"Akh.."
Doyoung meringis kesakitan saat sebuah spidol melayang mengenai pelipisnya.
"Doyoung, bisa kamu kerjakan soal di depan?" kata Pak Simon tegas sambil menunjuk Doyoung.
Doyoung mengusap pelipisnya, kemudian berdiri dan menuju papan di samping Pak Simon.
Sementara Fiona hanya menunduk dan berpura-pura mencatat soal yang diberikan oleh pak Simon.
Namun pikirannya melayang entah kemana. Ia menjadi salah tingkah, jika berada di dekat Doyoung.
🍒
"Jaehyun, lo masih belum bisa mastiin identitas anak pak Simon?" tanya Fiona pada Jaehyun.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang kesehatan. Karena Jaehyun berpura-pura sakit kepala supaya tidak mengikuti kelas.
Dia sudah bosan, karena kuliah berkali-kali dan wisuda berkali-kali.
Dia bahkan sudah hampir mencicipi semua kampus di dunia ini.
"Gue belum tau pasti sih, Fiona. Tapi Doyoung itu emang anaknya pak Simon, dia manusia biasa." sahut Jaehyun sambil menaikkan kedua kakinya di ujung ranjang, dengan kedua tangan di lipat di belakang kepala.
"Tapi gue ngerasa aneh aja tiap deket dia. Gue ngerasa punya ikatan sama Doyoung." kata Fiona dengan nada bicara yang terdengar semangat.
"Lo suka ya sama Doyoung?" tanya Jaehyun tiba-tiba.
"Apa? Gue? Suka sama bad boy macem dia?"
Fiona mengelak tuduhan Jaehyun dengan caranya sendiri.
"Ya jelas, sudah pasti." sahut Jaehyun melanjutkan ucapan Fiona.
"Gila lo!"
Fiona memukul kepala Jaehyun dengan tangan kanannya.
"Btw lo ngapain ke sini? Gak takut ketahuan Jeno?"
"Jeno kayaknya sibuk persiapan acara pameran seni deh."
"Sok-sokan jadi anak seni. Dasar serigala berbulu domba."
"Tapi Jeno tau kan kalau lo juga anak kampus sini?"
Jaehyun mengangguk.
"Dia sebenernya tau, tapi berlagak pura-pura gak tau. Dia pengen keliatan seperti manusia biasa, dan malas mencari gara-gara."
"Tapi kan dia adiknya Kun."
"Ya emang Kun yang nyuruh dia kok, untuk hidup kayak manusia biasa."
"Tapi kan tetep aja, dia udah bohongin gue!"
"Ya kenapa lo marah ke gue?"
Jaehyun menarik rambut Fiona
Tentu saja Fiona mebalas dengan menarik rambut Jaehyun juga.
Kenapa mereka jadi jambak-jambakan?
"Ehem!"
Mereka berdua sontak berhenti ketika mendengar seseorang memasuki ruang kesehatan.
"Fiona, gue mau ngomong sama lo."
Doyoung menatap Fiona intens, dari pintu ruang kesehatan.
Jaehyun tersenyum kecut melihat Fiona yang kini memasang wajah kaku dan canggung saat mendengar suara Doyoung.
"Maaf Doyoung, gue sibuk." sahut Fiona sambil mengalihkan pandangannya dari Doyoung.
"Bentar doang kok. Kak, pinjam Fiona bentar ya."
Doyoung meminta ijin dengan sopan pada Jaehyun, karena dia tau Jaehyun adalah kakak tingkat yang sangat populer di kampus.
"Eh- tapi Fiona
Ucapan Jaehyun terpotong karena Fiona kini sudah ditarik oleh Doyoung keluar ruangan.
Huh, Doyoung ini dan Doyoung itu ternyata sama saja.
Apakah mereka bertiga akan mengalami takdir seperti itu lagi?
Jaehyun menggaruk kepalanya, merasakan kekalahan di ujung mata.
Sementara itu, Doyoung dan Fiona kini tengah saling menatap di balkon gedung kesenian.
Angin yang begitu kencang membuat mereka berdua berdiri terhuyung, dengan rambut yang berantakan.
"Fiona, bisa jawab pertanyaan gue tadi di kelas?" kata Doyoung setengah berteriak, tak mau kalah dengan suara angin.
"Kenapa emangnya?" tanya Fiona dengan jantung yang berdegup dengan amat sangat kencang.
"Lo tanya kenapa? Lo tanya balik ke gue?" tanya Doyoung tak percaya, kenapa gadis itu sangat susah memberinya alasan.
"Doyoung, maaf gue udah cium lo waktu itu. Gue ngira lo Doyoung yang gue kenal. " sahut Fiona yang setengah berteriak juga, padahal dalam hati ia merasa malu.
Apakah Doyoung benar-benar tidak terima kalau dirinya sudah dicium Fiona?
Huh.
Malu sekali.
Rasanya ingin melompat dari gedung.
"Doyoung siapa? Mirip banget sama gue?" tanya Doyoung sambil mendekat ke arah Fiona.
Fiona mengangguk.
"Iya, kalian mirip. Maafin gue Doyoung. Gue salah banget udah cium lo."
"Kenapa lo minta maaf? Lo gak salah Fiona. Gue cuma pengen tau alasan lo doang. Soalnya lo keliatan sedih banget waktu itu."
"Maaf Doy." sahut Fiona sedih.
"Fiona, gapapa. Liat gue."
Doyoung memegang kedua bahu gadis itu. Entah kenapa dirinya juga merasakan kesedihan Fiona, sama seperti malam itu.
Doyoung merasakan sakit di dada kirinya.
"Apa lo cinta sama orang itu?" tanya Doyoung pelan.
"Iya, gue cinta sama dia. Dia orang yang paling gue cinta sampai kapanpun. Walaupun gue gak akan pernah ketemu dia lagi." isak gadis itu.
Fiona menatap pria yang kini tengah melihatnya dengan mata penuh kesedihan.
Mereka benar-benar mirip.
Doyoung di pulau itu, dengan Doyoung yang kini tengah menatapnya sangatlah mirip.
Mata indah mereka terlihat sama.
"Fiona, mulai saat ini lo boleh anggap gue orang itu."
"Tapi kenapa?"
"Gatau kenapa gue gak suka liat lo sedih. Gue gak suka liat lo nangis. Gue- dada gue sakit liat lo kayak gini, Fiona."
Doyoung mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis cantik itu, ia merasa ini adalah jalan keluar dan jawaban atas semua keresahannya selama ini.
Atas semua perasaan tak karuan Doyoung ketika melihat Fiona, dan atas semua kesedihan yang ikut dirasakan Doyoung saat melihat air mata Fiona mengalir.
"Walaupun gue gak bisa jadi dia, gue bakal berusaha. Gue gak akan bikin lo nangis lagi. Gue janji."
"Tapi Doy-
cup
Fiona terbelalak kaget karena merasakan bibir Doyoung kini tengah menyentuh bibirnya.
Tak hanya menyentuhnya, Doyoung juga melumat bibir Fiona dengan intens, membuat Fiona semakin terkejut.
Bahkan, ciuman itu terasa sama.
Air mata Fiona kembali mengalir.
Ia rindu.
Pada Doyoungnya.
"Apa lo perlu alasan juga, kenapa gue cium lo?" tanya Doyoung setelah melepas ciumannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ISLAND •NCT•
PertualanganFiona terdampar di pulau asing dan bertemu dengan beberapa pria aneh. Akankah ia selamat? Atau- ada kemungkinan lain?
