18:20 pm
Lokasi camping.
°°°°°°°°°°°°°
"Gue gak ikut jurit malam deh." kata Nana pada teman-temannya yang sibuk memasang tenda.
"Bacot." sahut Renjun sambil membenarkan letak kaca matanya.
Sedangkan Fiona hanya duduk di bawah sebuah pohon, sambil memandang sungai-sungai yang bisa terlihat dari lokasi mereka.
"Fiona, nanti malem pasangan sama gue yuk."
Jaehyun mencubit pipi Fiona dan membuat gadis itu menoleh ke arah Jaehyun yang sedang berdiri di sampinya.
"Jaehyun, hai. Lo ikut camping ternyata." sahut Fiona ceria, saat teman berceritanya itu ternyata juga ikut camping.
"Gue kira lo gak ikut. Katanya kakak lo gak ngasi." cibir Jaehyun, kemudian duduk di samping Fiona.
"Gue takut lo bakal nyulik gue, kalau gue gak ikut." canda Fiona sambil memukul bahu Jaehyun.
Jaehyun memegang tangan Fiona agar gadis itu berhenti memukul bahunya.
"Jawab dong!" kata Jaehyun sedikit tidak sabaran.
"Apanya?" sahut Fiona penasaran.
"Nanti malem mau kan pasangan sama gue, acara jurit malam." kata Jaehyun memperjelas.
Fiona mengangguk.
"Pasti lah. Badan lo kan kekar, jadi makhluk hutan gak akan berani ganggu gue." sahut Fiona sambil tertawa.
Jaehyun bernafas lega, saat melihat Fiona menunjukkan wajah yang berseri-seri. Tidak murung seperti sebelumnya.
"Eh bukannya itu Doyoung?"
Suara Jisung membuat Fiona dan Jaehyun menoleh. Namun, mereka tidak melihat Doyoung disana.
Mungkin Jisung salah lihat.
-
Benar saja, pukul sebelas malam, Jaehyun sudah siap menggandeng tangan Fiona untuk acara Jurit malam.
Mahasiswa lain juga sangat antusias menunggu acara itu.
Mereka menggandeng pasangan yang sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari, mungkin.
Namun, hal yang menyebalkan pun terjadi.
Panitia kegiatan camping justru menentukan pasangan untuk jurit malam secara acak.
Caranya adalah dengan menyuruh mereka berbaris perkelas, kemudian menutup mata mereka dengan kain dan memutar tubuh mereka sebanyak lima kali.
Hal itu membuat para mahasiswa sempoyongan dan berjalan ke sembarang arah.
Fiona kehilangan Jaehyun. Karena jarak barisan antara kelas mereka lumayan jauh.
Kini ia hanya bisa pasrah dan menunggu seseorang untuk meraih tangannya.
Peluit pun ditiup.
Tepat saat itu juga, seseorang meraih
tangan Fiona kemudian mengenggamnya dengan erat.
Darah Fiona terasa berdesir. Apalagi dengan mata yang tertutup, ia hanya bisa merasakan betapa hangatnya tangan orang itu.
Namun mereka berdua hanya diam sampai para panitia mengarahkan mereka ke rute jurit malam.
Setelah beberapa saat Fiona berjalan dengan bergandengan tangan, terdengar suara peluit yang mengartikan mereka sudah masuk ke rute dan diperbolehkan membuka kain penutup mata.
Fiona membuka kain penutup matanya dengan tangan kiri. Karena tangan kanannya masih digenggam erat oleh pasangannya.
"Lo-
Fiona terkejut melihat orang itu tersenyum miring ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ISLAND •NCT•
AdventureFiona terdampar di pulau asing dan bertemu dengan beberapa pria aneh. Akankah ia selamat? Atau- ada kemungkinan lain?
