. “Iya, gue sama Adel sekolah disini. Lo, disini cuman sendiri?” tanya Nayla menatap Arka sesekali perempuan itu melihat ke depan.
“Gak, Nay. Gue sama Wildan sekolah disini,” jawab Arka kalem, Nayla mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Nayla, yang masih kaget, dan Arka dengan kecanggungannya. Setelah tiba di kantin, Nayla menemukan Adel yang sedang bersama Wildan. Cewek itu, sedang makan rupanya, buru-buru Arka dan Nayla menghampiri mereka berdua.
“Adel!” seru Nayla heboh, mengangetkan Adel yang sedang makan, hampir saja ia terjungkal karena teriakan Nayla yang membuat telinganya berdengung.
“Heh, lo kalau dateng itu bisa gak sih, gak usah ngagetin gue. Hampir aja gue keselek nih. Gak, lucu kan, besok pagi timbul berita di mading, salah satu siswa baru SMA Radenwijaya, meninggal karena bakso,” ucap Adel panjang lebar, sedangkan yang membuat ulah hanya menyengir tak berdosa.
“Ya, maaf deh. Gue kan, gak tau.” Nayla menarik kursi yang ada di depan Adel dan duduk di sana, diikuti dengan Arka yang juga ikut duduk di sebelahnya.
“Gue, cari kemana-mana. Ternyata lo di sini, Dan.”
Arka menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan Wildan, cowok itu selalu mengikuti Adel dimanapun perempuan itu berada. Sedangkan Wildan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memang salahnya, meninggalkan Arka sendirian, singkat saja. Wildan hanya tidak ingin diganggu oleh Arka. Teman not have akhlak.
“Kok kalian bisa barengan?” tanya Adel, menatap Arka dan Nayla bergantian. Adel tau, dari Wildan jika Arka juga bersekolah disini.
“Tadi, pas nyari Wildan. Gue ketemu nih anak, yang udah kaya anak ayam kehilangan induknya.” Arka melirik Nayla sekilas, membuat perempuan itu menatapnya tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Amerta (Selesai)
TienerfictieJangan lupa follow sebelum baca || A story teenfiction by @sriwahyyuni9 #RadenwijayaSeries4 Nayla Andara. Perempuan yang dikenal friendly dan juga ramah. Sayangnya, karena luka dimasalalu, membuat Nayla tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk...
