"Ada 3 negara yang terkena dampak paling parah akibat krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia. Karena parahnya krisis ini bahkan hingga menimbulkan kekacauan politik. Tercatat Soeharto mundur sebagai Presiden di Indonesia, sementara Chavalit Yongchaiyudh mundur sebagai Perdana Menteri di Thailand."
Bel tanda istirahat berbunyi. Guru Lee menghentikan penjelasan di kelas dan merapikan buku-buku miliknya. "Baiklah. kita akhiri sampai di sini, selamat siang."
Guru Lee kemudian pergi meninggalkan kelas. Diikuti para siswa di belakangnya yang mulai berhamburan begitu jam istirahat tiba.
Juwon yang sejak tadi tiduran di mejanya terbangun karena langkah kaki berisik para murid di sana.
Jeni datang menghampiri meja Juwon. Ia memberikan cubitan kecil pada pundak laki-laki itu. "Kau tertidur lagi?"
Juwon terperanjat. Sambil memasang wajah kesakitan ia menegakkan duduknya. "Ya! Jangan datang lalu tiba-tiba mencubitku. Kenapa kau selalu mencubitku? Apa sekarang mencubit orang jadi hobi barumu?"
"Bagaimana jadinya masa depan negara ini jika semua muridnya sepertimu? Suka tidur saat jam pelajaran?" omel Jeni dengan berkacak pinggang.
Juwon menatap jengkel Jeni. "Sejak kapan kau peduli soal masa depan Korea? Daripada menjadi trainee kenapa kau tidak jadi politikus saja jika memang peduli?"
Juwon mengelus bekas cubitan Jeni di pundaknya. "Lagipula siapa yang tertidur? Aku hanya tiduran sebentar tadi."
"Tertidur dan tiduran itu sama saja. Memang ada bedanya?"
"Tentu saja ada. Tertidur itu artinya matamu terpejam dan kau tidak bisa merasakan keadaan sekitar. Kalau tiduran matamu terpejam tapi kau masih bisa merasakan keadaan sekitar. Aku bahkan masih bisa mendengar penjelasan dari Lee songsaenim tadi." jelas Juwon mencoba membela diri.
"Itu terdengar sama saja bagiku." kata Jeni yang kemudian duduk di depan Juwon.
Jeni mengambil ponselnya dari saku. Ia menghidupkan benda itu lalu memperlihatkan pada Juwon layar ponselnya yang menampilkan gambar satu setel pakaian dari sebuah toko daring.
"Hei, jika aku memakai baju ini apa terlihat bagus?" tanya Jeni.
Juwon melihat layar ponsel Jeni sekilas dan berkata singkat, "Bagus."
Jeni mengusap layar ponselnya dan memperlihatkan pada Juwon gambar baju yang berbeda. "Kalau ini?"
"Itu juga bagus." sahut Juwon hambar.
Jeni memperhatikan kedua setelan baju itu beberapa kali secara bergantian. "Mana yang sebaiknya kubeli? Yang ini atau yang tadi?"
"Yang manapun boleh. Toh juga sama-sama baju." ujar Juwon dengan nada yang mengisyaratkan ia tidak tertarik dengan topik pembicaraan ini sama sekali.
Jeni mendecakkan lidah. Ia menatap Juwon dengan sebal. "Sejak tadi kau menjawabnya tidak serius. Aku menyesal bertanya padamu."
"Kalau begitu kenapa kau bertanya padaku? Kau pikir aku tahu soal baju perempuan?" sahut Juwon.
"Aku cuma meminta pendapatmu. Hanya menjawab bagus atau tidak apa susahnya?" gerutu Jeni dengan muka masam.
Juwon membuang napas. "Iya, bagus. Apapun yang kau pakai akan selalu bagus Kim Jeni. Kau puas sekarang?"
"Sudahlah, kau memang selalu seperti ini jika kutanya." gumam Jeni cemberut.
"Memangnya kau mau kemana sampai harus membeli baju baru? Pergi kencan?" tanya Juwon mengalihkan topik pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
FanfictionMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
