LIMA BELAS

895 105 3
                                        

Gigi sedang menikmati makan siang, di kantor. Garis bawahi, di kantor. Demi menghindari sakit hati, Gigi sampai rajin bawa bekal. Menghindari Shaka dan Edgar. Entah mengapa dua laki-laki tersebut adalah yang harus Gigi hindari. Demi melindungi perasaannya, Gigi tak apalah bawa bekel. Suara langkah kaki, sepertinya para karyawan dari kantin sudah berdatangan. Padahal, biasanya mereka menunggu semenit lagi masuk, baru pada keluar kantin. Ini tumbenan sudah ada yang balik ke ruangan. Derap langkah kaki makin mendekat, dan Gigi tidak peduli. Gigi menoleh ketika melihat ada yakult, sudah terletak di meja. Lalu menoleh ke arah depan, melihat siapa gerangan yang kurang kerjaan.

Edgar?

Sejak kapan manusia sejenis Edgar mau-maunya belikan Gigi yakult?. Sekali lagi, Gigi melihat minuman tersebut. Lalu menoleh ke ruangan Edgar. Tampaknya Edgar sedang meriksa dokumen-dokumen. Daripada mubazir, mending Gigi minum. Dengan pelan dan baca bismillah, Gigi meminumnya.

"Ngasih cuma satu, kayak nggak niat." Gerutu Gigi dengan matanya menatap ruangan Edgar. Entahlah, Gigi merasa aneh saja ada Edgar di sekitarnya. Apalagi ruangan Edgar berkaca semua, jelas para karyawan bisa melihatnya.

"Kapan keluarnya, lo?" Suara Acong membuyarkan lamunan Gigi. Senang banget Acong bikin Gigi kesal.

"Hah?" Acong sudah duduk di kursi kerjanya, pun dengan sarah dan Dimas.

"Tuh minuman. Gue nggak liat lo, beli."

"Bawa dari rumah, Cong."

"Terniat sekali ibu Gigi." Sela Dimas penuh ejekan ke arah Gigi.

"Kalau sudah niat, jangan tanggung-tanggung, Dim." Semuanya tertawa kecil. "Telpon lo bunyi, Cong."

Acong mengangkat telpon tersbeut, alisnya naik turun. Ketiga sahabatnya tidak melihat wajah Acong yang pucat. Lagi dan lagi Acong harus masuk ruangan bos. Acong berdiri, merapikan kemrja yang ia kenakan.

"Mana?" Sarah menyadari Acong sibuk sendiri. Benerin kemeja, rambut di rapikan.

"Ruangan pak Edgar, bay." Acong berjalan, memasuki ruangan bos, dan ketiga manusia yang menyandang sahabat Acong, melongo tak percaya. Memang, akhir-akhir ini Acong lebih banyak dengan Edgar. Kadang jarang bisa kumpul bareng kayak dulu.

"Jadwal saya hari ini, apa?"

"Ketemu mbak Seira, untuk kontrak produk perusahaan." Kepala Edgar mengangguk, sembari tangannya memainkan ponsel. Acong duduk di sofa ruangan Edgar. "Malamnya ada pertemuan Direktur dari perusahaan tambang emas."

"Oke." Acong menutup agenda yang sering ia bawa. Sekarang kemana-mana, Acong membawa jadwal atasannya. "Nu,"

"Iyah pak?"

"Gigi gimana?"

"Hah?" Otak Acong mendadak lemot, entah mengapa Acong seperti tengah di timpuk batu besar. "Oh anu, itu maaf, gimana pak?"

"Gigi."

"Rempong, bar-bar, berisik, tukang gibah, doyan makan."

"Doyan makan?" Kepala Acong mengangguk, senyuman di bibir Acong terbit tat kala tatapan Acong ke arah kursi Gigi. "Apa aja?"

"Makanan apapun, kecuali ikan."

"Oke, makasi."

"Ada lagi, pak?"

"Kalian sering jalan ke mana?" Hampir saja dagu Acong jatuh. Tangan Acong sedikit gemeteran, takut salah jawab. Ini kalau tiga manuisa tau, bisa heboh sekantor. "Nu?"

"Kalau hari biasa paling sering kumpul di kantin, makan sambil gibah."

"Hobby gibah?"

"Maaf, pak."

ANGGI MAHARANITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang