"KAKAKMU YANG BILANG PADAKU!"
.
.
.
Sunyi masih menyelimuti beberapa detik setelah pernyataan yang bergema dari lisan Sakura. Sasuke masih terpaku dengan wajah piasnya, begitupun dengan Naruto yang rahangnya hampir jatuh menganga tak percaya. Sedangkan si gadis merah muda yang merupakan pelakunya malah memalingkan wajah sambil berusaha mengatur napas yang memburu setelah meninggikan oktaf suaranya.
"Apa maksud--"
"Makanya dengarkan dulu kalau aku bicara!!" Si cantik Haruno nampaknya masih belum puas mencerca. Tidak memberi secuilpun kesempatan untuk siapapun menyela suaranya lagi.
"Kalau kubilang aku tahu caranya ya berarti aku benar-benar tahu, dasar bodoh! Dia sudah memberikan sisa kekuatannya kedalam kristal sihir yang kau berikan padaku. Begitupun dengan alam yang masih akrab dengan secuil energi yang tersisa dalam kepingan ini! Seperti yang kau katakan, kristal ini memiliki energi sekuat chakra Bijuu yang tak bisa diatur oleh tangan manusia. Kekuatan dari alam yang entah berasal dari dimensi mana! Tapi nyatanya semua ini hanya permainan intrik politik dari para oknum yang terobsesi pada garis keturunan agung yang dimiliki Klan Uchiha. SEKALI LAGI INI BUKAN SALAHMU!" Dalam satu tarikan napas kalimat yang sejak tadi terus dijejal masuk oleh perdebatan dua orang di depannya akhirnya berhasil tersampaikan meskipun harus disertai dengan sedikit emosi.
"Sekarang, bisa dengarkan aku, Sasuke, Naruto?" Sakura menurunkan nada suaranya, menatap lurus kedua orang yang kini memasang ekspresi tak jauh berbeda. Naruto dengan ekspresi bingung dan mulut yang terbuka, juga Sasuke yang sepertinya hampir kehilangan pegangan dari segala spekulasi di dalam otaknya yang nyatanya ditepis kuat oleh kata-kata Sakura barusan.
Mendapatkan diam yang ia anggap sebagai persetujuan, akhirnya Sakura memulai cerita panjangnya. Tentang pertemuannya dengan sisa jiwa yang tertinggal karena kekhawatiran seorang Kakak pada adiknya.
****
"K-KAU--!!" Suaranya tercekat, seakan oksigen dalam jantungnya berhenti mengalir untuk sedetik. Sakura seakan tak bisa percaya, dan tak ingin percaya, dengan sesosok bayangan pria yang kini melayang di depannya dan memasang senyum teduh di wajah tampannya. Wajah yang nyatanya benar-benar mengingatkannya pada kekasih berambut hitammnya.
Jubah longgar berwarna merah tua membalut tubuh tembus pandang pria itu. Helai surai hitamnya jatuh di kedua sisi pipi, dengan senyum teduh yang menarik garis matanya.
"Halo, Sakura. Senang bertemu denganmu."
Katakan pada Sakura kalau saat ini ia masih belum pergi ke akhirat. Karena sosok yang kini menyapanya dengan ringan seakan bertemu teman lama, atau mungkin calon adik ipar, tersenyum begitu mudahnya. Sosok yang harusnya kini tinggal nama kenapa bisa ada di depannya?! Bahkan memanggil namanya!
Suara tawa kecil mengalun dari sosok pria itu begitu mendapati wajah Sakura yang tak bisa menyembunyikan ekspresi kaget, bingung, atau bahkan blank. Begitu terbaca, layaknya lembaran halaman dalam sebuah buku cerita.
"Kau tidak perlu takut. Ini bukan akhirat." Sahutan bernada jenaka disampaikannya. Pria itu semakin tak bisa menahan senyum gelinya saat melihat Sakura yang langsung menghela napas lega dan menggumamkan kalimat 'puji tuhan'.
"Aku hanya ingin mengobrol sebentar. Tidak masalah kan? Hmm, bagaimana aku harus memanggilmu? Sakura-chan? Atau adik iparku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
WHY THIS DIFFERENT? [End]
FanfictionSasuke kembali. setelah dua tahun pergi meninggalkan desa untuk perjalanan penebusan dosanya, lelaki Uchiha itu akhirnya kembali ke Konoha. teman-teman seangkatannya menyambutnya, guru nya yang kini jadi Hokage bahkan menelantarkan tugasnya hanya un...
![WHY THIS DIFFERENT? [End]](https://img.wattpad.com/cover/188452515-64-k373772.jpg)