"Apa kau yakin mau masuk ke tempat ini?" ujar Rose pada Lisa
Mereka berdua sedang berdiri di depan sebuah gerai kecil diantara deretan gerai-gerai lainnya yang berada di salah satu sudut jalanan Hongdae. Di atas pintu gerai itu menggantung sebuah papan nama dengan tulisan Fortune Teller.
Lisa dan Rose memandangi gerai itu. Ada banyak sekali poster yang tertempel di dinding luar bangunan itu. Poster itu seperti testimoni orang-orang yang pernah datang ke sana. Ada beberapa yang sampai memasang fotonya di poster itu. Diantara foto-foto itu ada juga foto idol yang terpasang di sana. Ada juga logo KBS, SBS, MBC, Mnet, dan JTBC diantara poster-poster itu.
"Hei Park Chayoung, lihat ini. Ada beberapa idol yang pernah datang ke sini. Bahkan ada stasiun televisi yang meliput tempat ini sebagai tempat variety shownya. Kurasa tempat ini sangat terkenal." gumam Lisa sambil menatap salah satu poster dengan foto kru dari stasiun televisi KBS yang sedang berpose dengan seorang idol.
"Aku jadi tidak sabar melihat sehebat apa peramal ini. Ayo masuk!" ujar Lisa semangat sambil melingkarkan tangannya ke pundak Rose dan berjalan masuk ke gerai itu.
Lisa dan Rose lalu duduk berlutut di salah satu meja kecil di gerai itu. Di depannya sudah ada peramal wanita paruh baya berkacamata yang siap meramal mereka. Peramal itu menyapa mereka berdua dengan ramah. "Selamat sore, apa kalian ingin diramal sesuatu?"
"Ahjumma, kami ingin dilihat bagaimana keadaan kami di masa mendatang. Apa nasib baik akan datang?" ujar Lisa.
"Jadi kalian ingin diramal bagaimana jalinan hubungan asmara kalian kedepannya? Apa kalian cocok satu sama lain? Semacam itu?"
"Cocok? Hubungan asmara?" gumam Lisa heran.
Rose mendekat ke arah Lisa dan berbisik, "Sepertinya ahjumma salah mengira kita adalah sepasang kekasih yang meminta diramal hubungan asmaranya. Buka topimu agar tidak ada yang salah sangka."
Rose berusaha memasang seulas senyum dan mencoba menjelaskan. "Ahjumma, kami bukan sepasang kekasih. Dia adalah temanku."
Lisa melepas topinya dan ikut tersenyum canggung. "Saya perempuan, bukan laki-laki."
Bibi peramal itu tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Oh, maafkan aku. Kupikir kau adalah pacarnya. Kau terlihat seperti laki-laki dengan penampilan seperti itu."
Lisa dan Rose ikut tertawa canggung sambil bertatapan satu sama lain.
"Jadi kalian ingin diramal dengan cara apa?" tanya bibi peramal sambil mengambil kartu tarot, sebuah buku catatan kecil, dan sebuah buku besar yang terlihat tebal dan berat seperti kamus namun dengan sampul yang tampak lusuh dan usang.
"Kalian ingin diramal menggunakan tarot, garis tangan, garis wajah, saju, atau kombinasi diantara keempatnya? Aku sarankan kalian menggunakan dua diantara empat itu agar hasilnya lebih akurat." Ujar bibi peramal sambil meletakkan barang-barang yang baru saja ia ambil ke atas meja.
"Ahjumma, saju itu apa?" tanya Lisa yang baru pertama kali mendengar nama itu.
"Itu ramalan kuno yang membaca energi kosmik berdasarkan waktu kelahiran seseorang. Ramalan ini menggunakan jam, hari, bulan, dan tahun saat seseorang lahir." jelas bibi peramal.
"Kalau begitu saya ingin diramal menggunakan saju dan garis tangan." pinta Lisa.
Bibi peramal itu membuka buku catatannya lalu bertanya dan mencatat semua jawaban Lisa. "Siapa namamu?"
"Lalisa Manoban."
"Tanggal lahir?"
"27 Maret."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
FanfictionMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
