"Lo-
Fiona terkejut melihat Doyoung memegang tangannya dengan erat.
Doyoung mengarahkan senter ke wajah Fiona dan membuat gadis itu berteriak karena silau.
"Gila lo!" teriak Fiona berusaha melepaskan tangannya dari Doyoung.
Namun Doyoung malah semakin erat memegang tangan Fiona, dan menarik gadis itu agar berjalan ke depan bersamanya.
"Pelan-pelan dong!" bentak Fiona mengikuti Doyoung secara terpaksa.
"Diem! Ntar dimakan serigala baru tau rasa." sahut Doyoung dingin.
"Kenapa gue bisa sama lo sih?!" gerutu Fiona kesal.
"Ya mana gue tau. Kan dipilih acak."
Fiona hanya diam. Malas berdebat dengan si bad boy campus.
"Nama lo siapa?" tanya Doyoung tiba-tiba.
"Bukannya kita sering ketemu di kelas ya?" kata Fiona yang merasa aneh. Apa Doyoung benar-benar tidak tau namanya? Padahal Dosen seringkali memanggil Fiona.
"Tapi gue kan di kelas, tidur."
"Iya juga sih."
"Terus nama lo siapa?"
"Fiona."
Doyoung menghentikan langkahnya, membuat Fiona menabrak punggung laki-laki itu.
"Fiona?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Nama lo- bagus." lirih Doyoung sambil menoleh ke arah Fiona.
Ia menatap wajah gadis itu.
Di bawah sinar bulan purnama, Doyoung bisa melihat betapa cantiknya wajah Fiona.
Fiona membuat jantung Doyoung berdetak cepat, dan kupu-kupu terasa berterbangan di perutnya.
Bahkan, Fiona lebih menarik dibandingkan pacar Doyoung.
Hal itu membuat Doyoung semakin erat memegang tangan Fiona.
"Ada yang salah?" tanya Fiona takut.
Doyoung menggeleng. Ia kembali menarik tangan Fiona agar mereka berjalan berdampingan.
"Hati-hati. Jalannya licin." kata Doyoung memperingatkan.
"Eh liat! Bintangnya banyak banget."
Fiona menunjuk kagum gugusan bintang di langit, yang terlihat melalui sela-sela pohon.
Doyoung melihat ke atas dan ikut memandang kagum pemandangan indah itu.
Ia merasa, pernah melakukan hal ini bersama gadis disampingnya, yaitu Fiona.
Tetapi Doyoung tidak tau, dimana dan kapan mereka pernah bersama sebelumnya.
Doyoung merasa mereka berdua terikat dalam sebuah takdir, sejak pertama kali Doyoung melihat gadis itu di kelas.
"Aneh ya, gue sering banget kek ngalamin de javu." kata Fiona tiba-tiba.
"Gue sering banget ngerasa udah pernah kenal sama orang yang padahal baru gue liat. Bahkan sekarang, gue juga kayak ngerasa akrab sama suasana ini. " katanya lagi sambil berjalan perlahan di sisi Doyoung.
Doyoung hanya terdiam. Dirinya tak tau harus menjawab apa. Karena gadis itu ternyata merasakan hal yang sama dengannya.
"Fiona, masalah payung waktu itu gue minta maaf ya." kata Doyoung menoleh Fiona.
"Gue masih marah ya, lo gak sopan banget waktu itu."
"Ya maaf Fiona. Hari itu gue harus pulang banget."
"Tapi kenapa lo malah ganti payung gue?"
"Udah gue bilang kan. Payung lo jelek. Udah bagus gue ganti pakek yang lebih bagus dan mahal."
"Pamer banget."
Doyoung tertawa mendengar ucapan Fiona.
"Lo tambah serem tau, kalau ketawa."
"Ya udah, gue nangis aja. "
"Ih, jangan! Lebih serem tau."
"Salah terus ya gue."
Fiona hanya mencubit tangan Doyoung sebagai gantinya.
"Eh, ini kenapa jatuh gini tandanya? Kita harus kemana?"
Fiona mengambil tanda panah yang terjatuh di dedaunan, dan menatap Doyoung dengan bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ISLAND •NCT•
AdventureFiona terdampar di pulau asing dan bertemu dengan beberapa pria aneh. Akankah ia selamat? Atau- ada kemungkinan lain?
