- 36 -

5.4K 434 43
                                        

Ada rasa sesak di dada Gwen saat Alaric menyebutnya anak haram

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada rasa sesak di dada Gwen saat Alaric menyebutnya anak haram. Dari semua orang yang ada di hidupnya, ia tak menyangka hinaan itu akan datang dari bibir orang yang paling ia sayang. Lelaki yang ia anggao sebagai tempat berlindung kini juga menghakiminya.

Jatungnya berdegup cepat, seirama dengan nafasnya yang tidak beraturan, dadanya samai terasa sakit karena berafas terlalu cepat.

"Gwen, kau mau kemana?"

Gwen terus melangkah, tak ingin membalas ucapan Alaric.

"Gwen!" bentak Alaric, suaranya menggema di lantai 3 kastilnya.

Gwen yang kaget langsung berhenti melangkah dan perlahan memutar tubuhnya menghadap Alaric yang hanya berjarak 2 anak tangga darinya. Membuat tinggi keduanya nyaris sama.

"Ada lagi yang ingin kau katakan Yang Mulia?" Ujar Gwen dengan suara tenang.

Alaric menatap ke dalam mata Gwen yang sudah basah oleh air mata, tapi bukan rasa puas yang muncul, Alaric malah ikut merasa sedih. Ia terdiam melihat Gwen yang terluka karena ucapannya.

"Jikg tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku permisi." Gwen menunduk pada Raja-nya dan berjalan memasuki kamarnya.

Alaric tak dapat menggerakkan kedua kakinya.

Sebelumnya, bersikap kasar pada Gwen terasa menyenangkan karena ia tidak tampak marah atau tersinggung. Tapi saat Alaric menyebut istrinya sebagai anak haram yang hanya mencari keuntungan, istrinya itu langsung diam seribu bahasa.

Kini, yang ada di hati Alaric bukan rasa puas melainkan penyesalan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar suara tangis istrinya, isakan beratnya dan suara rendahnya yang terdengar menyedihkan.

Ratusan orang sudah ia bunuh, tak pernah ia merasa sekejam ini.

Alaric membalikkan tubuhnya dan menunduk menuruni tangga. Menjauhi suara rintihan Gwen yang terdengar menyakitkan. Di ujung anak tangga terbawah ia melihat Amè memandanginya, bisa membaca ekspresi Alaric semudah membalik telapak tangan.

"Kupikir, selama ini kau berhasil menjaga sikapmu karena kalian terlihat baik - baik saja. Ternyata aku salah, selama ini justru Guinevere yang berhasil menjaga sikapnya bukan?" Ujar Amè saat Alaric mencapai anak tangga terbawah.

"Jangan mencoba menyudutkanku, gadis itu sudah membohongiku." serang Alaric, mencoba membela diri.

"Aku tau, sekarang kau sudah tau semuanya kan? Mengapa tak kau cabut pedang kebanggaanmu itu dan hunuskan ke dadanya. Atau penggal kepalanya seperti yang mereka lakukan pada keluargamu."

Alaric terkesiap oleh rasa ngeri, tak mampu menjawab itu, ia bahkan tak sanggup membayangkannya tubuh Gwen terpisah dengan kepalanya.

Amè mengambil satu langkah mendekat pada anak asuhnya itu. "Lakukanlah..."

Yours, Truly.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang