Gong Taekwang berjalan santai menuju ruang tengah. Ia menjatuhkan dirinya ke atas sofa panjang sambil meluruskan kaki. Ia kemudian mengambil remot di meja di depannya lalu menyalakan televisi dengan remot itu.
"Hyung? Kau sudah pulang? Bukankah kau bilang akan menginap di kampus?" tanya Taewu pada Taekwang saat ia keluar kamar dan melihat kakaknya sedang menonton televisi di sana.
"Aku menyelesaikannya lebih cepat. Jadi hari ini aku bisa tidur di rumah." sahut Taekwang yang kemudian mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan otot-otot di sekujur badan.
"Aku benar-benar merindukan tidur di kasur yang empuk. Selalu tidur dengan tikar membuat tubuhku terasa kaku semua." keluh Taekwang.
Taewu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air lalu kembali pada Taekwang. "Ngomong-omong kapan ujianmu akan diadakan?"
"Dua bulan lagi." jawab Taekwang dengan malas.
"Ternyata masih lama. Kukira ujianmu bulan ini."
"Lama apanya? Dua bulan itu waktu yang cepat."
Taekwang mengarahkan matanya pada televisi di depannya meskipun ia tidak benar-benar memperhatikan apa yang ada di sana. Ia kemudian berkata dengan setengah melamun, "Aku berharap ini segera selesai dan aku segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelah lulus. Jadi kau dan Narae bisa hidup lebih baik."
"Hyung, jangan terlalu keras memikirkannya aku masih punya simpanan uang dari pertandingan terakhirku."
"Semua karena mereka. Abeoji dipenjara karena para wartawan itu. Eomma juga meninggal karena mereka. Jika bukan karena mereka pasti kita tidak akan seperti ini." gumam Taekwang tiba-tiba dengan suara sendu.
Taekwang menoleh pada Taewu dan berkata dengan menggebu, "Memangnya apa salah abeoji? Pesawat itu jatuh karena turbulensi. Apa itu salah aboeji? Apa abeoji layak menjadi pihak yang disalahkan hanya karena saat itu dia yang menjadi pilotnya? Kenapa fokus pemberitaan saat itu diarahkan pada abeoji? Kenapa bukan pada penyebab kecelakaan itu? Mereka memang sengaja melakukannya. Mereka ingin mengkambinghitamkan abeoji. Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kecelakaan itu."
"Hyung, sudahlah. Itu sudah lama terjadi, jangan mengungkitnya lagi. Keadaannya juga sudah seperti ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa." ujar Taewu dengan suara menenangkan.
Taekwang menarik napas dalam-dalan lalu mengeluarkannya perlahan. Ia lalu berkata dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya. "Aku baru saja menemui abeoji di penjara pekan lalu. Dia bilang ingin bertemu denganmu. Jika kau senggang jenguklah dia."
Taewu mengangguk. "Aku mengerti."
"Beralih ke berita selanjutnya. Telah terjadi perampokan pada sebuah minimarket di daerah Donggyo di Mapo. Kejadian ini terjadi pada pukul 11.30 tadi. Sebuah mobil tidak dikenal masuk ke dalam minimarket itu. Seseorang dari dalamnya keluar sambil memberondong tembakan secara membabi buta. Seluruh kaca minimarket pecah dan barang-barang yang ada di dalamnya terlihat berantakan...."
Suara berita dari televisi itu kini menarik perhatian Taewu dan Taekwang. Di layar televisi terlihat sebuah minimarket yang porak-poranda bagian dalamnya. Ada sebuah sedan hitam yang masuk ke dalam minimarket itu dengan bagian bemper depan ringsek serta kaca depan yang pecah. Beberapa plafon terlihat jebol dan menutupi sebagian atap sedan itu. Seluruh barang di rak berceceran dimana-mana. Bukan hanya barang, namun pecahan kaca, sambungan kabel, sambungan pipa dan beberapa mesin serta perabotan terlihat berserakan di sana. Bahkan beberapa rak tampak ambruk.
Suasana di dalam minimarket itu juga tidak seterang di luar. Salah satu lampu yang menempel di langit-langit menyala berkedip sementara lainnya menyala redup dan sisanya mati total. Kamera pengawas yang terpasang di sana juga dalam posisi menunduk semua dengan kaca lenca yang tidak utuh seperti baru saja ditembak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
FanfictionMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
