Berharap

124 3 0
                                        

Pov Bronya

Himeko guru kami sekaligus teman dan komandan kami di Pesawat tempur Hyperion, Saat mengetahuinya dari Kiana setelah melawan "Herrscher of Domination" bahwa guru mereka sudah tiada aku merasakan sesuatu yang hilang"lagi" dalam diriku, Tapi pelajaran yang dia berikan padaku dan pada kami semua selalu menjadi semangat untuk terus maju.

Peraasaan ini menjadi tidak karuan saat bertemu dengan orang itu yang mengatakan bahwa "Tidak perlu memikirkannya dia masih hidup" membuatku penasaran meskipun begitu fakta harus diterima seperti apapun kemungkinannya dan kenyataan apapun yang ada.

Pikiranku dan perasaanku ini menjadi lebih aneh lagi saat dia benar-benar muncul di hadapan kami semua. Dulu sebagai orang yang dipaksa menjadi tentara sejak kecil, Aku harus mengubur semua hatiku dan jiwaku untuk terus bertahan hidup. Meskipun aku selalu berpikiran seperti itu orang yang tertidur di ranjang kasur didepanku ini orang yang kupikir tidak akan pernah kulihat kelakuannya lagi, Dalam keadaan yang membuat semua orang yang menyayanginya sangat cemas.

Himeko berusaha memakan sarapan dengan Ketua Kelas Fu Hua menyuapinya sedikit demi sedikit. Saat seperti ini mungkin dia yang paling ingin melakukannya untuk dirinya tapi sekarang orang itu lebih memilih dia disampingku saat ini.

"Ini yang terakhir Himeko, Ahm." Fu Hua menyuapinya dengan lembut dan Himeko menerima itu dengan ekspresi yang terlihat kosong.

"Bagus, Aku harap kau cepat membaik." kata Fu Hua berdiri dengan piring yang kosong.

"Cepatlah sembuh, Agar aku bisa mentraktirmu minum lagi, Dan kali ini jangan berlebihan." Theresa mengatakannya dengan melipat kedua tangannya.

"YA, SEMANGATLAH SEMUANYA MENUNGGUMU." Rozaliya berbicara dengan keras.

"Rozaliya, Bicaramu terlalu keras!" Liliya menegur saudarinya.

"Maaf" Rozaliya menjawab.

Semuanya memberi seruan untuk Himeko tapi ada yang seharusnya benar-benar dengan tegas akan mengatakan ini, Sekarang dia malah diam tidak mengatakan apa-apa.

"Katakanlah sesuatu." Ku pegang pundak Kiana yang ada disebelahku. Apakah karena pengaruh Sirin yang menyebabkannya jadi seperti ini? Tidak aku tidak akan mengatakan itu sekarang.

"Bronya, Aku tidak tau harus berkata apa saat ini?" Ucap kiana dengan nada lesu.

"Katakanlah yang sering Kiana yang bodoh katakan." Secara tiba-tiba aku tersenyum padanya, Sejujurnya aku agak merindukan Kiana yang berisik.

Kiana menutup matanya dan dia-

"Baiklah" Dia berjalan disamping ranjang Himeko dan memegang satu tangannya.

"Himeko, Apa kabar, Aku senang kau masih disini bersama kami, Kurasa saat kenangan kita saat bertarung dengan Herrscher of Domination saat itu percuma saja ya. Kupikir aku kehilanganmu, Kau juga sudah mempercayakan segalanya padaku dan untuk semuanya. Tapi, Tapi semangat yang kau berikan ini masih ada dalam diriku selama ini, Sirin sudah pergi dan sekarang aku menguasai Gem of Void dan Gem of Haste sekarang. Aku sudah menjadi kuat dan ini semua karena dukungan darimu dan dari teman-temanku yang sudah percaya kepadaku. Mei-Senpai, Bronya, Fu Hua, Bibi Theresa bahkan semuanya. Sekarang kita juga memiliki Boruto, Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi rasa terima kasihku tidak akan pernah hilang darinya. Karena itu, Hiks, Hiks, Karena itu kumohon tetaplah semangat untuk hidup ini, Tidak masalah seperti apapun yang akan dipikirkan orang-orang nanti aku.. tidak kita semua akan berjuang, Dan juga aku ingin bersamamu lagi. BERJUANGLAH, PERJALANAN CERITAMU JUGA BELUM SELESAI."

"AYO KITA BERJUANG BERSAMA UNTUK SEMUA YANG INDAH DI DUNIA INI!"

Kiana berbicara dengan mengeluarkan semua pikiran dan perasaannya yang sesungguhnya karena untuk orang yang sudah dia lukai dan orang yang sudah percaya kepadanya, Dia menangis dengan memeluk tubuh Himeko yang lemas. Aku tidak tahu itu berguna atau tidak tapi ada hal yang mengejutkanku dan semuanya. Himeko mencoba mengangkat tangannya dan memeluk Kiana dan dengan muka yang berekspresi seperti menangis dengan senang, Himeko berkata dengan lirih.

"Ini baru Kiana yang aku kenal." Himeko berkata singkat tapi itu membuat yang semua yang ada disini menangis, Bahkan Kiana menangis dengan perkataannya.

Setelah selesai Kiana berdiri dan bersiap keluar dengan semuanya untuk membiarkan Himeko beristirahat.

"Kalau begitu istirahatlah, Kami pergi dulu." Kata Kiana melambaikan tangan kanannya ke arahnya.

Setelah keluar dari kamar Himeko semuanya kembali beraktivitas seperti biasanya.

"YAK, Setelah ini Fu Hua dan Bronya mau bantu aku latihan?" Kiana mengangkat kedua tangannya berkata dengan semangat ke Fu Hua dan aku.

"Berlatih yap, Itu memang yang seharusnya dilakukan." Kata Fu Hua dengan seksama.

"Bagus, Bronya kamu ikut." Kiana bertanya padaku.

"Kami berdua juga ikut." Kata Rozaliya dan Liliya bersamaan.

"Kalian latihan terlebih dulu aku ingn melihat Seele dikamar Boruto." Jawabku dengan datar.

"Ee, Apa tidak apa-apa masuk kamar Boruto tanpa bilang padanya?" Rozaliya kaget dengan pernyataan Bronya.

"Aku rasa tidak apa, Akan kujelaskan dengannya nanti dia pasti mengerti."

"Begitu, Baguslah." Kata Rozaliya dengan ceria.

"Aku juga, Karena tidak ada pekerjaan aku akan beristirahat hari ini." Theresa berkata dengan semangat.

"Benarkah?" Tanya Liliya penasaran.

"Ya, Einstein dan Dr. Tesla bilang sisanya akan mereka tangani tentang masalah Schicksal dan World Serpent, Meskipun aku khawatir apa yang dilakukan kakek tapi tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang." Kata Theresa dengan bertenaga.

"Hm" Liliya menjawab.

"Baiklah, Jika ada apa-apa hubungi kami ya." Kata Kiana dan semuanya pergi ke tempat latihan St. Freya karena tidak ada pelajaran praktek lapangan hari ini jadi kami menggunakannya, Tentunya dengan meminimalisir kerusakan yang akan terjadi.



Ini hanyalah fanfiction murahan, Tidak perlu dianggap serius.

Boruto dan Honkai impact hanyalah milik penciptanya.

Boruto x Selee(???) (Boruto x Honkai Impact)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang