- 32 -

4.6K 409 43
                                        

Enraged of being fooled

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Enraged of being fooled.

Pagi itu Alaric terbangun lebih siang dari biasanya, semalam ia baru kembali lewat dari tengah malam, melanggar janjinya pada Gwen untuk pulang lebih cepat. Gwen tidak marah, hanya saja Alaric sendiri cukup kecewa karena ia juga butuh waktu bersama istrinya. Tangan Alaric terulur ke sisi kasur milik istrinya dan ternyata sudah kosong, yang tersisa hanyalah aroma lembut bunga mawar di bantalnya.

"Oh, ia pasti sudah pergi ke kapel."

Alaric bangkit dan berjalan ke jendela. Sinar Matahari terlihat lebih terang dari hari sebelumnya, melelehkan salju yang menutupi jalan dan dahan pohon. Kemarin ia tidak sempat berbicara pada anggota pemerintahan karena ada sekelompok orang yang berusaha memasuki celah di perbukitan. Alaric bisa saja meminta para ksatria untuk membawa mereka ke istana, tapi ia lebih memilih menghampiri mereka untuk melihat langsung. Ternyata, mereka hanya satu keluarga yang berjalan dari gunung karena kehabisan bahan makanan, Alaric memutuskan membawa mereka ke barak untuk merawat mereka sampai udara dingin benar - benar naik di pegunungan.

tok! tok!

Terdengar ketukan di pintu. "Sir Finn is here to see you." Ujar penjaga yang berdiri di depan pintu.

Saat Alaric membuka pintu, terlihat wajah sahabatnya yang muncul dengan wajah serius. "Yang Mulia, aku harus bicara denganmu."

Alaric mengerutkan keningnya karena bingung, lalu menggerakkan kepalanya ke arah ruang baca di sebrang kamarnya. Saat keduanya sudah masuk, Alaric mengunci ruangan itu.

"Ada apa?"

"Kemarin aku tinggal bersama para penasihat pemerintahan saat kau pergi."

"Oh ya? Apa mereka sudah memutuskan akan kemana?"

Finn menggelengkan kepalanya, "Belum, tapi ada sesuatu yang sedikit mengganjal." Finn memelankan suaranya, "Kau ingat saat kau memintaku untuk mencari tau dari mana Gwen berasal?"

"Ya?"

"Mata - mata Tuan Hans mengatakan Raja Normandia punya seorang anak perempuan dari selirnya."

Alaric terdiam, sorot matanya tajam. "Apa lagi?"

"Anak perempuannya itu kini tidak terlihat lagi di istana."

Alaric mendenguskan tawa kecil, "Jadi raja Normandia benar - benar mati? Sayang sekali aku tak sempat membunuhnya dengan tanganku sendiri." Merasa sangat marah karena ia kehilangan kesempatan untuk menggorok leher keluarga yang sudah membantai keluarganya. "Siapa nama anak perempuannya?"

"Mata - Mata Tuan Hans tidak tau."

"Kapan tepatnya William meninggal?"

"Musim gugur lalu, beserta ketiga anak lelakinya dalam perjalanan laut."

Alaric seketika seakan merasakan pukulan hebat di ulu hatinya, musim gugur adalah awal perkenalannya dengan Gwen. Seketika kalimat - kalimat yang pernah diucapkan Gwen terngiang di dalam kepalanya. Nama ayahnya dan nama kakak laki - laki yang paling dekat dengannya.

Yours, Truly.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang