31. Backstreet?
Aurora terbangun dari tidurnya, ia membenarkan posisinya menjadi duduk. Cewek itu melirik Aldi yang tertidur sambil memeluk guling. Ia memang tidur bersama Aldi sedangkan Ashraff tidur bersama Aila.
Aurora bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Cewek itu memegangi kepalanya yang terasa pusing, cewek itu terbatuk-batuk. Aurora memandangi dirinya di cermin wastafel, ia tersenyum kearah dirinya sendiri.
Ukhuk ukhuk
Aurora melirik tangannya yang terdapat bercak darah dari mulutnya. Cewek itu buru-buru mencucinya dengan Air mengalir. Aurora mengusap perutnya, lembut. Bagaimana Jika Dirinya lebih dulu pergi sebelum melahirkan bayi ini?
"Maafin Aurora, tuhan. Tapi kali ini saja, berikan Aurora kesempatan hidup sampai bayi ini lahir. Setelahnya Aurora serahkan Semuanya kepadamu Tuhan." Lirih Aurora menitihkan air matanya.
Aurora sangat takut hidupnya tidak akan lama lagi dan bayi ini belum juga lahir. Ia sangat takut Aldi akan membencinya.
"ekhem, Siapa didalam?" Tanya seseorang dari luar.
Aurora menghapus kasar jejak Air mata di pipinya. Cewek itu menatap dirinya dikaca sebentar, lalu membuka pintu toilet.
Ashraff samar-samar menatap Aurora, Aurora menelan ludahnya sendiri melirik Ashraff. "Bang Ashraff mau apa?" Tanya Aurora.
"Mau Buang Air Kecil," jawab Ashraff khas suara orang bangun tidur. Aurora memberikan jalan dan mempersilahkan Ashraff untuk masuk kedalam toilet.
Beberapa menit kemudian, Ashraff keluar dengan wajah yang sudah terbasuh oleh Air. Ashraff mendekati Aurora dan memegang kedua pundaknya.
"Kenapa?" Tanya Ashraff menatap manik mata Aurora lekat.
Aurora menggeleng, pelan. Bukannya menjawab cewek itu justru memeluk Ashraff dengan erat. Ashraff terdiam sebentar,
"Maafin Al Udah bikin Aurora kayak gini, ya?" Ucap Ashraff mengusap lembut rambut Aurora.
"Enggak Papa Bang, Semua udah kejadian."
"Abang juga mau minta maaf sama Aurora, kalo selama ini Abang ngira Aurora udah enggak ada."
Aurora melepaskan pelukannya, ia tersenyum hangat kearah Ashraff. "Abang seneng, akhirnya Al bahagia sekarang karena bisa ngelihat Aurora lagi. Dia Kangen banget sama Aurora tau," Ashraff terkekeh "dia selalu ceritain mimpinya ke Abang kalo ketemu Aurora di mimpi."
"Kalo bang Ashraff Kangen Enggak sama Aurora?" Tanyanya menautkan alisnya. Ia dulu memang lumayan dekat dengan Ashraff.
Ashraff terkekeh, cowok itu Menjawil pelan hidung Aurora. "Aurora mau Abang Belah jadi dua?"
Aurora menggeleng, takut.
"Canda. Kalo Abang bunuh Aurora, Nanti Ponakan Abang Gimana kabarnya?!" Kekeh Ashraff.
"Al belum bangun?"
"Belum kayaknya."
"Emang bener bener tu Calon Bapak! Bukannya Bangun, Malah Masih Enak-enakkan Tidur."
"Yaudah, Aurora mau mandi dulu, mau sekolah."
"Eh Bentar Bentar, Mau Nanya!" Cegah Ashraff Cepat, Mencekal Tangan Aurora.
"Tadi Malem, Kalian Buat Aneh Aneh Lagi Enggak?"
Aurora Terkekeh kecil. "Eheheheh, Enggak Bang,"
"Bagus, Soalnya Ada Ala! Abang Gamau Sampai Dia Lihat Hal Yang Aneh-aneh"
Aurora mengangguk, tersenyum mengerti. Lagi pula Jika Aldi Kembali Berulah, Ia Tidak Akan Tinggal Diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASHALA; A3 [END]
Fiksi RemajaBagaimana Rasanya Memiliki Abang Seorang Psikopat dan Seorang Ketua Gangster? Setiap harinya Bahkan Aila Harus Siap Sedia Mengobati dan membersihkan Luka Luka Ditubuh Abangnya Akibat Berkelahi. Tetapi, Kehadiran Aila itu Justru Membuat Ashraff dan A...
![ASHALA; A3 [END]](https://img.wattpad.com/cover/286933182-64-k681604.jpg)