Sedikit Bermain
~°•°~
Seorang remaja terlihat mantap berjalan memasuki lobby sebuah perusahaan, menyorot dingin kearah depan dengan menghiraukan sapaan para karyawannya yang usianya bahkan melebihi dirinya.
Langkahnya berhenti sejenak di depan lift khusus saat salah satu dari total dua orang yang sedari tadi mengikutinya dari arah belakang memencet tombol di samping pintu. Lalu melangkah masuk saat pintu lift didepannya bergerak terbuka.
Wajahnya masih menampakkan raut datar, dengan setelan jas formal yang semakin membuatnya tampak berwibawa di usia mudanya.
"Apa semuanya sudah siap di ruang pertemuan?" Tanyanya memastikan, dengan langkah keluar dari lift yang sudah mengantarkan mereka kelantai teratas gedung perusahaan.
"Sudah tuan muda, bahkan sudah sejak lima menit yang lalu." Dan remaja itu hanya mengangguk.
Langkahnya terus berlanjut, memasuki sebuah ruang pertemuan dengan total lima belas orang yang telah menunggunya dengan bincang-bincang ringan.
"Maaf saya terlambat." Ujarnya dingin, yang dengan cepat dibalas kalimat maklum dengan bungkukan hormat menyertai.
"Kalian bisa kembali duduk."
Lalu rapat langsung saja dimulai. Beberapa pihak terlihat menyampaikan pendapat dengan pihak lain yang mencoba menyanggah ataupun menambahi. Sedangkan remaja yang tak lain adalah CEO muda dari perusahaan tersebut hanya memantau dengan sesekali mengambil keputusan. Dan semua itu berlangsung hingga hampir dua jam lamanya.
Hingga dipertengahan rapat, CEO muda itu berseru sebab meminta sedikit atensi. Yang tentu saja langsung membuat semua pihak di dalam ruangan itu menatapnya penuh tanya.
"Saya hanya akan menyampaikan satu hal penting kepada kalian semua." Lalu netra hitam itu bergulir kearah seorang pria paruh baya seumuran ayahnya yang juga terlihat tengah menatap penuh padanya. "Saya sudah memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerja sama dengan anda, tuan Abraham."
Si pemilik nama yang namanya baru saja di sebutkan CEO muda itu langsung menyorot tak percaya, pun dengan suara gaduh yang langsung memenuhi ruangan sebab keputusan yang diambil tiba-tiba.
Padahal, semua pihak yang terlibat dalam rapat penting siang itu pasti tahu dan paham. Bahwa hubungan kedua perusahaan itu sudah terjalin cukup lama, bahkan sebelum perusahaan itu dipimpin CEO yang sekarang.
"A-apa saya dan perusahaan saya telah melakukan kesalahan?"
CEO muda itu masih terlihat tenang, lalu menggeleng kecil. "Tidak. Saya hanya mengambil keputusan itu untuk sedikit mengamankan masa depan perusahaan saya. Karena saya tidak ingin jika nantinya saya harus bekerja sama dengan calon pewaris perusahaan yang memiliki sifat dan sikap yang kurang bisa mencerminkan perilaku seorang pemimpin."
Lalu remaja itu terlihat berdiri dari tempatnya, yang tentu saja langsung diikuti semua pihak yang ada di dalam ruangan itu. "Saya selesai, dan rapat akan di lanjutkan dengan sekertaris pribadi saya yang akan memimpin." Kemudian berlalu pergi.
Tapi baru beberapa langkah, pergerakannya harus terhenti sebab Abraham yang kembali bersuara. "Apa yang anda maksud adalah putra sulung saya?"
"Apa anda punya pewaris lain selain dia?"
Abraham terdiam sesaat, "Tidak. Tapi tuan muda Rencaka, apa yang sudah putra saya lakukan sehingga anda bisa mengambil keputusan sebesar ini?"
Ya, remaja tujuh belas tahun yang sudah menyandang gelar sebagai CEO muda sebuah perusahaan itu tak lain adalah Rencaka Arsanta Rajavardhana. Putra tunggal pemilik RJ Corp. yang baru diperkenalkan dimuka umum bersamaan dengan hari keduanya menjadi siswa baru di sekolahannya. Bahkan remaja itu sudah diberi tanggung jawab besar untuk memegang beberapa anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, salah satunya perusahaan yang saat ini sedang menjalankan rapat tahunan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Simpang { END }
FanfictionJika fajar selalu identik dengan si kuat Jendarkala, maka kehangatan senja tak pernah terlepas dari dekap erat Rencaka. Tapi bukankah fajar dan senja tak akan nampak indah tanpa jingganya? Maka begitulah alam bekerja, menghadirkan sosok Nakarsa untu...
