Ting... tong...
Rose berjalan menuju pintu asramanya ketika bel itu berbunyi. Ia membuka pintu dan mendapati seorang perempuan dengan rambut coklat gelap sedang berdiri di depannya. Perempuan itu sekilas mirip Rose. Namun dengan mata lebih lebar dan wajah lebih bulat. Perempuan itu juga lebih tinggi beberapa senti dari Rose. Ia berdiri sambil membawa tas gitar hitam di salah satu bahunya.
Rose tersenyum lebar begitu tahu siapa yang ada di depannya.
"Alice! Astaga, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" ucap Rose dengan semangat dalam bahasa inggris.
Alice menaruh ke bawah tas gitar yang dari tadi ia bawa kemudian merentangkan tangannya pada Rose.
"Rosie posie my little baby chipmunk! Bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu. Sejak menjadi trainee kau jarang sekali menghubungiku." kata Alice dalam bahasa Inggris pula sambil memeluk adiknya itu dengan bahagia.
"Aku juga sangat merindukanmu eonnie. Maaf jika aku jarang menghubungimu akhir-akhir ini." gumam Rose sambil membalas pelukan kakaknya.
"Sebentar, jangan memanggilku dengan sebutan little chipmunk lagi. Sudah berulang kali aku bilang, itu memalukan. Aku sudah besar sekarang, Alice eonnie." protes Rose tiba-tiba.
Alice diam sejenak. Ia melepas pelukannya pada Rose dan menatap adiknya itu dengan heran.
"Apa kau bilang? Coba ulangi lagi."
"Jangan memanggilku little chipmunk lagi."
"Bukan itu, kata terakhir yang kau ucapkan."
"Eonnie? Alice...eonnie?" ucap Rose mengulangi kata-katanya dengan ragu.
Alice tertawa mendengar kata-kata itu.
"Kau memanggilku Alice eonnie? Ini pertama kalinya kau memanggilku seperti itu. Sepertinya kau memang sudah membaur dengan baik di Korea." kata Alice sambil mengusap rambut adiknya.
"Apa itu aneh? Apa terdengar aneh jika aku memanggilmu Alice eonnie?" tanya Rose meminta pendapat.
"Aku lebih suka kau memanggilku dengan Alice saja. Tapi... Yah... Kau bisa memanggilku sesukamu." ujar Alice santai sambil membawa kembali tas gitar yang ia bawa dan berjalan masuk.
"Baiklah, tapi... terlepas dari itu. Aku serius soal jangan memanggilku little chipmunk lagi, Alice." gumam Rose sambil menggeser badannya membiarkan kakaknya masuk.
"Iya, iya. Jadi, apa kau tinggal sendiri di sini?" tanya Alice sambil menyebarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan tak nampak ada orang lain selain Rose di sana.
"Dimana teman-temanmu, little chipmunk?" tanya Alice lagi.
"Alice! Kubilang jangan memanggilku seperti itu!" protes Rose sambil memajukan bibirnya.
Alice menoleh pada Rose dan langsung menghampirinya begitu ia melihat wajah cemberut Rose yang menggemaskan.
"Oh, inilah salah satu yang kurindukan darimu my little chipmunk." celetuk Alice sambil mencubit kedua pipi Rose.
"Sakit!" seru Rose sambil melepas cubitan kakaknya itu lalu mengelus pipinya sendiri.
"Duduklah di sini, aku akan mengambilkanmu minuman." gumam Rose sambil menepuk sofa disampingnya dengan cemberut.
Alice kemudian menjatuhkan dirinya di atas sofa itu sambil matanya tetap berkeliling mengamati ruangan asrama Rose.
Tak lama kemudian Rose kembali sambil membawa satu gelas air putih dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
Fiksi PenggemarMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
