42. Melepaskan.
"lho, Rian?"
Ghina kaget ketika mendapati Rian keluar dari barisan shaf cowok. Ditangan Kiri Ghina terdapat lipatan mukena berwarna Putih miliknya.
Rian menatap Ghina sekilas.
"Kok Lo Bisa disini? Ada Ashraff ya?" Tanya Ghina.
Rian mengangguk, lalu menunjuk Ashraff Dengan dagunya. "Tuh." Ghina mengikut arah dagu Rian. Ia Menatap Sebuah Mobil yang terparkir di Depan Masjid.
"Lo Nanyain dia, Pasti Kangen sama Ashraff kan?" Tebak Rian tersenyum senang. Cowok itu menarik tangan Ghina, mendatangi Ashraff didalam mobil.
Ashraff membuka pintu mobil dan keluar. Rian mendorong pelan punggung Ghina Agar lebih mendekat, Ghina hanya menunduk.
Ashraff menatap lekat Ghina. "Kamu Apakabar?"
Hanya Gelengan yang Ghina tunjukan. Cewek itu Sama sekali tidak membuka suaranya.
"Aku Kangen." Lanjut Ashraff tersenyum.
Rian hanya memandangi interaksi keduanya. Hatinya merasa lega telah mempertemukan Ashraff dan Ghina kembali.
Ghina mengangkat pandangannya. Matanya menatap mata Ashraff dengan dalam.
"Kamu Enggak Mau Peluk Aku?"
Tanpa Aba-aba Air mata Ghina jatuh membasahi pipinya. Cewek itu lari Berhambur Masuk kedalam dekapan Ashraff. Ghina merindukan pembunuh tampan ini.
Ashraff mencium Rambut Harum Ghina dengan Hidungnya. Cowok itu memejamkan matanya, untuk tidak menangis Lagi. Berhari-hari, ia menyiapkan mentalnya.
"Ashraff, Maafin Aku Ashraff."
"Aku Minta maaf sama kamu."
"Maafin aku Selama ini bikin Kamu Susah."
"Aku Janji Enggak Akan ninggalin kamu."
"Aku Janji akan selalu ada di samping kamu."
"Aku enggak akan Pergi."
"Aku Akan Selalu bersama kamu."
Ashraff mengacak Rambut Ghina gemas, Cowok itu memegangi Kedua Pundak Ghina dan mengelusnya pelan.
Ashraff tersenyum. "Aku Udah Maafin Kamu, Sayang."
"Aku Yang Salah."
Ashraff mengambil tangan Ghina dan menggenggamnya sangat erat. "Tapi Maaf .... Aku Enggak Bisa Menjamin kita Terus Bersama."
"Kenapa?" Tanya Ghina dengan Suara Parau.
"Aku Enggak Mau Melanjutkan Sebuah Hubungan Yang Enggak Akan Pernah Ada Ujungnya."
"Rian, Sini!" Panggil Ashraff.
Rian menatap Ashraff sebentar lalu mendekat. Ashraff meraih tangan Rian dan menyatukannya dengan tangan milik Ghina.
"Rian, Gua Mohon Sama Lo Untuk Jagain Ghina. Buat dia Bahagia sampai dia bisa Lupa Akan kehadiran Gua."
"Ghina, Aku Mau Kamu Sama Rian Bersatu. Bunda Pasti Juga Senang denger Ini. Anaknya Bunda Enggak perlu Pindah Agama demi Laki-laki Brengsek Kayak Aku."
Rian menangis. Kedua orang itu menggeleng bersamaan Membuat Air mata mereka berjatuhan.
"Enggak Ash. Lo Bisa Sama Ghina..." Lirih Rian.
Ashraff terkekeh, geli. "Enggak, Yan. Kisah Gua sama Ghina udah selesai. Kita Beda dan Enggak akan pernah bisa bersatu."
"Gua Titip Ghina Sama Lo Ya, Yan?" Ashraff menepuk dua kali Pundak Rian.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASHALA; A3 [END]
Fiksi RemajaBagaimana Rasanya Memiliki Abang Seorang Psikopat dan Seorang Ketua Gangster? Setiap harinya Bahkan Aila Harus Siap Sedia Mengobati dan membersihkan Luka Luka Ditubuh Abangnya Akibat Berkelahi. Tetapi, Kehadiran Aila itu Justru Membuat Ashraff dan A...
![ASHALA; A3 [END]](https://img.wattpad.com/cover/286933182-64-k681604.jpg)