Kita Memang Pernah Bertemu

345 43 8
                                        

Lonceng yang terpasang di pintu kafe itu berdenting saat Kennan melangkah masuk. Dengan tas ransel hitam dan kamera yang menggantung di leher, ia berjalan menghampiri laki-laki bercelemek di meja bar. "Satu hazelnut latte dingin ukuran sedang," katanya mengatakan pesanan. "Dan..." Matanya beralih ke lemari pajang berisi roti, kue, serta aneka kudapan di samping meja kasir. "Apa kalian punya roti mentega?"

Barista di depannya mengangguk walaupun Kennan tak melihat karena masih sibuk mengamati makanan yang ada di lemari pajang. "Ya, sepertinya masih ada."

"Aku minta dua," pinta Kennan.

Laki-laki bercelemek itu balik badan mempersiapkan pesanan. Sambil menunggu, Kennan mengamati sekeliling. Matanya mencari-cari keberadaan Patricia yang sejak tadi tak terlihat. "Jun, hari ini kau bekerja sendiri? Di mana Patricia?"

"Dia ke gudang sebentar." jawab Jun dari tempat mesin kopi. "Nanti juga akan kemari."

Kennan berjalan ke deretan kursi setelah menerima segelas kopi serta dua sisir roti panggang berlapis mentega dan keju. Ia memilih kursi sofa yang ditata berhadapan di sudut ruangan. Ia menjatuhkan diri ke sofa itu, meletakkan kamera yang sejak tadi melilit lehernya ke atas meja, lalu melepas jaket denim abu-abu tipis yang dipakai. Setelah menyesap kopinya, ia mendesah panjang sekali sambil menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Ia membiarkan dirinya terkena hempasan angin sejuk dari pendingin udara yang bekerja di ruangan itu.

Kennan menoleh ke jendela besar yang menghadap ke jalanan di depan kafe. Hari ini Seoul terasa terik. Musim semi seperti ini memang membuat suhu udara berubah cepat. Beberapa hari kemarin yang terasa dingin, kini telah berubah layaknya musim panas. Orang-orang berpakaian tebal juga jarang terlihat lalu lalang di luar.

Laki-laki itu merogoh saku dan menyeka dahinya sendiri saat merasa ada tetesan keringat yang meluncur turun ke mata.

"Baru selesai berkeliling?"

Suara dari seorang perempuan menghentikan apa yang dilakukan Kennan. Ia menoleh dan melihat Patricia sedang berjalan menghampiri mejanya. "Yah, begitulah," sahutnya letih.

Patricia duduk di hadapan Kennan. Ia melihat wajah laki-laki itu dipenuhi keringat. Ikal-ikal rambut pendeknya juga tampak sedikit kusut dan berantakan. Namun tak sampai mengacaukan penampilannya. "Kau terlihat bekerja keras sekali."

"Mau bagaimana lagi?" Kennan mendesah pasrah. "Sejak Juwon dipenjara, kita seperti anak ayam yang kehilangan induknya."

Ia kembali menatap ke jendela besar di sampingnya. Kini dengan tatapan menerawang. "Si bodoh itu sekarang malah menjadi guru. Kau harus membuka kafe. Melati membuka butik. Dan aku...." Ia melihat kameranya yang tergeletak di atas meja. "Terpaksa melakukan ini. Sementara yang lain juga pergi sendiri-sendiri."

Patricia menyilangkan kaki dan melipat tangan di depan dada. "Kau benar-benar tidak ingin kembali ke Thailand? Mungkin di sana kau bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik."

"Tidak bisa!" sahut Kennan cepat dan lantang.

Cukup lantang sampai membuat Patricia terkejut. Tetapi dia mengerti alasan Kennan mengatakan itu. "Karena ayahmu?"

Kennan diam, seperti sedang berpikir. Namun lama kelamaan wajahnya lebih terlihat seperti orang murung dibanding orang berpikir. Ia kemudian bertanya, "Bagaimana berkasnya?"

Tahu maksud berkas yang dibicarakan, Patricia segera merogoh saku dan menyodorkan sebuah diska lepas USB ke atas meja, mengarahkannya pada Kennan. "Aku mendapatkannya dari Jio. Isinya surat keterangan kematian istri dan anak Park Boyoung, berita acara pemeriksaan saksi pelapor atas nama Park Boyoung, surat gugatan yang dilayangkan Park Boyoung kepada Korean Airlines, dan surat perintah penyidikan pada Park Boyoung atas tuduhan percobaan pembunuhan petinggi CJ Entertainment."

Dua WarnaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang