Under The Snow

4.4K 513 66
                                        

Sasuke POV

Aku sampai di depan kediaman Yamanaka setelah berlari menerobos hujan salju yang turun sejak 15 menit yang lalu. Aku membersihkan pakaian dan rambutku dari salju terlebih dahulu sebelum mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu.

Tanganku terangkat, berniat untuk mengetuk pintu. Namun tepat sebelum tanganku mengetuk, pintu di depanku terbuka terlebih dahulu. Aku tersentak kebelakang, agak terkejut. Sakura keluar dari balik pintu, menatapku dan tersenyum lebar. Membuatku terpaku sesaat ketika melihatnya.

"Sasuke-kun!" Gadis itu menghambur memelukku, sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan. Terlebih lagi di depan Ino yang saat ini masih menatap kami dibelakang Sakura.

"Lama!" Sakura mengeluh, dengan suara yang terdengar manja. Aku jadi gemas sendiri. Aku berusaha untuk menjaga ekspresiku, menahan diriku dari memeluk erat gadis ini.

Jarang sekali--terlebih lagi sejak pertengkaran kami yang tak ingin kuingat lagi, Sakura bermanja seperti ini padaku. Rasanya aku ingin merengkuhnya kuat, memeluknya erat-erat.

"Hei, tolong ingat tempat. Ini masih di depan rumahku." Ino melangkah maju, bersedekap dan bersandar di kusen pintu rumahnya.

"Kau baru pulang, Sasuke?" Tanya Ino basa-basi.

"Hn," aku hanya membalasnya singkat.

Aku bisa melihat gadis itu mendengus, namun memilih untuk tidak peduli.

Kutundukkan kepalaku, menatap Sakura yang juga mendongak menatapku. Gadis itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit, membuatku kembali terpaku melihatnya. Ada apa dengannya? Sudah lama Sakura tidak tersenyum selebar itu sejak pertengkaran kami. Sejujurnya aku menyadarinya. Gadis itu menahan dirinya. Aku tahu masih ada yang mengganjal di hati Sakura. Namun, aku tetap tak berani untuk mengungkitnya lagi.

Anggaplah aku egois. Aku tahu. Meski begitu aku tak mau harus berada pada situasi dimana Sakura menatapku dengan tatapan marahnya seperti sebelumnya.

Kulihat Sakura menoleh, meskipun masih berada dalam pelukanku.

"Ino, aku pulang ya. Terimakasih sarannya!" Sakura tersenyum dan mengedipkan matanya, yang juga dibalas dengan acungan jempol dan tawa si Yamanaka.

Aku mengernyit heran, mencoba menerka-nerka saran apa yang Sakura maksud. Ino tidak mengatakan yang aneh-aneh kan? Seketika aku jadi agak khawatir.

"Ayo Sasuke-kun. Sebelum hujan saljunya semakin deras." Sakura menarik tanganku, membuatku tersadar dari lamunan singkatku. Aku mengangguk, menggenggam erat tangan gadis itu dan membantunya menuruni undakan tangga diteras rumah Yamanaka yang agak licin.

"Bye, Ino!" Sakura melambaikan tangannya lagi dengan semangat.

"Ingat saranku, Sakura!" Balas Ino dengan mengepalkan tangannya.

Aku mencoba mengabaikan kata-kata soal 'saran' yang sejak tadi mereka katakan. Aku memilih untuk menarik tubuh Sakura mendekat, membawa gadis itu untuk berjalan disisiku.

Di perjalanan, Sakura tak hentinya bersenandung dan tersenyum. Tampaknya gadis itu benar-benar senang. Aku penasaran apa yang ia bicarakan dengan si Yamanaka, tapi bisa menemukan timing yang tepat untuk bertanya.

"Sasuke-kun, sebentar lagi Natal! Kita beli pohon natal, boleh tidak?" Sakura menggoyangkan tangan kami yang saling menggenggam, mendongak dan menatapku dengan senyum cerahnya.

"Boleh." Jawabku. Akan kuturuti apapun kemauannya. Asal dengan begitu Sakura senang.

Senyum gadis itu semakin lebar, memberikan kepuasan pribadi dalam hatiku.

WHY THIS DIFFERENT? [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang