Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°°°°°°°°°
"Akh..."
"Sorry, gue ga sengaja."
"Iya, gapapa kok."
Fiona memungut kertas-kertas yang berserakan di bawah kakinya.
Teriakan para gadis di sekitar lapangan kampus membuat Fiona mengalihkan pandangannya pada seseorang yang kini sibuk membantunya memungut kertas.
"Ini, maaf ya." kata orang itu sambil tersenyum ke arah Fiona.
Senyuman manis dengan dimple di kedua pipinya.
Jantung Fiona berdebar saat melihat senyum pria itu.
Gadis -gadis di sekitar lapangan menjadi lebih histeris ketika melihat senyum manis pria itu.
Fiona yakin, mahasiswa itu pasti sangat populer.
"Gue duluan ya." Katanya lagi, dan berjalan melewati Fiona.
"Tunggu..!" teriak Fiona pelan, agar tidak terdengar oleh para gadis-gadis disana.
"Apa Kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Fiona.
"Mungkin. Kita kan satu kampus." katanya lagi dan meninggalkan Fiona.
Pria itu berjalan dengan gadis-gadis kampus yang mengikutinya dari belakang.
Fiona hanya bisa menghela nafas dan berlari kecil menuju ruangan dosen untuk menyerahkan tugas yang belum dikumpulkannya.
Selama dua minggu terakhir ini, Fiona bekerja keras untuk belajar dan juga berfikir keras agar bisa mengingat tentang kejadian yang mungkin pernah dialaminya sebelum ia terdampar.
Tetapi Fiona tidak bisa mengingat apapun. Hal itu membuat Kun dan Jeno sangat melarangnya untuk memikirkan yang tidak penting.
Karena yang paling penting adalah diri Fiona yang sekarang, sudah selamat.
"Fio ya?" tanya dosen ekonomi dan bisnis, saat Fiona sudah sampai di ruangannya.
"Iya pak."
"Wah, rapi banget tulisan tangan kamu. Tidak salah kalau Jeno selalu banggain kamu di kelas."
Fiona tersipu malu.
"Kalau gitu saya permisi ya pak." kata Fiona setelah menyerahkan tugasnya.
"Eh tunggu dulu Fio. Bapak boleh nitip laptop gak ke ruangan ini?" kata Dosen itu sambil menyerahkan laptop dan kertas bertuliskan nomer ruangan.
"Sekalian bilang, bapak telat dateng soalnya ada rapat bentar. Suruh mereka untuk mempersiapkan bahan presentasi."
"E- iya pak. Ini kakak tingkat kan pak?" tanya Fiona memastikan.
"Iya Fio. Jangan lupa panggil mereka kakak ya."
Fiona mengangguk dan keluar.
Ia berjalan menuju ruangan F no 2.
Dari luar ia bisa melihat para kakak tingkatnya sedang duduk di kursi masing-masing dengan tenang. Ada yang membaca buku, sibuk dengan laptop, dan ada juga yang tidur.
Kenapa auranya seperti ini?
Tertib sekali, pikir Fiona.
Fiona mengetuk pintu sambil memasuki ruangan itu.
"Permisi, ini pak Simon Dominic nitip laptop. Katanya pak Simon telat dateng karena ada rapat bentar. Jadi disuruh untuk siapin bahan presentasi."
"Ini, aku taruh disini ya."
Fiona menaruh laptop di atas meja depan.
Sementara itu, para kakak tingkatnya menatap Fiona dengan tenang, dan kemudian kembali pada kegiatan masing-masing.
Astaga, dia tidak dianggap nih disini?
"Hei, thanks ya."
Fiona terkejut karena sesorang menepuk bahunya secara tiba-tiba dari belakang.
"Eh, iya. Sama-sama." jawab Fiona gugup.
"Lo inget gue kan? Tadi gue yang ga sengaja nabrak lo di lapangan."