Doyoung berdiri di depan ruang kesehatan dengan wajah kesal.
Kenapa hujan harus turun saat dirinya ke kampus dengan membawa motor?
Lalu bagaimana caranya dia pulang sekarang? Ponselnya mati dan pasti pacarnya sudah menunggu Doyoung dari tadi di depan apartemennya.
Ah, ruang kelas kedap suara sialan. Doyoung tidak tau kalau hujan sudah turun saat ia mengikuti kelas ayahnya selama sejam.
Ya Tuhan, Doyoung benci hujan. Benci mencium aroma tanah basah yang dijatuhi air hujan.
"Sialan." gumam Doyoung sambil menghirup rokok eletriknya.
"Doyoung, belum pulang?"
Doyoung menoleh ke arah sumber suara, ia melihat gadis yang tadi sore duduk di sampingnya saat di kelas.
Bukannya tadi gadis itu sudah pulang duluan? Kenapa masih ada di kampus?
Doyoung hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Gue duluan ya." kata Fiona membuka payungnya dan berjalan ke arah gerbang kampus.
Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepala Doyoung.
Brak
"Akh...."
Fiona terjatuh karena di dorong oleh Doyoung, dan parahnya lagi Doyoung merebut payung Fiona kemudian berlari ke arah gerbang kampus.
Doyoung sempat menoleh ke arah Fiona dan mengacungkan jari tengah.
Setelah itu ia menyetop taksi yang lewat di depan kampus.
"Kenapa dia-
Fiona shock melihat kelakuan Doyoung yang benar-benar kurang ajar menurutnya. Bukannkah itu termasuk pencurian dan penyerangan?
Ternyata Fiona salah menilai Doyoung.
Mulai besok dirinya harus menjauh dari laki-laki itu.
Fiona mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelpon pacarnya.
"Halo Jeno, bisa bawa mobilnya kesini gak? Payungnya hilang." kata Fiona setengah menangis.
"Fio, kamu gapapa kan? Kamu nangis? Yaudah aku kesana sekarang. Tunggu 30 detik."
Jeno menutup telponnya dan menjemput Fiona di depan ruang kesehatan. Tadinya dia disuruh menunggu di parkiran, karena Fiona sudah membawa payung.
Namun saat ini, Fiona malah membuatnya khawatir.
Tak lama kemudian Jeno muncul dan turun dari mobil, dan menghampiri Fiona yang sedang meniup lututnya.
"Kamu jatuh?" Jeno melihat lutut Fiona yang sedikit lecet.
"Iya, kesandung." sahut Fiona.
"Hati-hati dong Fio, aku tetep nunggu kamu kok tadi di parkiran. Yaudah, kita pulang ya."
Jeno menutupi setengah kepala Fiona dengan jaketnya, kemudian menggendong pacarnya itu dan membawanya ke mobil.
Namun saat berada di dalam mobil, Fiona hanya diam saja sambil menatap keluar jendela.
"Fio, sakit banget?" tanya Jeno membelai rambut Fiona dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk menyetir.
"Gak kok Jeno. Maaf bikin kamu khawatir."
"Gapapa kok sayang. Nanti aku obatin ya lukanya." kata Jeno menenangkan Fiona.
Fiona hanya mengangguk dan kembali menatap ke luar jendela mobil.
Namun saat berada di lampu merah
pertama, ia melihat Doyoung dikeroyok habis-habisan oleh lima orang pria yang berbadan dua kali lebih besar darinya.
"Jeno-
"Kenapa Fio?"
Jeno melajukan mobilnya karena lampu hijau sudah menyala di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ISLAND •NCT•
AdventureFiona terdampar di pulau asing dan bertemu dengan beberapa pria aneh. Akankah ia selamat? Atau- ada kemungkinan lain?
