Melodi yang sedih ini menyerupai dirimu.
Karenamu aku menangis.
Aromamu merupakan kejahatan manis bagiku.
Aku membencimu, tapi disaat yang sama aku juga mencintaimu.
Sebelum malam gelap memerangkapku, jangan pergi dari sisiku.
Apa kau masih mencintaiku?
Jika kau merasakan yang sama, jangan pergi hari ini.
Jangan tanya mengapa itu harus dirimu.
Cukup tetap bersamaku, tetaplah bersamaku.)*
Jisu masih mendengarkan lagu itu lewat earphone yang terpasang di kedua telinganya. Itu merupakan lagu yang direncanakan menjadi salah satu lagu debut Pink Punk. Ia mendengarkannya sambil menulis sesuatu di atas meja kasir malam itu.
Tak lama kemudian pintu minimarket terbuka dan seorang pria masuk. Jisu masih menundukkan kepalanya sambil tetap menulis sesuatu. Ia tidak menyadari kedatangan pria itu karena earphone yang menyumbat kedua telinganya.
Pria itu berjalan ke arah rak bagian makanan, mengambil beberapa barang dari sana, lalu berjalan ke meja kasir dan berdiri tepat di depan Jisu.
Jisu masih tidak menyadari kedatangan pria itu. Pria itu mengarahkan tangannya pada tangan Jisu dan mengusapnya pelan. Namun belum sempat menyentuh Jisu, gerakan tangan pria itu dihentikan oleh seorang laki-laki yang baru saja datang.
"Jangan menyentuhnya." ujar laki-laki itu dingin.
Laki-laki itu kemudian membuang tangan pria itu menjauhkannya dari Jisu. "Jangan pernah menyentuhnya."
Pria itu mendesah dan terkekeh saat tahu siapa yang menghentikannya. "Kenapa kau berlebihan sekali? Aku hanya ingin menepuknya karena dia tidak melihatku datang. Aku ingin membayar barang-barangku."
Sadar ada suara orang di depannya, Jisu mengangkat kepalanya dan melihat Taewu serta direktur Chongsu sedang berdiri di depannya saling beradu pandang dengan wajah tidak bersahabat.
Jisu melepas sebelah earphone-nya dan mematikan musik di ponselnya lalu berdiri dari kursi kasir. "Taewu? Oppa? Kenapa kalian saling bertatapan seperti itu?"
"Tolong hitung barang-barangku." jawab direktur Chongsu tanpa menjawab pertanyaan Jisu. Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Jisu lalu tersenyum dan meletakkan semua barang yang baru diambilnya ke atas meja kasir.
Jisu mengambil barang-barang itu lalu mengarahkannya pada mesin pemindai barcode satu per satu. "Oppa, kau hanya membeli ini?"
Direktur Chongsu mengangguk.
"Kau tidak makan sesuatu dulu di meja itu?" tanya Jisu sambil mengarahkan kepalanya pada meja yang biasa digunakan direktur Chongsu untuk makan saat ia berada di minimarket itu.
"Ada hal lain yang harus ku kerjakan sekarang." sahut Direktur Chongsu sambil mengambil dompet dari saku belakang celananya setelah total harga belanjaannya muncul di layar komputer kasir.
Jisu mengambil kantong plastik dari laci kasir dan memasukkan barang direktur Chongsu ke sana satu per satu. "Tapi kau berjanji akan mengajariku soal aturan Markovnikov dalam kimia organik."
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa sekarang." ujar direktur Chongsu lalu menyerahkan uang sesuai dengan jumlah yang tertera di layar kasir.
Jisu memberikan kantong plastik itu pada direktur Chongsu dan mendesah pelan sedikit kecewa. "Baiklah, tidak apa-apa jika memang tidak bisa."
"Aku akan mengajarimu lain kali. Aku janji." ucap direktur Chongsu.
Direktur Chongsu menerima plastik belanjaannya dari Jisu lalu kembali menatap Taewu sesaat, kemudian pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
FanfikceMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
