***
Sedari tadi yang Arka lakukan hanyalah diam, menatap kosong ke depan. Bahkan, pemandangan malam ini sama sekali tidak bisa membuat perasaannya tenang. Perlahan rasa khawatir dan cemas menyelinap di relung hatinya. Bagaimana kalau perempuan itu melakukan hal yang tidak-tidak. Apalagi sekarang Nayla hanya sendirian di rumah.
Arka menggeleng menghilangkan pikiran buruk yang baru saja melintas di kepalanya. Perempuan itu tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Tetapi, meskipun begitu ia tetap saja khawatir. Dirinya sudah mencoba untuk menghubungi, Nayla. Namun, nomornya tidak aktif, pesannya juga tidak di lihat oleh Nayla sama sekali. Apalagi suasana malam ini sedikit dingin. Mungkin akan hujan, pikirnya.
Persetan dengan itu, tetap saja ia tidak bisa tenang. Ia harus memastikan keadaan Nayla baik-baik saja. Kemudian, Arka masuk dan mengambil kunci motornya serta jaket. Setelahnya, Arka turun, di ruang tamu tidak ada Gayatri ataupun Alia, jadi ia tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka. Biar nanti saja, ia akan menghubungi Alia.
Dengan kecepatan tinggi, Arka melajukan kendaraannya menuju rumah Nayla. Baru setengah perjalanan, hujan mengguyur tubuhnya. Tetapi, Arka tetap melajukan motornya. Jika ia, berteduh maka akan memperlambat perjalanannya, sementara perasaanya tidak bisa tenang sama sekali. Setelah beberapa menit barulah ia tiba di rumah Nayla. Rumah perempuan itu terlihat sangat sepi, tidak ada satupun penerangan dari rumahnya. Sepertinya, perempuan itu sudah tidur.
Arka menekan bell rumah Nayla, tetapi tidak ada jawaban. Lagi, Arka menekan bell rumah Nayla, namun tidak ada jawaban. Hal ini membuatnya khawatir, apa Nayla tidur senyenyak itu?
“Nayla!” panggil Arka, sambil mengetuk pintu. Setelah beberapa saat, barulah pintu terbuka, menampilkan Nayla dengan baju tidur serta rambut yang di cepol.
Saat Nayla membuka pintu, betapa kaget dirinya melihat Arka yang datang dengan basah kuyup. “Pergi.” Dengan cepat, Nayla menutup kembali pintunya.
“Nayla, tolong jangan kaya gini. Gue minta maaf sama lo,” Suara Arka dari balik pintu teredam dengan suara hujan, meskipun begitu Nayla masih bisa mendengarnya.
“Pergi, Arka,” usir Nayla sekali lagi, Nayla yakin, Arka bisa mendengar itu. Setelah itu hening beberapa saat, mungkin Arka sudah pergi pikir Nayla. Perempuan itupun melangkah, menuju kamarnya.
“Nayla, gue gak akan pergi sebelum lo maafin gue!” teriak Arka di tengah hujan, meskipun begitu masih bisa Nayla dengar dengan jelas.
Perempuan itu menyingkap sedikit tirai kamarnya untuk memastikan apakah pendengarannya benar. Ternyata, cowok itu berdiri di tengah-tengah halaman rumahnya membiarkan dirinya di guyur hujan. Padahal bibir cowok itu sudah membiru. Nayla menggeleng tidak percaya.
Meskipun begitu, Nayla tidak perduli. Toh, cowok itu akan pergi, nanti. Mana mungkin Arka rela di guyur hujan. Nayla yakin, Arka masih cukup waras untuk melakukan hal konyol itu. Nayla memilih menarik selimutnya, lalu mematikan lampu kamarnya tak berapa lama perempuan itupun terlelap.
Berbeda dengan Nayla, Arka justru sedang menggigil kedinginan. Bibirnya juga membiru, meskipun begitu tidak mengurangi niat Arka untuk meminta maaf pada Nayla. Dia tidak bisa terus seperti ini dengan Nayla, Arka tidak bisa melihat Nayla mengabaikannya, dan terus marah padanya. Rasanya itu sama saja seperti membunuhnya secara perlahan. Ia tidak perduli dengan guyuran air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia hanya ingin Nayla memaafkannya, itu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Amerta (Selesai)
JugendliteraturJangan lupa follow sebelum baca || A story teenfiction by @sriwahyyuni9 #RadenwijayaSeries4 Nayla Andara. Perempuan yang dikenal friendly dan juga ramah. Sayangnya, karena luka dimasalalu, membuat Nayla tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk...
