***
“Karena gue sayang lo, Nay,” ucap Arka pelan, sangat pelan. Mungkin hanya dirinya yang bisa mendengarnya.
“Ayo, biar gue obatin. Sebagai permintaan maaf gue sama lo, Arka.”
Nayla menarik, tangan Arka agar mengikutinya. Mengabaikan tatapan orang-orang yang ada di sana. Setelah mereka tiba di UKS, Nayla langsung mencari kotak P3K lalu menghampiri Arka yang duduk di brankar. Nayla menarik kursi plastik dan ikut duduk di sampingnya.
“Maaf, Arka. Karena gue, lo jadi kaya gini,” sesal Nayla, sambil mengobati luka-luka Arka dengan telaten, sementara Arka hanya tersenyum saja sebagai jawaban. Arka masih memperhatikan Nayla yang mengobati dirinya, Setidaknya, ini bisa mengurangi sakit lo, Nay, batin Arka.
“Lo gak salah Nay, makasih udah obatin luka gue,” ucap Arka menatap Nayla lama. Sejujurnya, banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Arka. Kenapa Nayla seperti itu? Siapa yang baru saja menghubunginya, sampai-sampai Nayla, memberikan reaksi yang tidak biasa?
Tetapi, meskipun begitu Arka tidak akan bertanya, ataupun membahas hal-hal yang akan membuat Nayla down seperti beberapa saat lalu. Arka tidak akan memaksa, biar saja Nayla yang mengatakannya. Akan ada waktu yang tepat, dan Arka yakin cepat atau lambat ia juga akan mengetahuinya.
“Nayla, sekarang perasaan lo gimana?” tanya Arka, setelah terdiam cukup lama, perempuan itu menoleh padanya dan tersenyum tulus.
“Jauh lebih baik. Makasih banyak, Ka. Karena lo, gue bisa melampiaskan emosi gue.” Arka mengangguk sebagai jawaban, cowok itu menghembuskan nafas pelan, ini entah yang ke berapa kalianya Nayla mengucapkan terimakasih, sampai Arka bosan rasanya.
“Nayla, ini udah yang ke sekian kalinya, lo ngomong makasih. Denger gue, Nay, gue mau dalam pertemanan kita, gak ada yang ngucap maaf atau pun terimakasih. Oke?”
Nayla hanya mengangguk sebagai jawaban. Kenapa Arka itu baik sekali? Kenapa dia mau pasang badan, saat dirinya butuh pelampiasan emosi? Padahal, bisa saja laki-laki itu pergi saat Nayla memintanya. Tetapi, apa yang Arka lakukan justru sebaliknya, dan melakukan hal yang tidak pernah ia duga.
Laki-laki itu bahkan merelakan badannya, untuk Nayla jadikan samsak. Katakan saja, jika Nayla keterlaluan, tetapi jika ia boleh jujur ia sangat bersyukur memiliki teman seperti Arka. Perlu kalian ketahui, selama ini Nayla tidak pernah memperlihatkan titik lemahnya pada siapapun, bahkan pada Adel. Tetapi saat tadi, ia benar-benar tidak bisa menahannya hingga ia memilih untuk melakukan perintah Arka.
“Nayla. Kalau lo butuh teman buat cerita, atau butuh samsak buat pelampiasan emosi lo. Lo bisa dateng ke gue, Nay. Gue emang gak bisa ngasih kata-kata motivasi buat lo, tapi setidaknya. Cara gue bisa buat ngurangin beban lo.”
***
Nayla duduk di kursi belajar, sambil mengerjakan sesuatu di buku tulisnya. Setelah kurang lebih dua jam berkutat dengan buku tulisnya, perempuan itu pun selesai. Nayla meregangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal. Tanpa sengaja ia melihat note kecil yang terselip di bukunya.
Tangannya terulur untuk mengambil note itu. Ternyata note, itu adalah note yang pernah Nayla temukan di lokernya beberapa waktu lalu. Sampai sekarang, Nayla tidak tau siapa pengirimnya. Selain itu, tidak ada lagi note atau apapun yang ia temukan lagi di lokernya. Mungkin, orang itu hanya iseng, begitulah pikir Nayla.
“Gue gak tau lo siapa. Siapapun lo, gue hargai ketulusan lo, tapi gue gak bisa balas perasaan lo. Gue harap, lo bisa dapat yang lebih baik dari gue.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Amerta (Selesai)
Fiksi RemajaJangan lupa follow sebelum baca || A story teenfiction by @sriwahyyuni9 #RadenwijayaSeries4 Nayla Andara. Perempuan yang dikenal friendly dan juga ramah. Sayangnya, karena luka dimasalalu, membuat Nayla tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk...
