[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
"Maksud kamu?" Wajah Riana nampak terkejut, tetapi raut kebingungan lebih mendominasi wajahnya.
"Lo gak usah pura-pura bodoh, deh!" hardik Andre.
"Aku gak ngerti sama ucapan kamu, Andre!" Emosi Riana ikut menyulut.
Andre berdiri, membuat posisi keduanya berhadapan. "Oh ... gak ngerti, ya? Mau gue tunjukin fotonya sama lo? Bentar-bentar." Andre mengeluarkan ponselnya dari saku baju sekolahnya, lalu menunjukan sebuah foto Riana dengan seorang lelaki yang difoto dari belakang. Posisi mereka saat itu seperti sedang berciuman.
Pupil Riana melebar, terkejut bukan main. Ia langsung menatap Andre. "Kamu dapet foto itu dari mana? Itu semua salah paham, Andre."
Foto tersebut adalah foto semalam sewaktu di club ketika seorang lelaki berengsek yang ingin mencium bibir Riana, tetapi gagal sebab Faiz menolongnya.
"Lo gak usah menyangkal ucapan gue, deh. Intinya gue gak mau pacaran sama cewek murahan kayak lo!" Jari telunjuk Andre mengarah tepat ke hadapan wajah Riana. Setelah itu, ia meninggalkan perempuan itu sendirian.
Riana terdiam. Kedua matanya berkaca-kaca, siap mengeluarkan butiran air mata saat itu juga.
"Itu foto apaan, dah? Gue gak liat."
"Gue tadi liat sekilas, sih. Si Riana sama cowok. Kayaknya mereka lagi ciuman, mungkin habis itu langsung ngelakuin hal-hal aneh yang lainnya."
"Ih, anjir ... Gak nyangka gue."
Obrolan dari kedua siswi yang berada tidak jauh darinya hanya Riana abaikan. Ia hanya memikirkan bagaimana memberi penjelasan kepada Andre tentang foto itu.
"Murahan banget jadi cewek."
"Biasalah, jalang."
"Ngerendahin harga diri wanita banget."
"Kasian banget ya Andre pacaran sama LONTE selama ini."
"Gak punya malu!"
"Gue kira penampilannya doang yang gak bener, ternyata kelakuannya juga. Eh, apa temennya juga sama, ya? Siapa, sih, temennya? Kifa, bukan?"
"Biasanya, sih, kalau temenan ya sejenis kelakuannya, tapi kayaknya Kifa lebih baik, deh, daripada si LONTE ini!"
Tidak! Ucapan para siswi itu sudah keterlaluan. Riana ingin menyangkalnya, tetapi tidak bisa sebab mereka pasti tidak akan percaya. Tidak ada bukti kuat untuk menyangkal ucapan mereka, yang pasti akan berakhir sia-sia.
Riana sudah tidak sanggup dengan perkataan mereka, hatinya terasa sakit, harga dirinya sudah tidak ada di tempat ini. Riana berlari keluar kantin dengan kedua matanya yang masih memanas.
***
Drama mendadak tentang sepasang kekasih dua tahun sewaktu istirahat pertama di kantin itu kini menjadi perbincangan panas para siswa. Berbagai kelompok pertemanan saling melingkar, heboh membicarakan keburukan hingga melupakan keburukan sendiri. Foto yang sebelumnya diperlihatkan kepada Riana kini tersemat paling besar di mading sekolah. Tidak ada yang tahu siapa pelaku yang sudah menempelkan foto tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Fiksi RemajaSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
