44. Heartbeat

427 72 0
                                        

Seminggu kemudian.

Fiona turun dari mobil kun.

Akhirnya ia diijinkan pergi ke kampus lagi, setelah dikurung di dalam kamar selama seminggu oleh kakaknya itu.

"Belajar yang baik." kata Kun dengan tatapan datarnya dari balik kaca mobil.

Fiona mengangguk dan segera melangkahkan kakinya memasuki kampus untuk menuju ke kelas.

Fiona terperanjat kaget melihat Jeno kini sedang berdiri di dekat jendela kelas Fiona.

Lelaki itu langsung berlari menghampiri Fiona dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.

"Fio, kamu udah diijinin ke kampus sama kak Kun?" tanya Jeno sambil hendak memeluk Fiona.

Namun, buru-buru Fiona menepis tangan Jeno dan membuat buku-buku yang dipegang Fiona berjatuhan di lantai.

Jeno terkejut melihat sikap Fiona yang tidak biasa.

"Aku ada salah?" tanya Jeno lagi. Kali ini ia mencoba memegang tangan Fiona. Tetapi lagi-lagi Fiona memundurkan badannya, seperti menghindar dari Jeno.

"Fiona, are you okay?" kata Jeno khawatir.

"Aku khawatir karena selama seminggu terakhir ini kamu gak ke kampus. Hp kamu gak aktif. Bahkan aku sempet ke rumah kamu, dan kak Kun gak ngijinin aku masuk."

Jeno menatap Fiona dengan mata sedihnya.

Namun Fiona mengalihkan pandangannya dan memungut buku-buku yang berserakan di lantai.

"Jeno, maaf. Aku mau ke kelas dulu."

Fiona melewati Jeno dan berjalan menuju kelasnya.

Fiona merasa jijik bertemu pembohong seperti Jeno.

Bertahun-tahun lamanya, Jeno cukup baik dalam memainkan peran orang romantis dan setia, hingga Fiona tidak  nenyadari kalau Jeno ternyata adalah adik dari Kun, serigala yang telah membunuh kedua orang tua Fiona.

Dirinya cukup terpukul menerima semua kenyataan yang diceritakan oleh Jaehyun.

Namun atas saran Jaehyun juga, Fiona harus berpura-pura tidak tau akan semua hal itu.

Mereka harus menyusun rencana untuk melawan Kun dan Jeno.

Namun Fiona tidak kuat menahan rasa amarahnya saat melihat wajah Jeno sepagi ini.

Fiona berharap dirinya tidak membuat Jeno curiga dan mengacaukan rencana Jaehyun.

"Fiona, kamu terlambat?" tanya pak Simon pada Fiona yang baru saja memasuki ruang kelas.

"Sudah sembuh? Katanya kamu seminggu ini sakit." katanya lagi sambil membenarkan letak kaca matanya.

"Sudah pak. Maaf saya terlambat."sahut Fiona dengan sopan.

"Tidak apa-apa. Silahkan, duduk di sana."

Pak Simon menunjuk satu tempat duduk yang masih kosong di belakang.

Fiona mengangguk dan segera menuju ke kursi belakang, yang ternyata di sebelah-

Doyoung.

Ya, bad boy campus yang tersesat bersamanya di acara jurit malam saat acara camping di hutan.

Doyoung menatap Fiona dengan canggung, begitu pula sebaliknya.

Mungkin karena insiden Fiona mencium bibir Doyoung malam itu.

Ah, Fiona dan Doyoung malah kembali teringat dengan kejadian malam itu. Padahal pak Simon sedang sibuk menjelaskan di depan.

Mereka berdua masih duduk dengan canggung dan terdiam.

Hingga pada akhirnya, Doyoung lah yang memulai percakapan.

"Lo udah baikan?" tanya Doyoung setengah berbisik, sambil menulis kata-kata yang diucapkan sang ayah di depan.

"Udah. Gue gapapa." sahut Fiona sedikit gugup.

Doyoung mengangguk.

Lagi-lagi, mereka hening. Sambil berpura-pura sibuk menulis materi.

"Bisa gue minta penjelasan?" tanya Doyoung menoleh ke arah Fiona, dan membuat pipi gadis itu terasa memanas.

"Pen-je-la las an apa?" sahut Fiona dengan benar-benar ketahuan kalau dirinya gugup.

Doyoung mengalihkan pandangannya, takut kalau dirinya ikut gugup.

"Ciuman. Kenapa lo cium gue?" tanya Doyoung sambil kembali menatap Fiona, membuat jantung mereka berdua berdegup kencang.

"Itu-

Fiona tiba-tiba merasa sulit menjelaskannya pada Doyoung.

"Gue-

"Gue- gak tau."

Fiona langsung menidurkan kepalanya di atas meja dan membelakangi Doyoung. Dirinya merasa tidak sanggup lama-lama bersama lekaki itu.

Jantungnya terasa seperti mau keluar, dan perutnya seperti diterbangi ratusan kupu-kupu.

Gadis itu memukul dada dan perutnya sendiri.

"Fiona, lo gapapa? Lo sakit lagi?" tanya Doyoung panik dan menguncang bahu Fiona.

Fiona menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan, sampai berkali-kali. Ia takut menoleh ke arah Doyoung.

"Gue lapor ke papa ya." kata Doyoung yang membuat Fiona reflek terbangun dan bertatapan dengan mata indah Doyoung.

Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.

"Fiona-

"Lo cantik banget." lirih Doyoung tanpa sadar.

THE ISLAND •NCT•Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang