Yess,aku hadirkembalii dengan Reno yg gemessnya bikin najis. Tpi gk tau knpa, tetep nagih hahahaa
Yuklah, kita liat lgi kali ini dia bikin ulah apa wkwkwkk
Happy reading ...
Setelah hari itu, hubungan Lana dan Reno menjadi kian dingin.
Reno mendiamkannya.
Tak lagi sibuk menghubunginya.
Bila biasanya, Reno rajin mengomeli Lana mengenai banyak hal. Maka seminggu ini, Reno hanya diam. Walau setiap pagi, Reno masih mengiriminya pesan untuk menanyakan menu sarapan apa yang ingin ia makan, namun Lana tahu pemuda itu masih memendam kekesalan untuknya.
Demi Tuhan, Lana pun menyesal dengan sikap menyebalkannya hari itu.
Bagaimana mungkin, ia bisa membesarkan cemburu, padahal ia jelas-jelas tahu tak ada seujung kuku pun Reno menaruh perasaan padanya?
Bagaimana mungkin, ia bisa bersikap tak tahu diri?
Kesediaan pemuda itu untuk menikahinya, hanya karena keterpaksaan keadaan. Kehamilan inilah yang membuat Reno mau tak mau harus terlibat dengannya.
"Lan, lo serius mau cuti kuliah?"
Pertanyaan itu, kontan menyadarkan Lana yang sedari tadi terfokus pada Reno dan rasa bersalahnya. Ia mengerjap dua kali, demi mengembalikan atensi. Saat ini, ia berada di kantin jurusan. Tengah mengisi perut dengan keadaan yang kadang kala teramat menyiksa.
Apalagi bila bukan aroma-aroma makanan lain yang menyengat indra. Ditambah parfum-parfum beraneka. Tetapi, Lana mencoba terus menyugesti pikirannya. Ia harus makan demi bayi-bayinya. Karena sekarang ini, tak ada lagi Moreno yang cerewet menghubunginya.
Dan hal itu, tentu saja karena dirinya sendiri.
Tertunduk sembari mengelus perut, Lana kembali menyeruput minumannya. Jus manga tanpa gula selalu menjadi pilihannya demi menetralkan rasa mual.
"Lan?"
"Iya, Del? Sori, gue nggak fokus," ia meringis kecil. "Lo nanya apa tadi?"
Lana tak memiliki banyak teman di kampus. Awalnya, ia memang bukanlah gadis yang tertutup. Namun kehamilan ini, membuat Lana mau tak mau menjaga jarak dari teman-teman kampusnya.
Adel adalah salah satu dari sedikitnya teman yang Lana miliki. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Tetapi, Lana cukup bersyukur Adel mau menemaninya akhir-akhir ini. Di tengah makin bisingnya kabar mengenai kehamilannya yang santer diberitakan.
"Gue nanya, lo beneran mau cuti kuliah?"
Oh, kabar itu, ya?
Ya, tentu saja benar.
Lana memang harus mengajukan cuti.
Inginnya sih, setelah semester ini usai. Namun, bila ia berkeras, kehamilannya tentu tak akan bisa ditutupi lagi.
"Emangnya lo kenapa harus cuti sih, Lan? Bukannya bokap lo PNS, ya? Lo anak terakhir juga 'kan? Nggak mungkin karena biaya 'kan, Lan?"
Awalnya, memang bukan karena biaya. Tetapi kelak, tentu saja masalah biaya kuliah bisa menjadi judul mengapa ia tak bisa menamatkan pendidikannya.
Karena setelah menikah nanti, seluruh hidup Lana tidak lagi menjadi tanggung jawab orangtuanya. Ia akan bergantung pada suaminya. Tetapi kenyataannya, suaminya pun masih berstatus sebagai mahasiswa. Lalu, bagaimana nasib mereka?
Well, seminggu dari sekarang ia akan menikah.
Namun rasanya, Lana justru ingin lari entah ke mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Partner
ChickLitMenjadi pengagum yang tersembunyi, Kalanaya Zavira akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu satu malam bersama Moreno. Dari sebuah website rahasia yang dikelola oleh senior kampus, Lana memperoleh undangan yang ia idam-idamkan. Dan M...
