35. A3; Meninggalkan

495 48 52
                                        

35. Meninggalkan

Aila langsung berlari memeluk seorang Pria dengan nama, Bram Sanjaya itu. Bram balas memeluk Aila dengan erat, ia sangat merindukan Anak perempuannya ini.

"Papa, Udah bebas dari penjara?" Tanya Aila menatap wajah Bram dari bawah.

Bram mengangguk dan tersenyum. Ia mengusap Surai Rambut Aila. "Aila mau ikut Papa Enggak?"

"Kemana?"

"Hidup bareng sama mantan istri Papa!"

Aila terdiam. Ia melepaskan pelukannya, dari Bram. "Abang ikut?"

"Enggak dong, Biarin mereka hidup berdua! Aila Enggak usah peduliin mereka!"

"Tapi pa..."

"Aila lihat sekarang, Kenapa Aila bisa sampai lari-larian Gini? Pasti disuruh sama Abang Aila yang brengsek itu kan? Kalo dia Sayang harusnya dia enggak nyuruh Anak kesayangan papa lari gini." Bram memeluk Aila lagi, Aila kembali terisak.

"Aila janji bakal ikut Papa, tapi dengan satu syarat."

"Apa itu Sayang?"

"Bebasin bang Ashraff dikantor Polisi."

Bram diam sebentar, kemudian ia mengangguk mantap. "Asalkan Aila ikut Papa, Papa Akan turutin Semua kemauan Aila."

Aila diam-diam menangis. Jujur, ia tidak tega meninggalkan kedua Abangnya itu. Meskipun Ashraff dan Aldi membencinya dan tidak menginginkan kehadirannya, Aila justru sangat menyayangi keduanya. Apapun Akan ia lakukan untuk keduanya.

Bram menyuruh Aila untuk masuk kedalam mobilnya. Itu adalah mobil pemberian dari mantan istrinya. Aila duduk kedalam mobil, Matanya terus memandangi kaca mobil dan fajar yang sebentar lagi akan terbit.

Aila tidak ke kantor polisi, Bram malah membawa Aila ke Rumah mantan istrinya. Urusan Ashraff dibebaskan, ia bisa meminta orang suruhannya.

Bram menyuruh Aila Masuk kedalam Rumah besar. Aila melangkahkan kakinya, masuk. Ia mengedarkan pandangannya, rumahnya lumayan mewah. "Papa langsung Anter Aila ke kamar ya. Lihat tuh, mata Aila bengkak gitu, begadang nangisin Aldi kan semalaman?"

Aila hanya membalas dengan senyuman, tipis. Ia mengikuti Bram naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Bram menghela nafasnya, melihat raut wajah Aila yang terlihat lesu.

"Udah enggak usah mikirin tuh dua Abang Enggak guna! Disini Aila juga Punya Abang yang pastinya bakal baik sama Aila."

Aila menatap Bram. Ia bahkan tidak tahu mengenai hal ini. "Siapa?"

Bram tersenyum, ia menarik selimut dan menutupi tubuh Aila. "Nanti Aila tau sendiri. Oh iya, Aila jangan kemana-mana, tidur dulu! Abangnya Aila mungkin lagi tidur sekarang. Pulang Sekolah nanti, Aila bisa main sama dia! Sekarang bobo dulu!" Suruh Bram, kemudian mengecup singkat kening Putrinya.

Bram mematikan saklar lampu dan keluar. Aila menatap langit-langit kamar barunya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada Juned yang menemaninya lagi, tidak ada lagi pelukan hangat dari Ashraff dan Aldi.

"Jagain Adik kamu, jangan sampai dia kembali lagi kepada kedua Abangnya itu!" Bisik Bram.

"Jagain Adik kamu, jangan sampai dia kembali lagi kepada kedua Abangnya itu!" Bisik Bram

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ASHALA; A3 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang