Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°°°°°°°°
"Fiona, are you okay?"
Doyoung melambaikan tangannya di depan wajah Fiona yang saat ini terlihat kebingungan.
"Ini sekolah kalian?" tanyanya sambil menunjuk sebuah gedung ke depan mereka.
Gedung tinggi yang terdiri dari beberapa bagian, dan ditumbuhi oleh rumput di sela-sela penyekat antar ruangan.
Lalu siapa saja yang sekolah disini?
"Come on Fiona, jangan ga asik gitu ah!" kata Haechan menarik tangan Fiona dan mengajaknya memasuki sekolah.
"TANGAN LO!" Jaehyun berteriak keras dan menendang punggung Haechan.
Haechan terpelanting keras dan terjatuh di samping kaki-
Mark Lee.
Pria kurus dengan rambut biru itu menatap dingin ke arah Haechan yang terbaring di dekat kakinya.
"Doyoung..." lirih Fiona ketakutan saat ia melihat Mark.
Doyoung langsung menghampiri Fiona dan mencengkram bahunya.
"Lo gapapa?" tanya Doyoung cemas.
"Harusnya lo tanya itu ke gue Doy." sahut Haechan, merangkak bangun.
"Dia juga sekolah disini?" bisik Fiona setengah bergetar.
Doyoung mengangguk, dan mengusap rambut Fiona.
Sedangkan Mark Lee menatap Fiona dengan tajam, kemudian pergi ke arah Ten dan Yuta yang sudah menunggu di depan lapangan basket.
"Gapapa Fiona. Kalau lo gasuka, kita bisa balik sekarang." sahut Doyoung menenangkan gadis cantik itu.
Tapi Jaehyun langsung menarik Fiona dan memeluknya.
"Tenang Fiona. Kamu aman kalau sama kita. Kita keliling dulu yuk, biar kamu tau suasana disini." kata Jaehyun sambil mengandeng tangan Fiona, dan berlalu meninggalkan mereka.
"Tumben gue liat dia kek gitu." kata Johnny yang menyusul Jaehyun dan Fiona.
"Bangun Chan. Sampe kapan lo merangkak kek bayi di sana?! " teriak Taeyong dengan wajah datarnya.
"Huaaaaaa..." teriak Haechan tak kalah hebohnya.
"Duh kebiasaan." Jungwoo menarik tangan Haechan dan memapahnya, dibarengi Taeil yang memegang tas Haechan dari belakang.
Dari lapangan basket, Yuta tersenyum miring ke arah mereka.
Ia bisa menebak apa yang akan terjadi pada gadis malang itu.
"Mark, sampe kapan lo drible bola? Sampe bolanya hancur?"
Ten merebut bola bakset dari tangan sang adik, yang terlihat seperti orang kerasukan.
"Sialan sialan sialan!" teriak Mark menendang tempat sampah di samping Yuta.
"Mark, lo jangan ikut campur sama urusan mereka." kata Yuta menarik tangan Mark, menyuruhnya duduk.
"Yut, kalau tuh cewek mati gimana? Sialan Yut, dia yang gue liat waktu di pantai." kata Mark frustasi.
"Mark, udah pasti dia bakal mati. Mending kita ga usah urusin mereka." sahut Ten menepuk pundak Mark.
"Tapi Ten, kenapa mereka bawa gadis itu ke sekolah? Apa cuma ngulur waktu doang?" tanya Yuta
"I see. Mereka kayaknya mau bersenang-senang dulu. Bulan purnama kan masih panjang." kata Ten yang bisa menebak pikiran mereka.
"Sial."
Mark lagi-lagi menendang tempat sampah di sampingnya.
Ia kesal karena gadis itu jatuh ke orang-orang yang salah. Harusnya Mark kemarin mencari lebih teliti lagi di pantai, tapi ia malah pergi begitu saja.