Cahaya dari satu-satunya monitor yang menyala di ruangan itu menyorot wajahnya yang sedang serius melihat tayangan Case Closed, seri detektif yang menjadi tontonan kegemarannya. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar 27 inci itu, ia menggerakkan tangan meraba bungkusan kongjeolmi, makanan ringan berupa kue beras berlapis bubuk kacang yang berada di atas meja kerja. Ia meraup isinya dalam satu genggaman tangan, lalu memasukkannya dengan lahap ke mulut.
Dengan mulut masih mengunyah, laki-laki itu tiba-tiba berteriak, "Sudah kuduga! Dialah pelakunya!" Ia mengangkat pantatnya sedikit dari kursi kantor beroda, lalu memiringkan badan ke depan sambil menunjuk monitornya berkali-kali dengan tatapan penuh minat. "Pria itu memang dari awal mencurigakan! Alibinya sangat tidak masuk akal!"
Ia duduk lagi dan tersenyum bangga sambil menepuk dada. "Aku memang tak kalah genius dari Shinichi Kudo, hahaha."
Tawanya terhenti ketika sesaat kemudian suara menyalak seorang wanita muncul dari ambang pintu bersamaan dengan bunyi gebrakan kasar pintu dibuka.
"Jio!"
Wanita itu melotot ke arah laki-laki yang sedang duduk bertongkat lutut di kursi kerja itu. Ia menyalakan saklar lampu memberi penerangan pada ruangan yang masih remang-remang agar dapat melihat seberapa parah Jio bisa mengacaukan ruang kerjanya saat ini.
"Astaga! Sudah kubilang jangan membuat berantakan tempat ini!" bentaknya saat melihat ada empat bungkus kongjeolmi yang telah kosong isinya, serta bungkus-bungkus makanan ringan lain yang berserakan di atas meja. Di bawah lantai juga bertebaran kaleng-kaleng soju dan minuman bersoda berbagai merek.
Jio dengan santai memutar kursinya menghadap wanita itu. Ia menggosok-gosok telinganya sambil berkata tanpa rasa bersalah. "Jiyoung nuna, jangan teriak-teriak begitu. Aku belum tuli."
Wanita bernama Jiyoung itu berkacak pinggang. "Kau sudah sejak pagi ada di sini?" tanyanya kesal.
Tanpa menunggu jawaban Jio, Jiyoung melanjutkan sambil memunguti sampah-sampah di sekitar laki-laki itu. "Sampai kapan kau terus menumpang di rumahku? Bukankah kau bilang sudah punya tempat tinggal baru?"
Jio memutar kembali kursinya menghadap monitor. Jari-jarinya menyelinap ke dalam bungkusan kongjeolmi yang isinya tinggal sedikit. Ia memakan kudapan itu dan berkata santai, "Tidak ada tempat tinggal murah di pusat kota Seoul. Jika aku ke sini setidaknya bisa menghemat biaya listrik dan air."
Ia menoleh pada Jiyoung dan mendapati raut wanita itu tidak suka dengan gagasannya. "Atau... nuna bisa memotong gaji bulananku. Anggap saja ini seperti kompensasi tunjangan tempat tinggal," tambahnya sambil tersenyum berharap itu adalah kesepakatan yang bisa diterima.
Jiyoung mengernyih," Kau bilang sudah dapat pekerjaan baru, 'kan?"
Jio mendesis sembari mengibaskan sebelah tangan. "Itu tidak bisa dibilang pekerjaan. Aku hanya magang di sana. Ia berhenti sebentar lalu menyambung dengan suara lebih pelan dan wajah merenung. "Tidak sebanding dengan pekerjaan yang dulu."
Meskipun terdengar menggumam, namun Jiyoung tetap dapat mendengarnya dengan jelas. "Sebenarnya apa pekerjaanmu sebelum ikut denganku?" timpalnya penasaran.
Karena tidak mendengar jawaban, Jiyoung berhenti memunguti sampah dan memalingkan wajah ke arah Jio. Ia melihat laki-laki itu sedang mendongakkan kepala menumpahkan remah-remah kongjeolmi yang tersisa di bungkusannya ke mulut.
Jiyoung memandangi Jio dengan perasan geli bercampur kasihan. Laki-laki itu memang terlihat sangat menyedihkan. Jio dipecat dari pekerjaan lamanya setahun lalu. Jio adalah adik tingkat Jiyoung ketika kuliah di Australia. Meskipun sebenarnya mereka tidak benar-benar adik tingkat. Fakultas dan jurusan yang mereka masuki berbeda. Jio mengambil komputer sains dan Jiyoung mengambil hukum. Namun jurusan mereka berdua masih berhubungan karena Jio mengambil bidang studi digital forensik. Karena itu mereka masih sering bertemu dalam beberapa matakuliah. Setelah lulus keduanya kembali ke Korea. Mereka tanpa sengaja bertemu kembali setahun lalu tepat sepekan setelah Jio kehilangan pekerjaannya. Sejak saat itu Jiyoung memasukkan Jio ke dalam tim forensik independennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
FanfictionMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
