Jisu duduk di samping Taewu sambil membawa makanan miliknya. Ia melihat sebuah nampan berisi makanan di depannya namun tidak ada siapapun di sana.
"Dimana Jeni?"
Taewu menoleh ke arah Jisu begitu gadis itu duduk di sampingnya. Ia menatap Jisu sambil membuang napas.
"Kenapa kau tak bilang Sujin yang menyerang kakakmu?" tanya Taewu tanpa menghiraukan pertanyaan Jisu sebelumnya.
"Darimana kau tahu?" gumam Jisu dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
"Jeni."
"Jeni? Dia tahu darimana?"
"Dia gadis yang cerdas. Bahkan tanpa kau memberitahunya sekalipun dia bisa tahu segalanya."
Taewu membuang napas lagi. "Berhenti mengalihkan topik pembicaraan, bukankah aku sudah bilang padamu untuk bilang padaku jika Sujin macam-macam denganmu?"
Jisu hanya menunduk sambil menatap nampan berisi makanan di depannya tanpa menanggapi kata-kata Taewu.
"Kim Jisu, lihat aku. Aku sedang bicara padamu. Kenapa kau selalu menunduk seperti itu saat kita membahas masalah Sujin?"
"Sudah kubilang aku tidak ingin orang lain terlibat." gumam Jisu lirih.
Taewu menaruh sumpit yang dari tadi ia pakai ke atas meja dengan kasar.
"Apa kau belum mengerti juga?! Lihat apa yang telah dilakukan Sujin padamu! Dia menyerang keluargamu! Mematahkan kaki kakakku! Sudah kubilang sekarang ada Juwon di pihak Sujin! Apa kau pikir bisa menghadapi mereka berdua sendirian?!
Berhenti menganggapku sebagai orang lain dan libatkan aku dalam masalahmu! Semua masalah yang ada hubungannya denganmu sekarang adalah masalahku juga!"
"Gong Taewu, justru itu aku tidak ingin kau terlibat! Juwon bukan orang sembarangan. Bagaimana jika dia menyerangmu?! Bagaimana jika dia melukaimu?! Aku sudah cukup gila dengan perlakuan Sujin padaku. Aku tidak ingin bertambah gila lagi dengan dihantui rasa bersalah saat ada orang lain yang terluka karena diriku." ungkap Jisu.
"Sujin bilang padaku jika awalnya ia ingin meminta Juwon mematahkan kakiku. Tapi karena aku perempuan dan Juwon menolaknya, Sujin malah mematahkan kaki kakakku. Aku sudah cukup menderita dengan hal itu. Aku tidak ingin ada lebih banyak orang yang terluka." ungkap Jisu lagi.
"Apa kau bilang? Dia ingin mematahkan kakimu?"
Taewu menatap lurus mata Jisu. Dia bisa melihatnya. Melihat kepedihan yang sedang dirasakan oleh Jisu dari sinar matanya. Dia baru beberapa bulan di sekolah ini tapi harus mendapat perlakuan seperti ini.
Tiba-tiba mata Taewu melihat Sujin yang sedang duduk di salah satu meja kantin tak jauh dari meja mereka. Raut wajahnya seketika itu juga berubah. Ia menatap lurus ke arah Sujin yang sedang makan. Tatapannya tajam dan dingin.
Taewu beranjak dari tempat duduknya tanpa melepaskan tatapannya dari Sujin.
Jisu melihat Taewu berdiri dari tempatnya dan menyadari Taewu sedang memandangi Sujin dengan wajah tak biasa.
Seolah mengerti apa yang ada di kepala Taewu saat ini, Jisu buru-buru memegang tangan Taewu dan berkata dengan nada bergetar. "Jangan berurusan dengannya, kumohon."
Taewu menoleh pada Jisu setelah gadis itu memegang tangannya. Ia tersenyum sambil mengusap rambut Jisu seolah ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Taewu melepas genggaman Jisu pada tangannya dan mulai melangkah mendekati Sujin.
Taewu duduk di depan Sujin yang sedang menyuapkan sesumpit makanan ke dalam mulut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Warna
FanfictionMenjadi kaya? Menjadi terkenal? Bukan. Ini bukan tentang itu. Ini tentang pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan. Ini tentang kerja keras untuk menjadi apa yang didambakan Catatan : Semua tokoh diluar Blackpink adalah fiktif Peringkat: #153 Jis...
